
Hasil tak mengkhianati usaha, katanya. Atau sering juga diucapkan dalam bentuk terbaliknya: usaha tak mengkhianati hasil. Kalimat yang sering muncul dalam momen-momen keberhasilan ini memang ada benarnya. Pada kasus dan sampai tingkat tertentu, memang ada hubungan sebab-akibat yang erat antara usaha dan hasil. Kalimat ini juga ada baiknya, sebab bisa memberikan dorongan yang diperlukan untuk memfokuskan kesungguh-sungguhan pada area yang tepat.
Tidak ada yang salah dengan menggunakan kalimat ini sebagai pegangan untuk membangun resiliensi dan menunda-nunda putus asa. Atau sebagai ungkapan kebahagiaan dan terima kasih pada diri sendiri yang telah berhasil menolak berhenti ketika peluang keberhasilan tipis sekali.
Tapi menganggapnya sebagai aturan main dengan derajat kebenaran yang penuh? Tentu tidak. Menganggap setiap kesuksesan maupun kegagalan semata-mata sebagai akibat atas usaha yang kita lakukan berisiko menjauhkan pandangan kita terhadap bagaimana dunia bekerja. Jika kita menggenggamnya terlalu kencang, kalimat yang mengandung sekian kebenaran dan kebaikan ini berpotensi menghalangi kita dari proses mengambil keputusan yang lebih baik, dan juga dari keadilan menilai keputusan orang lain.
Vraha
Dulu sekali, di hari-hari ketika saya merasa sangat kesulitan mengambil keputusan yang lumayan besar, saya mengalami sebuah mimpi yang sangat berkesan hingga hari ini. Di dalam mimpi itu, saya-sebagai-pengamat menyaksikan diri saya-sebagai-pelaku sedang berada di jalan sangat sempit yang tersusun dari batu-bata merah.
Lebar jalan itu bahkan hanya muat untuk satu kaki. Jika berhenti melangkah, besar kemungkinan saya-sebagai-pelaku kehilangan keseimbangan. Ketika itu terjadi, jatuh ke jurang di sisi kiri dan kanan yang tak terlihat dasarnya dan selesainya seluruh permainan adalah sebuah kepastian.
Tapi ketika diperhatikan baik-baik, saya-sebagai-pelaku tidak sendirian. Di sana, tampak sesosok raksasa yang terus berjaga di dekat saya yang diliputi rasa takut dan keraguan. Satu tangannya berada di belakang saya, menghalau sosok-sosok yang tampak berjalan terburu-buru. Tangannya yang lain berada di depan saya, memastikan jalan di depan aman untuk ditapaki. Semakin saya memperhatikan sosok itu, semakin jelas juga wujudnya.
Raksasa itu berbadan manusia dan berkepala babi hutan. Terdapat sisa-sisa noda lumpur yang telah mengering di seluruh tubuhnya. Celana panjangnya robek di beberapa bagian. Taringnya melengkung sangat panjang sampai-sampai hampir menusuk wajahnya sendiri. Matanya kecil tapi pandangannya begitu tajam. Ia tidak berbicara, tapi memberi isyarat untuk terus berjalan tanpa rasa takut dan khawatir yang terlalu besar.
Wajahnya mengerikan, memang, tapi tidak dengan pesan yang disampaikan. Sosok yang serupa dengan Vraha — avatar ketiga Dewa Wisnu — ini adalah pengingat bagi saya untuk tidak terus-terusan berada di bawah kuasa rasa takut ketika berjalan di dunia. Sebab meskipun ketidakpastian dan kekacauan selalu ada, bekal penjagaan dan perlindungan juga selalu ada. Bahkan hari-hari paling gelap pun tampak ajaib jika kita menghitung seluruh kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Apalagi dalam hari-hari yang biasa saja.
Raksasa Vraha juga menjadi pengingat bagi saya untuk cukup berani mengambil keputusan dengan pertimbangan-pertimbangan yang saya selidiki sendiri dan bersedia membayar seluruh ongkos termasuk risiko-risiko yang mungkin terjadi, tapi juga cukup hati-hati untuk tidak mempromosikannya sebagai keputusan terbaik untuk orang-orang di luar diri saya sendiri. Kita berangkat dengan layar dan mengalami perjumpaan dengan angin yang berbeda. Sangat berbeda, sehingga tidak masuk akal mengukur dan menakar keputusan-keputusan orang lain dengan mistar dan neraca yang saya punya.
Pesan berikutnya yang saya terima adalah untuk tidak sembrono mengeluarkan variabel penjagaan dan perlindungan dari setiap pencapaian serta variabel pengajaran dari setiap ‘jalan menurun’. Atas keberhasilan dan kegagalan yang terjadi, saya perlu belajar mewaspadai persentase usaha dan keberuntungan (baik yang bernilai positif maupun negatif) di dalamnya.
Usaha yang optimal belum tentu membawa kita pada hasil akhir yang menyenangkan, dan begitu pula sebaliknya. Hasil boleh mengkhianati usaha. Dan itu tidak apa-apa.
Belajar dari Poker
Tapi manusia memang punya kecenderungan untuk menyamakan kualitas keputusan yang diambilnya dengan kualitas hasil akhir yang terjadi di kemudian hari. Dalam poker, kecenderungan ini punya nama, yaitu resulting. Annie Duke — seorang juara poker profesional dengan latar belakang pendidikan cognitive psychology — menuliskan soal ini dalam bukunya, Thinking in Bets: Making Smarter Decisions When You Don’t Have All the Facts.
Resulting adalah pola berpikir rutin pada manusia, tampak baik-baik saja tapi sebenarnya menyimpan bahaya. Pola berpikir ini membuat kita menentukan kualitas keputusan-keputusan yang kita buat berdasarkankan hasil akhirnya, bukan berdasarkan kualitas proses pembuatannya. Keputusan yang baik adalah yang hasilnya sesuai harapan. Kita luput melihat satu faktor yang berperan sangat besar dalam kualitas hidup kita di samping kualitas keputusan yang kita ambil, yaitu keberuntungan dan ketidakberuntungan.
Mengemudi dalam kondisi mabuk dan berhasil selamat sampai di rumah, misalnya, adalah contoh sederhana bagaimana hasil akhir yang baik tidak selalu berasal dari keputusan yang baik. Berkendara tanpa memakai sabuk pengaman atau helm tapi toh aman-aman saja, merokok atau menolak semua vaksin dan tetap tidak sakit, adalah beberapa contoh lain.
Mendasarkan proses pembuatan keputusan berdasarkan hasil akhir sebelumnya yang terjadi semata-mata karena keberuntungan adalah resep menuju kehancuran, sebab begitu keberuntungan tidak terjadi lagi, kita akan terkejut menanggung konsekuensi yang seharusnya terjadi. Begitu pula sebaliknya, ketika kita menganggap keputusan kita buruk hanya karena hasil yang terjadi tidak sesuai harapan. Kita mengubah strategi yang sebenarnya sudah benar, sehingga kita justru salah langkah dalam jangka panjang.
Perilaku irasional bernama resulting ini muncul justru dari keberhasilan nenek moyang kita bertahan hidup di tengah dunia yang buas dan berbahaya. Otak kita berevolusi untuk membaca pola, menciptakan kepastian dan keteraturan di dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan kekacauan.
Ketika nenek moyang mendengar suara gemerisik di semak-semak, ada dua pilihan yang bisa diambil: menganggapnya sebagai suara angin atau menghubungkannya dengan kehadiran seekor singa. Jika faktanya suara itu memang berasal dari gerak-gerik singa dan nenek moyang kita mengambil pilihan pertama, konsekuensinya sangat besar yaitu kematian.
Sementara itu jika suara tadi ternyata memang berasal dari hembusan angin yang menggerakkan semak-semak dan nenek moyang kita mengambil pilihan kedua lalu lari menjauh, tidak ada konsekuensi berbahaya dari kesalahan ini. False negative menimbulkan konsekuensi yang sangat berbahaya terhadap kelangsungan hidup kita dibanding false positive, sehingga otak kita belajar untuk memilih yang kedua dibandingkan yang pertama. Tapi mengapa kita tidak menghindari keduanya? Sebab kapasitas untuk itu, yang secara fisik diwakili oleh prefrontal cortex, belum lama kita miliki.
Fenomena resulting ini sekaligus menunjukkan bahwa hanya karena sesuatu terbukti secara efisien menyelamatkan nyawa kita pada masa lalu, bukan berarti kita mesti terus menggunakannya hingga hari ini. Dunia bergerak, diri kita juga bergerak. Melestarikan pola berpikir yang memperbesar peluang kita untuk selamat dari terkaman singa ribuan tahun yang lalu mungkin akan menyeret kita ke jebakan-jebakan kognitif di masa sekarang — mengasumsikan korelasi sebagai kausalitas, atau melakukan cherry-picking demi mengkonfirmasi narasi yang lebih kita sukai.
Layar dan Arah Angin
Membebaskan diri sedikit demi sedikit dari belenggu resulting, melepas perlahan kemutlakan kalimat ‘hasil tidak mengkhianati usaha’ dalam pikiran kita, memang pekerjaan yang sulit sebab ini seperti berperang melawan sejarah panjang umat manusia. Tapi juga bukan berarti mustahil dilakukan. Thinking in Bets memberikan langkah-langkah kunci untuk dilakukan.
Langkah pertama adalah menyadari dan menerima kenyataan bahwa kualitas hidup kita dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kualitas keputusan dan keberuntungan. Bagaimana kita merancang, memilih bahan, menjahit, dan memasang layar adalah faktor yang berada dalam kendali kita. Tapi ada arah angin dan detail cuaca lainnya yang tidak kita kantongi kuncinya.
Kedua, berlatih untuk berpikir dalam probabilitas. Alih-alih menimbang suatu keputusan sebagai benar atau tidak, kita bisa berlatih menyematkan persentase keyakinan kita terhadap keputusan tersebut. Hidup seperti poker — selalu ada informasi yang tersembunyi. Menerima bahwa kita tidak sepenuhnya tahu adalah langkah penting. Mengkuantifikasikan ketidaktahuan itu adalah langkah penting berikutnya. Dan elemen inilah yang menentukan kualitas keputusan kita.
Ketiga, mencatat proses pengambilan keputusan sehingga ketika tiba saat untuk mengevaluasi, kita tidak terdistorsi oleh hasil akhir yang terjadi. Keempat, membentuk kelompok kecil yang berkomitmen untuk saling mengkritik proses berpikir dalam pembuatan keputusan satu sama lain, alih-alih berfokus pada hasil dari tiap keputusan.
Pada akhirnya, kita semua adalah ikan kecil yang terkatung-katung di samudera yang sangat luas dan asing. Mudah untuk merasa takut dan tidak berdaya, tapi mungkin kita hanya perlu terus berjalan dan berusaha menjadi sedikit lebih baik daripada kemarin. Dan sangat mungkin, kita tak pernah benar-benar melakukannya sendirian. []
