Mimpi Jam Dunia Pauli, yang oleh Jung disebut sebagai mandala tiga dimensi, berhasil membuktikan adanya collective unconscious. Simbol-simbol arkais ternyata bisa menghampiri siapapun, bahkan seorang fisikawan rasionalis garis keras yang sama sekali buta terhadap mistisisme. Sentakan yang ditimbulkan mimpi ‘besar’ semacam ini memang mampu membawa efek transformatif. Setidaknya, ia mampu menjadi pengingat adanya dimensi lain yang selama ini luput dari jangkauan pandang.
Namun pada tahun 1935, Jung membuat klaim yang kurang hati-hati terkait efek yang dibawa mimpi-mimpi Pauli. Dalam Psychology and Alchemy (paragraf 308), Jung menyebut bahwa mimpi itu memicu self-realization — sebuah proses integrasi pikiran sadar dan pikiran bawah sadar yang melahirkan keutuhan. Lebih berani lagi, dalam kuliah di Tavistock Clinic yang kemudian dibukukan dalam The Collected Works of C. G. Jung Volume 18, The Symbolic Life: Miscellaneous Writings (paragraf 405), Jung mengklaim secara eksplisit bahwa sang pasien telah berhasil sembuh dari adiksi alkohol dan berperilaku normal sepenuhnya.
Sayangnya, realitas yang berjalan tidak serapi narasi buku dan materi kuliah. Pauli memang berhasil menikah lagi, tapi ia tidak berhenti minum. Markus Fierz, asistennya, memberi kesaksian bahwa Pauli masih jadi sosok yang kasar dan meledak-ledak. Sang fisikawan memang telah bertemu dengan mandalanya, tapi ia masih jauh dari ‘telah selesai mengintegrasikan diri’.
Tangga Menurun
Empat belas tahun lalu, saya mengalami sebuah mimpi yang sangat berkesan. Malam hari, saya berada di gurun pasir asing tanpa batas. Angin bertiup perlahan membawa butir-butir debu. Cahaya matahari kian pergi, ketika tiba-tiba saja berdiri sebuah dinding bata yang tinggi dan kokoh di hadapan saya. Langkah saya terhenti. Tanpa tahu apa yang mesti dilakukan, kedua tangan saya meraba dinding itu, dan keajaiban terjadi. Dinding kokoh itu ternyata sebuah pintu yang bisa dibuka tanpa dorongan.
Di baliknya, terbentang sebuah ruangan temaram. Lantainya tanah yang mengeras. Cahaya tipis jatuh dari bagian tengah langit-langit yang cukup tinggi. Di ruangan itu tak ada apa-apa lagi, kecuali dua buah tangga. Tangga yang di sisi kiri menuju ke bawah. Masing-masing anak tangganya sangat tipis — mungkin sekitar lima sentimeter — membentuk struktur tangga yang sangat landai. Sementara tangga yang di sisi kanan, pijakannya kokoh dan ukurannya wajar.
Dengan hitung-hitungan di kepala, saya menilai tangga kanan punya peluang lebih besar untuk menyelamatkan. Saya bisa cepat sampai, dan di atas sana mungkin saya bisa dapat pandangan luas ke seluruh gurun untuk mencari jalan pulang. Namun kaki saya justru dengan ngawur-nya melangkah ke kiri.
Saya mulai menuruni anak tangga satu demi satu. Tangga itu melingkar, makin ke bawah makin gulita. Penyesalan datang menyergap, lalu saya mulai berpikir untuk berbalik naik dan memilih tangga yang satu lagi. Tapi dua hal terjadi: satu bisikan untuk tetap melanjutkan perjalanan, dan lenyapnya orientasi ruang sehingga saya sendiri tidak cukup yakin apakah saya sedang berjalan maju atau berbalik. Saya hanya bisa melangkah kecil-kecil sambil meraba dinding yang kasar dan dingin.
Setelah perjalanan dalam gelap yang terasa selamanya dan bergulat dengan penyesalan demi penyesalan, kaki saya menyentuh anak tangga terakhir. Cahaya berangsur datang, tapi bukan dari tempat yang saya duga. Paradoks terjadi di sini. Setelah menurun lama sekali, saya justru sampai di atap bangunan.
Di sana, cahaya melimpah ruah. Lantai putih bersih membentang luas. Dua perempuan menyambut saya dengan senyum gembira. Yang satu berusia sekitar 60 tahun, dan yang lain sekitar 40 tahun. Perempuan yang lebih tua memberi pakaian bersih berwarna putih untuk saya. Saya menerima pakaian itu, berterima kasih dengan anggukan dan senyuman, lalu mereka lenyap dan saya berjalan berkeliling. Ternyata bangunan ini berbentuk kubus. Dari atas, saya tidak melihat gurun yang tanpa batas. Saya melihat tanah yang subur dengan pepohonan di sana-sini. Saya menengadah ke kubah langit yang hitam pekat — tapi kali ini rasanya agung dan lapang alih-alih menakutkan dan menghimpit. Di sana, empat bintang raksasa bersinar sangat terang.
Perjalanan Melintasi Neraka
Begitu bangun, saya segera menangkap bobot pesan yang ingin disampaikan mimpi itu meskipun belum mampu membedah makna yang dikandung tiap elemen yang muncul dan makna secara keseluruhan. Saya juga tidak melihat relevansinya dengan hidup yang sedang saya jalani saat itu. Setelah mencatatnya, hanya satu simpulan besar yang terselip di benak saya: ada saat di mana langkah paling tidak masuk akal justru menjadi jalan paling berharga untuk sampai di tujuan dan untuk mendapat kerelaan.
Satu dekade kemudian, saya sampai di titik di mana realitas hidup saya akhirnya beresonansi dengan pesan mimpi tadi. Ketika saya mencari cara untuk menggali pesannya lebih dalam lagi, secara kebetulan saya dipertemukan dengan buku karya Martha Beck yang baru saja terbit. Buku berjudul The Way of Integrity: Finding the Path to Your True Self ini membantu saya untuk memahami pesannya, dan menggunakannya sebagai salah satu dasar mengambil keputusan yang lumayan besar dan menakutkan.
Dalam buku ini, Martha Beck membedah magnum opus Dante Alighieri, The Divine Comedy. Beck menginterpretasikan karya ini bukan secara literal atau sebagai sebuah wacana teologi, melainkan sebagai metafora perjalanan transformasi manusia dari keterpecahan menuju integritas — suatu kondisi keutuhan diri di mana intensi, ketakjuban, dan tujuan hidup berjalan selaras. Dengan kata lain, sebuah proses individuasi.
Di awal puisi, Dante menggambarkan dirinya tersesat di Hutan Gelap (Dark Wood of Error). Sebuah momen di dalam hidup ketika kita mulai menyadari sedang berjalan di jalur yang ‘salah’. Hidup tampak baik-baik saja di permukaan, hampir sempurna bahkan. Mengeluh di titik ini hanya akan membuat kita tampak tidak pandai bersyukur, lemah, dan cengeng.
Tapi kita tahu, ada sesuatu yang tak terkatakan yang sedang terjadi di dalam sana. Sesuatu yang mulanya berupa bisikan-bisikan yang nyaris tak terdengar, lalu lama-lama menjadi sinyal yang mendesak kita untuk berhenti dan menyadari datangnya undangan dari dalam diri. Undangan untuk menepi, mengkalibrasi asumsi, dan merumuskan arah baru sekaligus menempuhnya meskipun harus sendiri.
Di kejauhan, Dante melihat sebuah bukit yang bermandikan cahaya matahari. Orang-orang ramai mendaki bukit itu. Dante juga ingin, tapi sesuatu terus menghalanginya. Bukit ini, Mount Delectable, adalah metafora untuk ukuran-ukuran kesuksesan hidup yang disepakati masyarakat luas: karier yang cemerlang, status yang membanggakan, kekayaan yang menawan, dan citra diri yang sempurna. Kita di mengira di dalam kesuksesan ini terkandung harta karun bernama kebahagiaan dan makna hidup.
Tentu saja ini bukan berarti seluruh pendakian adalah salah jalan. Ambisi untuk mendaki adalah bekal naluri untuk mengembangkan diri. Di sini, poin krusialnya adalah: apakah bukit yang kita daki adalah benar-benar bukit yang kita rindukan? Atau kita mendakinya hanya karena semua orang menginginkannya? Kelak, Dante juga akan melakukan pendakian setelah perjalanannya di Neraka selesai.
Ketika akhirnya Dante bersedia memunggungi bukit yang menggiurkan ini, hadirlah Virgil — seorang pujangga pujaan Dante yang telah meninggal berabad-abad sebelumnya. Virgil yang mewakili ‘logika jernih’ datang menemani Dante, sesekali melontarkan pertanyaan dan memberi petunjuk ketika benar-benar dibutuhkan. Kemunculan Virgil di titik ini mengkonfirmasi adagium lama: guru datang begitu murid siap.
Maka dimulailah perjalanan Dante dan Virgil. Pemberhentian pertama: Neraka.
Dante menggambarkan Neraka sebagai sebuah jurang besar berbentuk corong raksasa, yang dindingnya dipahat undakan-undakan melingkar. Beck melihat Neraka sebagai tempat penderitaan (suffering). Penderitaan bukanlah tentang hidup seperti apa yang terjadi untuk kita, melainkan tentang bagaimana kita mempersepsikan setiap kejadian. Penderitaan terletak di dalam pikiran.
Sejak lahir, kita menyerap segala yang dikatakan lingkungan. Lingkaran pengaruh ini membesar seiring waktu: orang tua, guru, buku, media sosial. Mungkin hanya sebagian kecil yang benar, tapi sesuatu tidak perlu benar untuk bisa masuk ke dalam sistem keyakinan kita. Cukup dengan repetisi, duarr, kita mempercayainya sebagai kebenaran.
Itulah mengapa ‘dosa’ terbanyak di Neraka Dante adalah ‘dosa inkontinensia’ — segala bentuk ketidakmampuan seseorang mengendalikan perilakunya sendiri. Ini jenis dosa yang tidak berangkat dari niat jahat. Kita menjalani hidup dengan mengikuti asumsi dan ekspektasi yang berlaku secara luas di dalam masyarakat tanpa merenungkannya, mempertanyakan derajat kebenarannya, dan kehendak untuk menanggalkan yang tidak sesuai dengan kompas internal kita.
Di tahap ini, Virgil mendesak Dante untuk melakukan tiga hal ini: amati para iblis, pertanyaan mereka, lalu lanjutkan perjalanan. Tapi mempertanyakan setiap keyakinan lama memang melelahkan. Bagian otak yang menjalankan fungsi rasional — yang secara evolusi baru kita dapatkan belakangan — berukuran jauh lebih kecil dan lebih lemah daripada orang purba yang mendesak kita untuk mempertahankan cara-cara lama, tak peduli apakah cara itu masih relevan atau tidak.
Dosa berikutnya adalah dosa kekerasan. Kita tergelincir ke dalam dosa kekerasan setiap kali kita mabuk oleh perasaan ‘paling benar’. Kita meyakini ilusi bahwa sumber masalah—sang monster—selalu berada di luar diri kita. Ego kita lantas menyusun skenario perang: bahwa satu-satunya cara untuk memperbaiki kekacauan hidup adalah dengan membenci, menyerang, dan memusnahkan monster-monster itu. Padahal, amarah yang meledak-ledak ini hanyalah topeng untuk menutupi ketidakberdayaan kita sendiri.
Jika kekerasan adalah api yang meledak keluar, tingkatan Neraka selanjutnya justru jauh lebih sunyi, dingin, dan mematikan. Di dasar kedalaman ini, Dante tak lagi menemukan nyala api. Lanskap di sini berupa danau yang membeku. Ini adalah wilayah dosa penipuan. Penipuan memutus koneksi dengan kedalaman diri. Beck menyebutnya sebagai pengkhianatan diri (self-betrayal).
Kita mulai memangkas bagian-bagian diri yang dianggap ‘salah’ atau tidak pantas oleh ukuran budaya. Kita tersenyum saat hati kita hancur, kita berkata ‘iya’ pada hal-hal yang membuat jiwa kita menjerit ‘tidak’. Kita membekukan kebenaran internal yang dibekalkan sejak penciptaan. Kita hanya mencoba bertahan hidup dan terus diterima secara budaya. Di titik inilah kita kehilangan integritas diri. Kita menjadi orang asing bagi diri sendiri.
Begitu banyak lapisan ‘dosa’ yang perlu disadari, diterima, dan dikelupas. Inilah mengapa perjalanan melintasi Neraka adalah perjalanan yang panjang, berputar-putar, melelahkan, dan seperti tanpa harapan. “Abandon all hope, ye who enter here,” tulis gerbang Neraka Dante. Meskipun demikian, perjalanan ini juga bukan tidak mungkin ditapaki. Di ujung Neraka, Dante berkata, “So we came forth, and again beheld the stars.”
Hari ini saya masih berjalan selangkah demi selangkah di dalam neraka internal saya — dan, hei, ini bukan sesuatu yang buruk! Ini justru tanda bahwa saya tidak mengabaikan mandala tiga dimensi yang muncul empat belas tahun lalu.
Mungkin Pauli juga begitu. Mandala Jam Dunianya memang monumental, tapi itu bukan tanda atas selesainya proses transformasi. Di tahun 1935 itu, Pauli mungkin baru saja menemukan pintu masuknya. Jung melihat potensi cahaya di kejauhan, tapi ia luput bahwa bagi Pauli — dan bagi kita semua — jalan menuju cahaya itu harus memutar ke bawah, menembus kelamnya neraka yang panjang. []
