Site icon ratridian

Pengalaman adalah Guru yang Terbaik — atau Tidak

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Kalimat ini sudah sejak lama sekali menghuni kepala saya sebagai sebuah aksioma. Tak perlu diragukan nilai kebenarannya, juga menjadi titik mula untuk mempersepsikan hal-hal berikutnya. Bahkan ketika pun akhirnya terpikir untuk mengunjunginya sembari membawa tanda tanya, itu tak pernah lama. Hehe.

Lagipula bagaimana bisa salah? Dengan mengalami sesuatu, kita tidak sekadar mengingat kumpulan informasi yang belum teruji. Dengan mengalami, kita menyelami sesuatu dalam empat dimensi — bukan sebatas mengamati dan menganalisis dengan mem-preteli bagian-bagiannya kemudian menjumlahkan mereka kembali. Dengan mengalami, kita punya lebih sedikit kemungkinan untuk luput dari detail-detail yang kacau dan hubungan yang kompleks dan terus bergerak di dalamnya. Seperti kata Kurt Koffka, ‘the whole is something else that the sum of its parts‘.

Lagipula hanya dengan mengalami kita bisa sampai pada bersaksi. Dengan mengalami, pengetahuan punya kesempatan berdialektika dengan kenyataan sehingga menjadi ilmu. Ngelmu iku kelakone kanthi laku.

Bahkan dalam pemaknaan yang paling sederhana, lebih banyak berarti lebih jago, kan?

Atau tidak.

Fase hidup menjadi orang tua — yang, ya, belum begitu lama — mendudukkan saya pada sebuah kesaksian. Pengalaman yang makin banyak bukan hanya belum tentu membuat kita makin terampil, melainkan juga berpotensi untuk membahayakan diri serta merugikan orang lain. Baik di kolom-kolom komentar media sosial maupun di kesempatan-kesempatan perjumpaan secara langsung, tidak jarang terjadi penghakiman yang berkedok nasihat datang dari orang tua senior kepada yang lebih junior. 

Frasa ‘karena sayang dan peduli’ menjadi tempat persembunyian yang bagus untuk ketidakpedulian kita pada perkembangan informasi dan perbedaan kondisi. Kita tidak cukup peduli pada kenyataan bahwa bahkan jikapun kita merasa kerja perawatan dan pengasuhan kita membuahkan keberhasilan, bukan berarti tidak ada rute lain untuk sampai juga pada keberhasilan. Kita hanya tidak pernah mengambil rute-rute lain itu — entah karena sadar memilih untuk tidak, karena keterbatasan informasi akan adanya pilihan tersebut, atau karena ada keterbatasan sumber daya untuk menjalaninya. 

Memberikan makanan padat pada bayi berusia sepuluh hari, membuang tetesan-tetesan pertama ASI, membedong bayi erat-erat supaya kakinya lurus, melarang anak yang sedih menangis, memberikan baby walker untuk belajar jalan. Daftar ini masih sangat panjang: daftar hal-hal yang pernah menjadi praktik normal tapi belakangan terbukti berbahaya.

Sayangnya, daftar ini masih dianggap sebagai pakem mengurus anak yang benar. Argumentasi yang sering digunakan untuk perlawanan terhadap daftar ini: ‘Toh kamu baik-baik saja kan, hidup sehat dan pintar sampai hari ini?’. Di banyak area lainnya, melakukan sesuatu dalam cara-cara tertentu hanya karena ‘Biasanya begini’ juga bukan sesuatu yang jarang terjadi. 

Mengapa pengalaman tampaknya punya kecenderungan untuk menjauhkan pemiliknya dari kesadaran bahwa perubahan terus terjadi, termasuk mungkin relevansi penerapan pengalaman-pengalaman itu pada masa dan situasi yang berbeda? Bahwa tidak semua praktik normal perlu dilestarikan. Bahwa ada skenario-skenario lain yang mungkin lebih ampuh. Bahwa pada akhirnya, seluruh ragam pengalaman hanya relevan untuk dijumlahkan.

Tapi Apa Itu Pengalaman

Aldous Huxley pernah menulis, ‘Experience is not what happens to a man; it is what a man does with what happens to him’. Mengingatkan pada apa yang saya baca dari It’s On Me: Accept Hard Truths, Discover Your Self, and Change Your LIfe, ‘When we give our inner consent, life stops happening to us. Instead it becomes something for us, to shape as we’d like’. 

Sebagaimana ada jarak antara realita dan realita-yang-ada-di-kepala, juga ada jarak antara kejadian dan pengalaman. Kualitas pengalaman ditentukan oleh kualitas bagaimana seseorang mengalami kejadian-kejadian yang terjadi padanya. ‘Lilian was reminded of the Talmudic words: “We don’t see things as they are, we see them as we are”’, tulis Anaïs Nin dalam Seduction of the Minotaur. 

Bagaimana kita mengalami sesuatu sangat dipengaruhi oleh keyakinan yang kita miliki. Keyakinan itu membimbing kita untuk sadar dan bahkan secara aktif mencari-cari bukti untuk mengkonfirmasi dirinya. Begitu satu bukti didapat, keyakinan tadi makin kuat dan terus mencari bukti-bukti berikutnya. Terus begitu, berputar-putar menjadi makin tak tergoyahkan. Ada istilah untuk pola pemrosesan informasi yang irasional ini, yaitu motivated reasoning. 

Dalam Thinking in Bets: Making Smarter Decisions When You Don’t Have All the Facts, Annie Duke menuliskan bahwa berita palsu bisa menyebar karena orang-orang yang memang sudah punya keyakinan yang konsisten dengan cerita tersebut secara umum tidak akan mempertanyakan bukti-buktinya. 

Perjalanan Sistem Keyakinan

Keyakinan menyetir ke arah mana kita meletakkan fokus perhatian kita pada suatu kejadian. Kabar buruknya, keyakinan yang secara kuat menentukan bagaimana kita mengalami sesuatu ini proses terbentuknya terjadi dalam urutan yang tidak cukup keren — sebagaimana disebutkan dalam Thinking in Bets:

  1. kita mendengar suatu informasi
  2. kita meyakininya sebagi kebenaran
  3. kita memikirkannya, memeriksanya dengan cermat, lalu menentukan nilai kebenarannya — tapi sayangnya, langkah ini hanya terjadi kadang-kadang, hanya ketika kita punya waktu luang dan ketertarikan

Dalam buku ini Duke juga mengutip pernyataan Daniel Gilbert pada paper-nya tahun 1991 tentang  betapa mudahnya manusia percaya pada sesuatu:

‘Findings from a multitude of research literatures converge on a single point: People are credulous creatures who find it very easy to believe and very difficult to doubt. In fact, believing is so easy, and perhaps so inevitable, that it may be more like involuntary comprehension than it is like rational assessment.’

Meskipun saat ini terdengar jauh dari keren, default setting ini justru yang turut menyelamatkan manusia dalam perjalanan evolusinya. Selama kira-kira 150.000 tahun, manusia yang secara anatomis sudah modern mengembara di muka bumi tanpa punya bahasa yang cukup kompleks untuk saling berbagi pengalaman. Perbendaharaan pengalaman yang mereka miliki terbatas pada pengalaman langsung. Dalam kondisi ini, ditambah dengan pertaruhan nyawa yang mereka alami setiap hari, efisiensi jelas lebih berguna daripada akurasi. 

Thinking in Bets mengilustrasikan contoh kejadiannya. Berdasar pengalaman sebelumnya, nenek moyang kita mendengar suara gemerisik di semak-semak. Tak lama kemudian seekor singa muncul hendak menerkam mereka. Pada kesempatan berikutnya, sesegera mungkin mengidentifikasi suara gemerisik di semak-semak sebagai tanda akan hadirnya seekor singa merupakan langkah yang tepat. 

Jika ternyata suara gemerisik itu merupakan akibat dari hembusan angin (false positive), tidak ada akibat fatal. Beda cerita jika yang terjadi adalah false negative, mengartikan suara gemerisik sebagai hembusan angin ketika ternyata datang seekor singa. Lingkungan di mana keyakinan berasal hanya dari pengalaman langsung dan nyawa taruhannya bukanlah lingkungan yang tepat untuk berkembangnya skeptisisme. Untuk waktu yang sangat lama otak kita berkembang bukan untuk menjadi rasional, melainkan untuk menciptakan kepastian dan keteraturan. 

https://waitbutwhy.com/2013/08/putting-time-in-perspective.html
https://waitbutwhy.com/2013/08/putting-time-in-perspective.html

Bahkan ketika kemudian pada sekitar 50.000 tahun yang lalu manusia (akhirnya!) berhasil menciptakan bahasa kompleks dan menggunakannya secara luas, cara kerja sistem yang lama masih dipertahankan dengan sedikit modifikasi. ‘Nature does not start from scratch,’ kata Gilbert, ‘she is an inveterate jury rigger who rarely invents a new mechanism to do splendidly what an old mechanism can be modified to do tolerably well.’

Sebelum bahasa, sistem yang kita miliki adalah:

  1. mengalami
  2. meyakininya sebagai kebenaran
  3. mempertanyakannya kemudian — tapi (lagi-lagi) ini jarang terjadi

Dengan berkembangnya bahasa kompleks, sistem ini masih berlangsung dengan sedikit modifikasi, yaitu pada langkah pertama kita tidak terhenti pada pengalaman-pengalaman langsung yang kita miliki. Kita — tentunya tanpa sadar — memperlakukan informasi tentang pengalaman dari sumber lain sebagai pengalaman kita sendiri. Langkah berikutnya sama. 

Sistem ini telah menyelamatkan kaum kita untuk waktu yang sangat lama. Tapi apa-apa yang menyelamatkan kita kemarin belum tentu menyelamatkan kita hari ini, sebab kita berjalan di jalur yang terus berubah laju dan arahnya.

Truthseeking, the desire to know the truth regardless of whether the truth aligns with the beliefs we currently hold, is not naturally supported by the way we process information. We might think of ourselves as open-minded and capable of updating our beliefs based on new information, but the research conclusively shows otherwise. Instead of altering our beliefs to fit new information, we do the opposite, altering our interpretation of that information to fit our beliefs.

Duke, Annie. Thinking in Bets: Making Smarter Decisions When You Don’t Have All the Facts (pp. 55-56). Penguin Publishing Group. Kindle Edition. 

Kesadaran bahwa kita merupakan makhluk irasional merupakan langkah pertama. Langkah berikutnya adalah memperbanyak porsi terjadinya langkah ketiga pada sebanyak mungkin pemrosesan informasi. Dengan demikian, kumpulan pengalaman — baik yang langsung maupun dari sumber-sumber lain — sedikit demi sedikit bergeser perannya sebagai alat kalibrasi keyakinan, bukannya sebagai bukti pendukung berikutnya atas keyakinan-keyakinan yang membuat kita nyaman.

Tidak enak karena harus mengeluarkan ongkos energi dan waktu yang tidak berefek langsung, tapi mungkin ini rute yang patut ditempuh. Sebab hanya dengan menghendaki pelajaran, pengalaman mampu menjadi guru — mungkin yang terbaik. Sebab, seperti kata Huxley, ‘Experience teaches only the teacheable’. 

Exit mobile version