:Sebuah Pembacaan atas Novel ‘Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya’
Pernah ada periode cukup panjang di dalam hidup saya ketika kisah para nabi merupakan cerita paling membosankan dan mencurigakan. Rasanya terlalu terprediksi untuk diikuti, sebab siapa yang bisa melawan pelindung mereka: Tuhan sendiri? Seberkuasa apa pun tokoh, sistem, maupun nasib yang memusuhi mereka, pasti akan berujung pada kemenangan dan akhir yang bahagia, bukan? Dan sulit untuk membayangkannya sebagai akibat dari sesuatu selain campur tangan Tuhan yang terlampau besar.
Kisah para nabi di dalam kepala saya juga terasosiasi kuat dengan mukjizat. Sangat ajaib, sampai-sampai terasa seperti sebagian besarnya hanyalah fiksi. Jika memang mereka adalah utusan Allah untuk manusia, mengapa kisah hidup mereka sedemikian berbeda dengan jalan yang ditempuh manusia pada umumnya? Jika memang para nabi punya tempat khusus di sisi Allah dan selalu berada dalam pemeliharaan dari keburukan, di mana letak perjuangan hidup mereka? Di mana mereka babak belur melawan rasa malas yang lembam, tercekik oleh keraguan yang timbul tenggelam, dan nyaris hancur oleh rasa bersalah terhadap umat mereka yang terkasih?
Ya, memang, tugas yang sangat berat mensyaratkan kapasitas dengan standar yang juga sangat berbeda. Tapi bagaimanapun, mereka masih manusia, bukanâdengan segala batas-batas yang mengikatnya. Daftar mukjizat memang menakjubkan dan efektif untuk melegitimasi posisi mereka sebagai penyampai pesan sebab ragamnya sesuai dengan kondisi masyarakat dan zaman di mana mereka diutus. Tapi pasti mukjizat itu bukan keseluruhan hidup para nabi, kan? Bahkan hanya sebagian sangat kecilnya, saya rasa.
Ya, memang, kesulitan-kesulitan dalam hidup mereka pun juga berdosis sangat tinggi. Namun kebanyakan penceritaan yang tersedia di depan saya tidak banyak mengelaborasi hal ini. Kisah-kisah itu tak jauh-jauh dari kumpulan keajaiban, keluhuran, dan kemuliaan yang mengandung hanya dua sisi yang ekstrem. Sisi pertama terlalu umum untuk direplikasi dalam kehidupan sehari-hari, seperti murah senyum, lemah lembut, dan jujur. Sisi satunya lagi justru terlalu sulit untuk diteladani karena tidak cukup relevan dengan kehidupan pion-pion jelata.
Tulus hati dan istiqamah Ismail Ya RabbiÂ
Betapa sering lenyap dari gairah perjuangan ini
Keberanian untuk bersetia kepada kehendakmu
Di hadapan musuh gugur satu demi satu
Maka hamba-Mu yang dungu belajar menjadi Musa
Meniti kembali setiap hakikat alif-ba-ta
Belajar berkata-kata, belajar merumuskan cara
Harun hamba membantu mengungkapkannya
[Muhammadkan Hamba Ya Rabbi, Emha Ainun Nadjib]
Puisi ini memberikan hentakan pertama yang cukup untuk menampar saya. Saya kurang banyak mencari tahu versi penceritaan yang lain, dan di saat yang sama keliru dalam membayangkan kisah-kisah yang terjadi di zaman yang sangat jauh itu. Hanya karena kisah itu telah selesai, saya sendiri enggan melebarkan jangkauan imajinasi untuk melepas kacamata pengamat dari masa depan.
Novel berjudul Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya ini merupakan salah satu karya yang berhasil mengajak saya melambatâsangat lambatâdemi mengikuti langkah-langkah Adam dan Hawa sejak hari pertama mengada hingga hari-hari yang penuh kekacauan di Bumi. Kisah yang telah diceritakan entah berapa kali sejak saya kecil oleh orang-orang yang berbeda ini, di novel ini terasa sangat segar. Lebih dari itu, kisah ini juga terasa sangat relevan dengan kehidupan saya yang manusia biasa.Â
Meskipun Adam sangat dekat dengan Tuhannya, adegan pengajaran nama-nama digambarkan bukan sebagai peristiwa di mana keduanya berhadapan secara gamblang. Adam secara intuitif mengetahui nama-nama itu satu demi satu, dan ia juga menyadari bahwa Tuhan yang misterius itulah yang membisikkan pengetahuan itu kepadanya. Misteri itu memanggil-manggilnya untuk menjelajahi Taman Surga.
Hal yang sama juga terjadi pada kitaâmeskipun tentu dalam level yang berbeda. Tidak semua pengetahuan yang kita punya berasal dari hasil pencarian. Beberapa diberikan dalam cara-cara yang tak terbaca, dalam bentuk rasa atau suara yang tiba-tiba meluncur dari mulut dan mengejutkan kita. Petunjuk itu datang dalam wujud yang sangat benderang dan tak terbantahkan. Tak ada sisa ambiguitas sedikit pun.
Dan persis seperti di dalam perjalanan Adam, petunjuk adalah bekal untuk menempuh perjalanan, bukan seluruh perjalanan itu sendiri. Benderangnya petunjuk ketika diturunkan adalah satu hal, dan jalan panjang penuh ketidakpastian di depan adalah hal yang lain. Di hari-hari dan tahun-tahun yang panjang itu, keraguan mengalami pasang surut, pergi kemudian menyergap kembali.
Kita mungkin pernah mengalami momen-momen ketika tanda-tanda datang bertubi-tubi dari berbagai arah dan menyimpul menjadi pengetahuan tentang arah yang âbenarâ. Rasanya seperti mendapat restu paling penting untuk berbelok tajam atau bahkan berputar balik menuju tempat yang belum ada di peta. Namun beberapa bulan atau tahun setelahnya, keragu-raguan datang dengan narasi-narasi yang pintar. Keraguan itu tidak menyangkal adanya petunjuk, tapi berbunyi seperti âKetika itu kau tak punya cukup pengetahuan untuk menginterpretasikannya dengan tepat; sekarang kau bisa melakukannyaâ.
Seperti kisah Adam dalam novel ini, pengetahuan bukanlah sesuatu yang cuma-cuma. Bukan hanya harus diperoleh dengan harga yang mahal seperti terusir dari Taman yang penuh kedamaian lalu dilemparkan ke Bumi yang penuh kotoran, pengetahuan juga sangat licin seperti sosok Ular yang hadir dalam kehidupan Adam dan Hawa. Pengetahuan yang baru membuat kita memiliki tambahan kebebasan, tapi di saat yang sama ia juga menjerat kita dengan berbagai penghakiman yang semakin kejam.
Pengetahuan tidak hanya membebaskan. Ia juga sangat merepotkan. Kebenaran dan kebaikan, meskipun masing-masing memiliki lawan makna kata, tak pernah hitam putih. Kebenaran dan kebaikan adalah spektrum. Semakin banyak pengetahuan yang kita diizinkan untuk mencicipinya, semakin banyak lapisan di dalamnya. Belli merangkumnya dengan tajam: âYang Baik dan Buruk itu betul-betul ekstrem. Ada banyak jenjang di antaranya.â
Gioconda Belli mengisahkan bagaimana Adam dengan sadar memilih mengikuti Hawa memakan buah terlarang. Ia tahu betul itu adalah hal yang mengkhianati kebenaran, tapi ia juga tak sanggup kehilangan Hawaâsosok yang diciptakan dari dirinya tapi entah bagaimana begitu berbeda dari dirinya. Hawa tak pernah kehabisan pertanyaan. Bahkan ia juga melihat hal-hal yang tak dilihat Adam.
Adam mencintai Hawa dengan begitu dalam. Ia memilih menanggung entah hukuman macam apa yang ada di depan mereka, asalkan bisa tetap bersama kekasihnya. Tapi lagi-lagi, kita bertemu dengan lapisan serupa yang lain lagi. Kedalaman cinta Adam kepada Hawa tidak lantas menghalanginya dari pengalaman emosi negatif terhadap pasangannya. Kita bisa merasakan marah dan dendam pada orang yang paling kita cintai, dan itu tidak mengindikasikan hilangnya cinta.
Satu lagi catatan penting saya dari novel ini adalah bagaimana keputusan buruk Hawa yang berakibat pada terusirnya mereka berdua dari Taman Surga tak pernah sederhana. Pembangkangan ini bisa juga dilihat sebagai sebuah keniscayaanâsesuatu yang âdiam-diamâ memang Ia dambakan, sehingga roda peradaban berputar. Di samping itu, peristiwa ini juga membuka akses Hawa pada pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih kayaâdengan demikian, kesadaran yang lebih besar dan lebih teliti tentang diri dan segala yang ada di dalam dan di luarnya.
Hawa terkejut bahwa ia tak menanyakan hal-hal semacam itu di Taman. Ia menyadari keayeman yang membuatnya menerima segala yang ada, Hawa juga bagian dari keindahan yang tidak mempertanyakan dirinya.
Bumi memang sangat buas dan kotor, sehingga membuat Adam dan Hawa begitu ciut hatinya. Tapi dari mana kesimpulan ini datang? Tentu saja dari pembandingan dengan Taman yang damai dan harmonis, di mana binatang-binatang adalah kawan bagi mereka alih-alih buruan atau pemburu. Binatang-binatang itu lupa pada Adam dan Hawa, tapi Adam dan Hawa tak pernah melupakan Taman dan seisinya.
Jejak ingatan tentang Taman ini menjadi penyiksa paling kejam. Bertahan hidup di Bumi terasa sangat kotor. Tubuh fisik kita tak bisa dipuaskan hanya dengan tanaman, sehingga pertumpahan darah tak terelakkan demi menyambung nyawa. Tapi lagi-lagi, di dalam siksaan paling pedih ini tersembunyi berkat yang besar. Sisa-sisa ingatan inilah yang membuat manusia masih punya nyala harapan dan cakrawala yang patut diperjuangkanâsebuah bekal esensial untuk terus melanjutkan permainan yang sulit bernama menjadi manusia.

Leave a Reply