Sebagai makhluk penjelajah waktu, kita hampir selalu pulang-pergi mengunjungi kemarin, hari esok, lantas pulang ke hari ini. Kita memungut kepingan-kepingan kesalahan, mengunjungi kemungkinan-kemungkinan yang ditimbulkannya di masa depan, lalu pulang membawa buntalan pertanyaan: apa yang bisa dilakukan hari ini untuk mencegah kemungkinan kenyataan itu?
Satu di antara banyak sekali perjalanan pulang-pergi itu terjadi di lajur pengasuhan. Bagaimana dulu kita diasuh, bagaimana hal itu berpengaruh pada kondisi psikologi kita hari ini, dan apa-apa yang layak dilakukan secara berbeda supaya generasi berikutnya tumbuh dengan sedikit lebih optimal, sekaligus sebagai upaya kalibrasi agar sesuai dengan zaman yang akan mereka huni.
Generasi yang hari ini menjadi orang tua adalah generasi yang lolos dari gaya pengasuhan di mana emosi negatif tidak diberi ruang untuk dialami dan diproses, di mana keputusan terbaik adalah keputusan yang dibuat oleh orang tua, di mana hukuman merupakan bagian integral dari pendisiplinan, dan manipulasi emosi adalah alat efektif untuk mencetak anak baikâyang maksudnya, tentu saja, adalah: anak penurut.
Tapi zaman berganti dan melalui perjalanan pulang-pergi tadi kita menginsafi bahwa cara-cara itu tak relevan lagi. Menjadi tua memang terasa ajaibâtiba-tiba kita seperti masuk ke dunia di mana dua hal yang tampak berlawanan menghuni satu telapak tangan. Kita menyadari kekeliruan yang dilakukan generasi-generasi sebelumnya, tapi kita juga melihat dengan jelas bahwa mereka telah menyelesaikan tugas dengan tuntas.
Kita tahu ada yang perlu diperbaiki dan bahkan ada rantai yang perlu diputus dan diganti, tapi juga terkagum-kagum menyaksikan bagaimana mereka berhasil membawa kita keluar hidup-hidup dari segala keterbatasan. Kita memahami, menerima, dan melepaskan luka yang mereka torehkan, tapi juga takjub memandangi cinta mereka yang begitu besar. Mereka hanya punya terlalu banyak urusan untuk diselesaikan, sehingga tidak ada cukup sumber daya untuk mengambil jeda. Menjadi tua membuat kita tahu betul bagaimana rasanya.
Hari ini, kita punya kemewahan yang tak mereka miliki. Kita punya kemudahan akses pada temuan-temuan ilmiah paling baru. Cabang-cabang ilmu yang bisa disimak untuk memahami manusia dengan lebih tajam sekaligus lebih menyeluruh juga tumbuh subur. Kita berada dalam situasi yang mendukung untuk mengambil jeda dan menakar-nakar kembali apa saja yang perlu dipertahankan dan apa yang justru perlu ditanggalkan. Kita berada di garis zaman yang memungkinkan perjalanan pulang-pergi melintasi waktu terjadi dengan semakin cepat dan semakin jernih.
Pemahaman baru tentang tahap perkembangan manusia hingga ke level neuron membantu kita mengidentifikasi apa yang terjadi pada anak-anak ketika mereka tampak âsulitâ, dukungan apa yang mereka perlukan, serta ekspektasi apa yang patut kita tuntut pada tiap langkah kematangan saraf mereka. Pemahaman baru ini turut mendukung lahirnya gaya pengasuhan baru bernama gentle parenting.
Nama ini disematkan oleh Sarah Ockwell-Smith dalam bukunya yang berjudul The Gentle Parenting Book, terbit pada 2016. Ketika pandemi Covid-19 memaksa orang-orang di seluruh dunia untuk berdiam diri di rumah mereka, gentle parenting meledak menjadi tren media sosial. Ini merupakan hal yang baik, sebab kita terpapar pada kesadaran global bahwa ada cara-cara pengasuhan yang perlu diperbaiki.Â
Tapi tren media sosial adalah sebatas pintu masuk untuk berkenalan dengan topik-topik tertentu. Kita harus memanen pemahaman dari kolam-kolam dalam di luar media sosial. Jika suatu tren diikuti hanya karena desakan supaya tidak merasa tertinggal, kesalahpahaman adalah buahnya.
Kita sering kali mengasosiasikan gentle parenting hanya dengan validasi emosi anak. Kita luput melihat bahwa gentle parentingâatau authoritative parenting jika memakai terminologi Diana Baumrindâberdiri di atas empat pilar, yaitu empati, rasa hormat, pemahaman, dan batasan. Pilar terakhir sering terlupakan, bahkan seolah merupakan sesuatu yang ada di seberang jalan.
Padahal tanpa batasan yang sehat, jelas, dan konsisten, validasi emosi rentan tergelincir menjadi validasi perilaku. Tugas kita sebagai orang tua adalah membuat batasan yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak-anak, konsisten menjaga batasan itu, serta menemani mereka menghadapi dan memproses gelombang emosi besar yang lahir sebagai reaksi atas batasan-batasan tadi. Dengan ini, mereka belajar bahwa ada pagar-pagar yang diperlukan untuk menjaga mereka tetap aman dalam penjelajahan, dan mereka perlu belajar untuk menghargainya meskipun tidak menyenangkan.
Ketika batasan yang kita buat selalu bisa ditawar-tawar tanpa argumentasi karena tidak tega pada kesedihan mereka, kita bukan sedang menjalankan gentle parenting. Kita justru sedang tergelincir menjadi salah satu dari dua kemungkinan: permisif atau abai. Di kutub yang berlawanan, jika kita membuat batasan-batasan tanpa dasar yang masuk akal dan kelembutan dalam menghadapi reaksi mereka, kita terjebak dalam gaya pengasuhan otoriter.
Jika empat pilar pengasuhan ini relevan untuk mengasuh anak, ia semestinya juga relevan digunakan untuk menyikapi fenomena sosial yang paling purba dan paling memicu polarisasi, yaitu homoseksualitas.
Homoseksualitas: Dari Mana Asal-Usulnya?
Salah satu persoalan yang ada sejak umat manusia mulai adaâyang anehnya diyakini sebagai salah satu tanda dekatnya akhir zamanâadalah homoseksualitas. Bahkan sejak jauh sebelum itu, perilaku terkait sudah muncul. Jejak biologi evolusioner menunjukkan bahwa perilaku seksual sesama jenis ditemukan pada lebih dari 1.500 spesies hewan, mulai dari serangga, laba-laba, nematoda, ikan, amfibi, reptil, burung, dan mamalia. Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa homoseksualitas merupakan sesuatu yang natural.
Studi genetik dan evolusi juga telah menemukan dan mengkonfirmasi bahwa alih-alih merupakan anomali evolusi, perilaku seksual sesama jenis justru merupakan perilaku adaptif yang memfasilitasi rekonsiliasi kelompok, meredakan ketegangan sosial, dan memperkuat aliansi untuk bertahan hidup. Dilihat secara linear, perilaku seksual sesama jenis merugikan suatu spesies karena mengorbankan waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk aktivitas seksual reproduktif. Akan tetapi jika kita mundur dan melihat gambar yang lebih besar, perilaku ini justru mendukung keberlangsungan spesies karena meningkatkan angka harapan hidup dengan mencegah adanya pertumpahan darah.
Penelitian oleh JosĂ© M. GĂłmez yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications tahun 2023 merupakan analisis filogenetik terbesar yang pernah dilakukan mengenai perilaku seksual sesama jenis pada mamalia. Tim peneliti menelusuri kapan, di mana, dan mengapa perilaku tersebut berevolusi. Mereka menemukan bahwa perilaku ini secara konsisten muncul dan terpusat pada cabang-cabang evolusi mamalia yang berevolusi dari hidup menyendiri menjadi hidup dalam kelompok sosial yang kompleks.Â
Pada titik-titik transformasi itu, alam menjalankan mekanisme yang secara aktif âmenciptakanâ perilaku seksual sesama jenis untuk menjaga stabilitas kelompok. Pada betina, perilaku seksual ini didorong oleh sesuatu yang sedikit berbeda, yaitu penguatan aliansi sosial dalam rangka kerja sama pengasuhan keturunan. Jika alam memang menghasilkan mekanisme perilaku homoseksual, apakah hal yang sama juga terjadi pada spesies manusia? Atau jangan-jangan, ia hanya merupakan akibat dari kekeliruan pengasuhan atau kesalahan lingkungan pergaulan?
Dr. Marc Breedlove, seorang ahli neurosains yang berfokus pada studi bagaimana hormon membentuk perkembangan otak dan psikologi manusia, menemukan beberapa hal yang bisa kita gunakan untuk menjawab pertanyaan tadi. Dalam sebuah podcast dengan Dr. Huberman, Dr. Breedlove mengemukakan temuan-temuan yang mematahkan dugaan bahwa homoseksualitas merupakan hasil dari pengaruh lingkungan. Itulah mengapa di dunia yang seratus persen dibangun di atas narasi heteroseksual iniâmulai dari dongeng klasik, film populer, iklan, dan ekspektasi sosial akan struktur keluargaâindividu-individu homoseksual terus muncul.Â
Homoseksualitas tertanam jauh dalam biologi manusia, akibat dari kombinasi rumit antara paparan hormon pralahir dan genetika yangâtentu sajaâterjadi tanpa urun rembug dari individu yang bersangkutan. Jejak biologis dari paparan hormon testosteron yang mengaliri janin di dalam rahim, misalnya, mempengaruhi rasio antara panjang jari telunjuk dan jari manis (2D:4D ratio). Secara rata-rata, perempuan homoseksual memiliki rasio jari yang lebih maskulin dibandingkan perempuan heteroseksual, menyerupai rasio jari pada laki-laki. Rasio jari menyimpan informasi pada gender biologis mana si empunya mengalami ketertarikan seksual.
Dalam dosis yang jauh lebih masif, kasus serupa terjadi pada bernama Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH), yaitu sebuah kondisi genetik di mana kelenjar adrenal janin memproduksi hormon androgen atau testosteron secara berlebihan. Kasus CAH paling signifikan diamati pada janin dengan kromosom XX atau perempuan biologis. Paparan testosteron pralahir yang sangat tinggi ini sering kali menyebabkan mereka lahir dengan alat kelamin yang ambigu, atau interseks.
Meskipun anak-anak perempuan dengan CAH ini dibesarkan secara sosial sebagai perempuan seutuhnya, mereka secara konsisten menunjukkan ketertarikan yang besar pada permainan fisik dan mainan khas laki-laki. Ketika sudah dewasa, persentase perempuan dengan CAH yang mengidentifikasi diri sebagai lesbian atau biseksual jauh lebih tinggi daripada di populasi perempuan tanpa CAH. Ini menunjukkan bahwa otak mereka telah dimaskulinisasi oleh hormon pralahir, dan lingkungan tak mampu mengubahnya.
Temuan lain yang cukup mengejutkan adalah adanya efek urutan kelahiran. Statistik biologis menunjukkan bahwa peluang seorang laki-laki terlahir sebagai seorang homoseksual meningkat sekitar sepertiga untuk setiap kakak laki-laki kandung yang ia miliki. Fenomena ini diyakini merupakan hasil dari reaksi imunologi ibu terhadap janin laki-laki sebelumnya yang meninggalkan jejak biologis di dalam rahim, yang turut mempengaruhi perkembangan otak janin laki-laki berikutnya.
Tanda berikutnya bahwa bahwa orientasi seksual merupakan kondisi given alih-alih merupakan pengaruh lingkunganâyang sangat mudah ditelusuriâadalah fenomena first crush. Kita mengalami ketertarikan secara misterius ketika masih anak-anak, mungkin di usia lima atau enam, jauh sebelum lonjakan hormon pubertas terjadi. Ini merupakan sebuah konfirmasi bahwa ketertarikan dan penolakan seseorang terhadap jenis kelamin tertentu sudah tercetak secara biologis sejak dini.
Pagar-Pagar yang Kita Perlukan
Meminjam kerangka kerja gentle parenting untuk menentukan bagaimana kita bersikap terhadap homoseksualitas dan individu-individu homoseksual di dunia yang heteroseksual-sentris rasanya bisa jadi pilihan yang bagus. Untuk itu, pagar pertama yang kita perlukan adalah justru pagar untuk membatasi diri kitaâorang-orang mainstream yang âkebetulanâ punya orientasi heteroseksualâdari menjadi monster buta yang gemar mengamuk membabi buta pada kelompok minoritas.
Jangan sampai kita buta pada realitas biologis, lalu meminggirkan dan menghukum seseorang untuk sesuatu yang terjadi padanya, yang berdasar bukti-bukti yang ada memang tak bisa diubah. Jangan sampai kita luput memvalidasi sesuatu yang memang sudah terberi sejak semula, sehingga tak ada ruang bagi kita semua untuk memprosesnya dengan sehat.
Jika berempati, menaruh rasa hormat, dan memahami homoseksualitas terasa demikian asing, mungkin yang kita perlukan adalah perjalanan pulang-pergi sekali lagi. Kali ini, ke masa yang jauh sekali di belakang. Ke sebuah masa yang dikisahkan oleh larik-larik La Galigo, salah satu karya sastra terpanjang di dunia yang bahkan lebih panjang daripada epos Mahabharata. Mitos penciptaan yang berkembang sebagai tradisi lisan di peradaban Bugis, Sulawesi Selatan ini mengenal lima gender. Oroané (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai (lahir sebagai laki-laki tapi menjalankan peran dan mengenakan pakaian serta bertingkah laku sebagai perempuan), calalai (lahir sebagai perempuan tapi menjalankan peran dan mengenakan pakaian serta bertingkah laku sebagai laki-laki), dan bissu (figur sakral yang menjadi penghubung antara manusia dengan dewa, yang melampaui gender biner).
Ratusan tahun yang lalu leluhur kita memiliki keluasan dan kedewasaan untuk marangkul variasi gender dalam tatanan dan penghormatan yang setara. Dunia akan menjadi keluarga besar yang aman jika hal ini bisa kita miliki lagi. Tentu bukan untuk menjadi permisif atau abai terhadap risiko-risiko yang ada, tapi sangat penting untuk merumuskan pagar-pagar yang kita perlukan dengan kepala dingin, keluasan pandangan, serta penghitungan yang teliti.
Mendasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang ada, pagar yang kita perlukan berikutnyaâsetelah memagari diri sendiri dari menjadi monster pemarahâbukanlah pagar untuk memisahkan homoseksualitas sebagai orientasi seksual dari kehidupan bermasyarakat. Pagar yang kita perlukan barangkali, ada pada dimensi lain yaitu perilaku seksual sesama jenis.
Berdasarkan studi genetika dan evolusi, perilaku seksual sesama jenis adalah justru salah satu daya yang menjaga keberlangsungan spesies yang hidup dalam tatanan sosial yang kompleks. Tapi meskipun sama-sama warga mamalia, manusia bukan hewan. Hewan tidak menciptakan pelumas buatan, tidak memanipulasi durasi, dan tidak toleran pada sinyal rasa sakit demi mencapai kepuasan emosional dari aktivitas seksual. Batasan anatomi cukup untuk menghentikan mereka. Oleh karena itu, perilaku seksual sesama jenis pada mayoritas mamalia umumnya bersifat non-penetratif (sebatas stimulasi luar), berbeda secara mekanis dengan aktivitas reproduktif pada lawan jenis.
Sementara itu, manusia dengan standar tinggi pada kepuasan dan kenikmatan, serta didukung dengan fasilitas mutakhir bernama kecerdasan, mampu memisahkan insting fisiologis dengan dorongan psikologis. Manusia mampu meredam alarm rasa sakit tubuh akibat pelanggaran anatomis berulang. Hal ini tidak terjadi pada hewan, sehingga tidak ditemukan kasus-kasus robekan mikro atau peradangan jaringan pada organ genital mereka.
Tapi juga karena tidak seperti hewan, kita punya kemampuan untuk memisahkan dorongan insting dengan aktualisasinya. Dengan modal yang lagi-lagi adalah kecerdasan, kita bisa memberi jeda pada keduanya. Kita bisa belajar memilah dan memilih dorongan mana yang aman untuk dilakukan dan mana yang berpotensi mencederai diri sendiri. Kita bisa menggunakan daya kreativitas untuk menciptakan cara-cara untuk menyalurkan gejolak energi besar yang dihadiahkan alam tanpa mengorbankan diri.
Dan untuk itu, mungkin kita memerlukan beberapa perjalanan pulang-pergi lagi. Kali ini, bersama-sama, sehingga ada banyak jendela yang terbuka. Sebab pasti ada pesan tersembunyi mengapa kita, baik heteroseksual maupun homoseksual, mendapat surat perintah untuk menghuni satu telapak tangan yang misterius ini.

Leave a Reply