Tiga Aku dan Ilusi atas Waktu

Ada sesuatu yang ganjil pada bagaimana alam semesta merekatkan dirinya. Gravitasi menarik benda-benda — memungkinkan kita tetap menapak tanah, juga menciptakan keteraturan dalam orbit benda-benda langit. Makin besar massa, makin besar juga tarikannya. Makin jauh terpisah, makin melemah kekuatannya. Newton telah memformulasikannya dalam Principia dalam presisi yang luar biasa, tapi bagaimana mekanisme gravitasi itu bekerja masih sulit dibaca. 

Lebih dari dua ratus tahun kemudian, Einstein membongkar mekanisme di balik gaya tarik gaib itu. Fisika klasik memisahkan ruang dan waktu ke dalam kotak yang berbeda, hingga Einstein menangkap adanya hubungan saling mempengaruhi yang aneh di antara keduanya. Ketika kemudian Hermann Minkowski menyatukan kedua dimensi itu menjadi satu tenunan empat dimensi yang utuh, yaitu ruangwaktu, logika fisika Einstein menemukan ‘rumah’ dalam bahasa geometri yang memungkinkannya menjelaskan gravitasi pada Relativitas Umum. 

Jika sebelumnya ruang dianggap sebagai panggung kosong tempat seluruh kejadian terjadi dan waktu dianggap sebagai jam dinding yang berlaku di seluruh alam semesta, Relativitas menjungkirbalikkannya. Ruangwaktu adalah lembaran elastis yang bisa melengkung oleh massa, bisa meregang dan menyusut oleh kecepatan, dan bisa bergetar oleh gelombang gravitasi. 

ruang dan waktu
Lengkungan ruangwaktu (sumber: https://www.esa.int/esearch?q=spacetime+curvature)

Lengkungan ruangwaktu yang ditimbulkan oleh keberadaan massa inilah aktor yang membelokkan lintasan benda dan cahaya yang ‘seharusnya’ lurus. Maka, terjadilah gravitasi.

Spacetime tells matter how to move;
matter tells spacetime how to curve. 

John Wheeler

Dalam gelaran jagat raya, ternyata panggung tidak diam saja. Dia turut bermain di sepanjang drama, dibentuk dan membentuk secara simultan. Ruangwaktu yang melengkung, meregang, dan menyusut ini membawa konsekuensi pada bagaimana waktu berperilaku. Carlo Rovelli dalam The Order of Time mengajak kita menjelajahi perilaku itu — menghancurkan ilusi kita tentangnya, lalu menyusun kembali kepingan realitas yang bagi akal sehat terdengar gila. 

Tiga Aku di Sungai Waktu

Mimpi paling tua yang saya punya adalah ‘Mimpi Tiga Aku’. Saya mengalaminya ketika berusia tiga atau empat tahun. Meskipun tidak saya catat dalam jurnal sampai sekian belas tahun berikutnya, ingatan tentangnya tidak memudar bahkan setelah waktu berlari sedemikian jauh. 

Dalam mimpi itu, saya berada di sebuah sungai dangkal yang sangat jernih. Saya bisa melihat batu-batu berwarna kelabu di dasarnya, juga aliran airnya yang memantulkan sebagian cahaya. Saya gerak-gerakkan jemari kaki. Airnya dingin dan menyegarkan. 

Ketika menengok ke sisi kanan dan kiri, saya melihat dua sosok perempuan. Yang satu berumur awal belasan, sementara yang lain tampak seperti perempuan dewasa yang matang. Kami sama-sama memakai baju putih yang menjuntai panjang. Secara misterius saya tahu bahwa mereka adalah saya juga, yang menghuni waktu berbeda. Saya duduk di batu besar, kemudian saya-yang-sudah-dewasa menundukkan badannya dan tertawa lebar di depan saya. 

Kemudian sudut pandang berpindah — ‘kesadaran’ saya berpindah menjadi pengamat yang menyaksikan peristiwa itu dari luar. Saya melihat ketiga diri saya dari arah belakang. Di depan sana, warna hijau di daun-daun dan rerumputan sedikit lebih muda daripada biasanya. 

Ada beberapa catatan yang bisa dibuat dari mimpi ini, tapi salah satunya adalah tentang waktu itu sendiri — sebuah elemen di mana ada anomali yang terjadi di dalamnya. Dari pengalaman, kita tahu persis bahwa waktu mengalir seperti sungai. Masa lalu di hulu, dan masa depan di hilir. Alirannya sambung-menyambung tanpa putus, arahnya selalu ‘maju’ dari hulu ke hilir dan bukan sebaliknya. 

Tapi ‘mimpi tiga aku’ menunjukkan bahwa waktu tidak sekaku itu. Mungkin waktu tidak mengalir seperti sungai. Mungkin ada sebuah ‘dunia’ di mana masa lalu, masa sekarang, dan masa depan adalah struktur geometri yang secara simultan ada. Semacam pesan bahwa kehidupan ini benar-benar sebuah permainan, dan koin untuk masuk ke dalam arenanya adalah sesuatu yang seringkali kita keluhkan: keterbatasan. 

Runtuhnya Konstruksi Waktu

Rovelli — salah satu pendiri teori Loop Quantum Gravity, rival utama String Theory — dalam The Order of Time meruntuhkan asumsi yang selama ini terbangun di dalam benak kita tentang waktu. Waktu yang selalu terasa seperti latar belakang yang mengalir dalam ritme dan arah yang selamanya sama, ternyata tak sepenuhnya begitu. 

Dengan jam atom yang sangat presisi, kini kita bisa mengamati bahwa ada perbedaan waktu pada tempat dengan ketinggian berbeda. Makin ke bawah — mendekati pusat massa bumi — makin melambat waktunya. Secara matematis, dilatasi waktu akibat gravitasi ini dijelaskan dalam Relativitas Umum. Ada banyak versi waktu yang masing-masing hanya berlaku di ketinggian tertentu. 

Bahkan di tempat dengan ketinggian sama, waktu juga berjalan dalam laju yang berbeda untuk benda-benda yang bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Makin cepat bergerak, makin melambat waktu kita. Secara eksperimental ini bisa teramati pada kecepatan yang luar biasa tinggi, misal pada partikel subatomik Muon dan eksperimen di Laboratorium CERN. 

Rovelli juga menunjukkan bahwa titik ‘sekarang’ tidak berlaku secara universal. Konsep ‘sekarang’ hanya valid untuk benda-benda yang berdekatan. Untuk yang berjarak 4 tahun cahaya, misalnya, titik sekarang keduanya tidak berada di garis yang sama — sebab cahaya membutuhkan waktu untuk dipantulkan ke mata kita. 

Jika Relativitas berkata tidak pada ‘waktu universal’, maka Mekanika Kuantum menghancurkan asumsi ‘waktu yang mulus’. Rovelli menjelaskan bahwa di level mikroskopis, efek kuantum mewujud pada struktur waktu. 

Waktu bukanlah aliran yang tak putus-putus seperti sungai di dalam mimpi saya. Waktu bersifat granular atau berbutir-butir, dengan butiran terakhir yang tak dapat dibagi lagi pada apa yang disebut sebagai Waktu Planck (10−44 detik). Mengalirnya waktu adalah ilusi yang kita bangun dari keterbatasan kita, bukan properti yang memang ada pada waktu. 

Pada butiran-butiran waktu itu, di sebuah dunia bernama dunia kuantum, waktu berada dalam superposisi di mana masa lalu, sekarang, dan masa depan tumpang tindih. Suatu peristiwa bisa secara simultan menjadi sebelum sekaligus sesudah peristiwa tertentu lainnya. 

Lebih jauh lagi, di dunia kuantum waktu tidak ada sampai terjadinya interaksi. Waktu bukanlah jam yang terus berdetak apapun yang terjadi, melainkan jaring hubungan antar-peristiwa. Ini mengingatkan saya pada tawa si aku-dewasa kepada si aku-kecil. Elemen ini mungkin adalah simbol atas interaksi relasional yang melahirkan waktu. 

Lingkaran Kurt Gödel

Pada tahun 1949, Einstein mendapat kado ulang tahun istimewa dari sahabat karibnya, Kurt Gödel. Kado itu berupa solusi matematis yang sangat provokatif di sejarah fisika pada persamaan Relativitas. Gödel membuktikan bahwa garis waktu tidak harus selalu berupa panah yang meluncur ke depan. 

Struktur alam semesta mengizinkan terjadinya waktu yang melingkar. Jika kita menempuh perjalanan yang cukup jauh di sepanjang lingkaran ini, kita tidak akan sampai di masa depan yang asing, melainkan kembali ke titik awal di masa lalu kita sendiri. 

Ini sedikit menjelaskan anomali dalam ‘mimpi tiga aku’. Interaksi antara masa depan dan masa lalu itu adalah pesan bahwa perjalanan kita adalah perjalanan melingkar — dan ini bukan hanya tentang Awal dan Akhir yang Satu, melainkan juga titik-titik di sepanjang lingkaran. Kunjungan kita pada titik-titik itu diperlukan pada momen tertentu. Bukan sebagai pelarian dari masa sekarang, melainkan sebagai jalan menuju keutuhan: menjemput yang tercecer dan menyatukannya kembali dalam satu kesaksian yang terintegrasi. 

Visi yang Kabur

Rovelli menjelaskan bahwa meskipun arah waktu adalah ilusi, bukan berarti bahwa seluruh pengalaman kita merasakan aliran waktu menjadi batal. Ludwig Boltzmann adalah orang pertama yang menyadari bahwa aliran waktu dari masa lalu menuju masa depan tercipta karena ada entropi — sebuah ukuran derajat kekacauan. Dunia bergerak dari masa lalu ke masa depan — bukan sebaliknya — karena entropi selalu naik, keteraturan bergerak menuju keadaan yang selalu lebih kacau dibanding sebelumnya. 

Hal ini bisa terjadi karena keterbatasan kita. Mata kita kabur sehingga tidak melihat susunan konfigurasi baru sebagai bentuk keteraturan yang berbeda, melainkan sebagai ketidakteraturan atau kekacauan. Jika kita cukup teliti untuk menangkap konfigurasi apapun sebagai bentuk keteraturan, maka arah panah waktu lenyap. ‘Mimpi-tiga-aku’ terasa nyata dan ‘masuk akal’ karena hadirnya kesadaran si pengamat yang tidak terjebak oleh keterbatasan pandangan, tidak berada dalam arena permainan. 

Tapi dilihat dari sini, keterbatasan kita sebagai manusia ternyata bukanlah hambatan untuk pertumbuhan — seperti yang kadang saya sangkakan. Keterbatasan ini — satu-satunya yang tidak dimiliki oleh Tuhan — adalah justru koin untuk terperangkap dalam jeruji ilusi supaya bisa sampai pada sebuah peristiwa kesaksian yang hanya bisa lahir dari interaksi yang bersifat personal alih-alih dari pengetahuan yang memancar tanpa batas kecepatan. 

Ilusi kita tentang waktu mungkin seringkali membuat kita frustrasi oleh rasa gatal ingin menyingkap hakikatnya dari balik lapisan-lapisan tirai, tapi mungkin justru dengan bekal itulah kita bisa melahirkan makna sebelum sampai pada Eternal Present. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *