: Merenungkan Estetika di Bawah Senja Arafura

Buat saya, kata ‘pantai’ memuat gambar-gambar berikut ini: laut dan langit biru yang sangat luas, ombak yang bergulung-gulung, pasir yang halus, dan buih-buih putih. Jika ditambahkan satu kata di belakangnya jadi ‘pantai Papua’, gambar yang muncul meningkat pesat kualitas keindahannya. Pasirnya putih bersih, air lautnya biru hijau teramat jernih sampai-sampai terumbu karang dan jalinan besar kehidupan kaya warna di sekitarnya tampak dari permukaan.
Tapi gambar itu sirna begitu mencari tahu tentang Pantai Lampu Satu, dan terkonfirmasi begitu menapakkan kaki di sana. Pasirnya cokelat bercampur lumpur abu-abu, bau amis menguar tajam, ikan-ikan kecil tercecer begitu saja, air lautnya cokelat dan hampir tak ada ombak. Pantai Lampu Satu mengingkari gambaran pantai di dalam kepala saya.
Kecuali satu, langitnya. Biru sangat cerah yang terbentang demikian luas, berhias gumpalan-gumpalan awan putih bersih, tanpa penghalang apapun. Setiap kali menatapnya, saya merasa berada di bawah kubah biru raksasa — membangkitkan damai dan haru sekaligus ngeri karena demikian disayang sampai-sampai diberi tiket untuk menyaksikan dan mengalami satu titik kecil di sepanjang garis waktu yang sudah berjalan teramat panjang sebelum ini semua dan entah akan sepanjang apa lagi. Lalu ketika matahari menjelang pulang, goresan merah jambu, nila, dan jingga perlahan menggantikan biru.
Nama pantai ini berasal dari keberadaan mercusuar dengan satu lampu sorot yang berdiri di sana. Berlokasi di Samkai, sangat dekat dari pusat kota, pantai ini menjadi andalan warga Merauke menghabiskan sore terutama di akhir pekan. Berlalu-lalang muda-mudi dengan sepeda motor mereka, juga mobil odong-odong warna-warni dengan musik gembira yang memekakkan telinga. Mobil-mobil berjejer, tak jarang bahkan diparkir jauh sekali dari jalan masuk hingga hampir menjangkau air laut. Deretan penjaja makanan dan minuman serta wahana bermain anak-anak seperti di pasar-pasar kaget semakin memanjakan pengunjung.
Ketika sedang surut, jarak bibir pantai dengan air laut memang jauh sekali, memunculkan daratan luas nyaris hingga ke ujung mata. Kadang-kadang saya mesti mengingatkan diri sendiri bahwa yang di ufuk sana itu laut betulan, bukan fatamorgana belaka.
Awalnya saya sempat menyimpulkan bahwa pantai ini bukan untuk kami. Terlalu ramai, tidak ada ruang untuk bengong-bengong dengan tenang menikmati deburan ombak, juga tidak memungkinkan untuk main pasir dan main air. Tapi simpulan ini perlahan terurai begitu menyaksikan anak-anak segera berlarian dan menemukan satu demi satu permainan.
Ketika air surut, mereka mengamati dan menguntit para kepiting, siput, dan ikan kecil di kubangan-kubangan. Mereka juga bermain lumpur selama berjam-jam dan baru mengeluh badan mereka bau amis di perjalanan pulang. Ketika air pasang, mereka berenang-renang dengan gembira sambil menyaksikan kapal-kapal nelayan. Kadang-kadang mereka berjumpa ubur-ubur atau ikan buntal. Bahkan sesudah mereka mengunjungi pantai-pantai indah di Biak, mereka ternyata masih merindukan dan menikmati permainan di Pantai Lampu Satu.
Lama-lama, saya pun menemukan ‘tempat’ di pantai itu. Meskipun tanpa deburan ombak dan laut biru, meskipun dalam ramai yang terlalu. Ternyata keindahan sesuatu tidak mesti selalu diukur dengan kriteria-kriteria lahiriahnya. Sebab begitu kita buka pintu apresiasi terhadapnya, dia tawarkan kesempatan untuk mengalami keindahannya — yang melampaui dugaan yang kita bangun sebelumnya tentang keindahan.

Leave a Reply