
Secara intuitif dan melalui kerja kognitif, manusia ‘tahu’ bahwa ilmu adalah mata uang tertinggi. Lima ribu tahun lalu, masyarakat Mesir Kuno sudah memiliki Dewi Seshat — dewi penulisan, pengukuran, matematika, arsitektur, sejarah, dan astronomi. Namanya bermakna ‘ia yang menulis’. Seshat merupakan sisi feminin dari Dewa Thoth yang menjalankan peran berbeda dalam wilayah yang sama. Kadang-kadang ia disebut sebagai istri, saudari, atau putri dari Thoth. Jika Thoth menjadi wajah bagi pengetahuan dan kebijaksanaan, Seshat adalah otak dan administrator yang bekerja di belakang layar.
Seshat menuliskan masa jabatan Firaun pada daun-daun pohon keabadian supaya menjadi ingatan bagi masa depan. Ia mencatat hasil rampasan perang dan harta kerajaan, mengukur secara presisi batas-batas wilayah yang terhapus banjir tahunan di lahan basah Delta Nil, hingga memastikan kuil-kuil suci dibangun di koordinat yang tepat secara astronomis.
Seshat adalah pelindung para juru tulis, yang di dalam struktur sosial ketika itu dibebaskan dari pengenaan pajak dan kewajiban kerja fisik. Juru tulis ini, yang berlatih sejak usia sangat muda untuk dapat memenuhi kualifikasi, adalah perpanjangan tangan dari Seshat. Mereka disebut sebagai seshu.
Masyarakat Hindu yang muncul kemudian menempatkan kasta Brahmana —yaitu mereka yang menguasai pengetahuan suci Weda— di puncak hierarki, bahkan di atas para ksatria. Sekitar seribu tahun kemudian, Plato dalam The Republic menuliskan impiannya tentang philosopher king. Hanya mereka yang telah mencapai tingkat pemahaman tertinggi atas kebenaran sejatilah yang punya kualifikasi untuk memimpin. Bahkan, mereka yang tercerahkan bukan hanya ‘bisa’ memimpin, tapi memiliki tanggung jawab untuk itu.
Ribuan kilometer dari tempat Plato menulis gagasannya tentang negara yang ideal, Confucius memperkenalkan gagasan bahwa pemerintahan harus dipegang oleh junzi, orang yang berbudi luhur dan berilmu, alih-alih mereka yang punya darah bangsawan. Butuh waktu lebih dari seribu tahun untuk memformalkannya dalam sistem seleksi calon pejabat yang sangat ketat dengan waktu persiapan sampai berpuluh tahun dan tingkat kelulusan sangat rendah. Tiket untuk masuk ke dalam struktur kekuasaan nyaris tak masuk akal.
Wahyu yang datang kemudian mengkonfirmasi hierarki ini. Terdapat repetisi narasi bahwa Tuhan meninggikan derajat manusia berilmu. Bahkan di beberapa petunjuk disebutkan secara eksplisit bahwa posisi manusia berilmu lebih tinggi daripada ahli ibadah. Janji pengangkatan derajat ini sekilas tampak menyenangkan untuk dijadikan motivasi terus belajar, namun di dalamnya tersembunyi ongkos yang bukan hanya besar, tapi berlipat ganda.
Ongkos Ilmu
Jer basuki mawa beya. Tidak ada makan siang gratis. Semua kenikmatan butuh pengorbanan, setiap tujuan perlu dicapai dengan perjuangan. Untuk sampai pada derajat tinggi yang dijanjikan itu, ongkos yang mesti rela kita keluarkan tampaknya bukan hanya dalam proses akuisisinya — yang sudah sangat berat, tapi juga terbentang di sepanjang jalan kehidupan begitu ilmu sudah ada di genggaman. Mungkin bahkan lebih jauh lagi.
Otak manusia menyimpan potensi pertumbuhan yang sangat besar. Untuk mengaktualisasikannya diperlukan energi yang juga sangat besar. Fungsi-fungsi yang tidak memberikan manfaat bagi keberlangsungan hidup bisa dinonaktifkan untuk menghemat sumber daya. Oleh karena itu kita mengenal bias kognitif, yaitu kesalahan sistematis dalam proses berpikir yang membuat persepsi kita tentang realitas terdistorsi.
Bias ini muncul bukan dari niat jahat, melainkan efek dari mekanisme otak menghemat energi dan memberikan kondisi psikologis yang menenangkan. Kompleksitas itu mahal, maka kita lebih memilih simplifikasi. Mempertanyakan dan menganalisis itu mahal, maka kita menyerahkan proses berpikir itu kepada figur-figur yang kita kagumi dan mengikuti nasihat mereka tanpa keraguan. Authority bias.
Mendengar pendapat dan mencari kebenaran dari sosok yang berseberangan dengan keyakinan kita itu mahal, maka kita hanya melihat dua tombol: benar atau salah. Kita luput melihat bahwa kebenaran ada dalam derajat atau persentase, dan titik maksimal yang bisa kita jangkau adalah kebenaran parsial. Binary thinking. Dan banyak lagi bias yang menghantui kita.
Mudah untuk berprasangka bahwa orang pintar terbebas, atau setidaknya berada dalam ikatan yang lebih sedikit, dari bias-bias kognitif. Otak mereka terlatih untuk secara sadar memasuki mode berpikir analitis dan meningkatkan fleksibilitas kognitif, sehingga tidak lagi berada dalam bayang-bayang penghematan energi, kan?
Dalam Think Again: The Power of Knowing What You Don’t Know, Adam Grant menuliskan bahwa ada jebakan besar yang justru memangsa orang-orang pintar. Ia menyebutnya sebagai “I’m-not-biased bias” — sebuah kebutaan yang menyebabkan orang pintar menganggap dirinya lebih objektif dibanding orang lain. Semakin pintar, semakin sulit kita melihat keterbatasan yang kita miliki. “Being good at thinking can make you worse at rethinking.”
Semakin pintar, semakin cepat kita mengenali pola, dan —berdasarkan studi— semakin rentan kita untuk terperangkap dalam stereotipe. Semakin pintar, semakin mudah bagi kita untuk menemukan informasi-informasi yang mendukung keyakinan kita. Inilah ongkos pertama yang mesti dikeluarkan orang pintar: sering-sering meragukan dirinya sendiri — bukan hanya terkait proses berpikir dan hasilnya, tapi juga jubah identitas yang ia persepsikan atas dirinya. Dan ini adalah sesuatu yang sangat mahal, baik dalam hal banyaknya energi yang mesti dikeluarkan maupun kenyamanan psikologis yang mesti dikorbankan.
Melihat diri kita sebagai orang yang tidak serasional itu memang mengganggu dan menyakitkan. Oleh karena itu ongkos berikutnya yang perlu dikeluarkan adalah berlatih untuk mampu berdamai dengan keduanya. Salah satu latihan yang bisa dipraktikkan untuk mengadili diri sendiri adalah dengan tidak buru-buru menyimpulkan keputusan orang lain sebagai tindakan yang irasional.
Kita bisa bergeser dari penghakiman ‘orang itu tidak rasional’ ke rasa ingin tahu ‘Mengapa rasionalitasnya bekerja seperti itu? Nilai apa yang menurutnya paling penting? Keterbatasan apa yang menjadi penghambatnya?’ Memberikan izin bagi orang lain untuk menjadi tidak rasional adalah salah satu jalan untuk juga menerima irasionalitas kita dengan lebih ringan. Sebab hanya dengan penerimaan kita bisa memperbaikinya.
“The first principle is that you must not fool yourself, and you are the easiest person to fool.”
Richard Feynman
Permainan Dunia
Beberapa waktu lalu, seseorang mengucapkan kalimat ini di dalam mimpi saya, “Tenang saja, nanti di atas perilaku burung-burung akan sangat berbeda dengan di bawah. Di atas mereka tidak akan mengganggu.” Ketika itu saya sedang berhenti sejenak dalam perjalanan mendaki gunung.
Tidak berhubungan secara langsung, tapi ini mengingatkan saya pada sebuah teori tentang hubungan antara kesadaran dan dunia material: Cognitive Dream Interface Theory (CDIT). Andrew T. Jaffe, seorang astrofisikawan dan kosmolog, mengambil langkah mundur dan melontarkan pertanyaan ini: bagaimana kita bisa punya kesadaran di dunia yang material? Menurut Jaffe, ini sama sekali bukan sesuatu yang normal.
Jaffe tidak sepakat pada pandangan bahwa realitas ini adalah simulasi atau halusinasi otak. Ia juga tidak puas dengan penjelasan materialisme bahwa kesadaran entah bagaimana muncul dari materi yang tidak punya kesadaran. Jaffe dengan CDIT-nya membalik urutan ini. Menurutnya, kesadaran adalah justru hal yang mula-mula ada, sementara dunia materi adalah sesuatu yang termanifestasi secara teratur dari adanya kesadaran itu.
Alam mimpi yang kita jelajahi di malam hari memberikan informasi bahwa struktur di sana sangat serupa dengan realitas di ‘dunia nyata’ (dunia yang kita tinggali ketika bangun dari tidur), hanya saja dengan stabilitas yang jauh lebih rendah.
“Reality may not be a machine producing awareness. It may be awareness producing a world and if that is so, then the most radical discovery is also the most intimate one: what we have been seeking outside the dream may be the awareness through which the dream is already appearing.”
Sejauh ini CDIT memang spekulatif dan mungkin tidak akan pernah bisa dibuktikan secara empiris, sehingga menggunakannya sebagai landasan pembacaan tidak bisa diklaim sebagai sesuatu yang solid. Oleh karena itu uraian berikutnya perlu sangat diwaspadai.
Jika realitas adalah mimpi yang jauh lebih stabil, mungkinkah ini petunjuk untuk kehidupan berikutnya — seperti dunia yang kita tempati hari ini, tapi dengan derajat stabilitas yang jauh lebih tinggi? Seperti kalimat yang menjadi pegangan cukup kuat dalam tradisi hikmah: “Manusia itu tertidur, dan ketika mereka mati, barulah mereka terbangun”.
Mungkin, dunia dengan segala keterbatasannya adalah sebuah interface antara kesadaran kita dengan Kenyataan ‘berikutnya’. Sebagaimana mimpi, ia memberikan gambaran tentang struktur, tapi dalam resolusi yang jauh lebih kecil. Kematian adalah momen berakhirnya interface itu, dan kita berhadapan dengan realitas yang sama sekali berbeda tapi tak sepenuhnya asing. Beberapa aturannya telah kita saksikan ‘preview’-nya. Dan barangkali, salah satu struktur penting yang digambarkan bernama permainan sebab-akibat.
Ini mengingatkan saya pada sebuah sintesis yang dilakukan Mulla Sadra, seorang filsuf-teosof Persia abad ke-17, pada pertanyaan ini: tubuh manakah yang menerima siksaan di akhirat? Al-Ghazali memandang bahwa kebangkitan tubuh jasmani terjadi secara literal. Siksaan bersifat fisik sebagaimana informasi dari wahyu yang ada. Sementara itu, Ibnu Sina yang mewakili filsafat peripatetik berpendapat bahwa tubuh jasmani kita hancur selamanya. Kebangkitan terjadi secara ruhani, dan siksaan yang kita tanggung berupa penderitaan ruh.
Mulla Sadra berkata ya sekaligus tidak kepada keduanya. Kebangkitan fisik benar adanya, tapi bukan tubuh fisik yang kita kenakan selama di dunia yang dibangkitkan. Bukan karena ini tidak mungkin Tuhan lakukan, tentu saja. Ini hanyalah konsekuensi logis dari gerak transformasi jiwa yang di kehidupan dunia terikat lalu saling mempengaruhi dengan tubuh jasmani dan berpisah pada saat kematian. Setelah terbangun, jiwalah yang melahirkan tubuh fisik berikutnya — dan ini bergantung pada seberapa ‘bangun’ jiwanya sebelum kematian terjadi.
Jiwa yang selama hidupnya di dunia terus terlelap dalam bias dan tipuan-tipuan yang tanpa sadar kita ciptakan akan melahirkan tubuh yang kikuk menghadapi realitas tanpa filter yang sama. Sebaliknya, jiwa yang berlatih untuk terjaga sampai batas tertentu memiliki getaran berbeda dan tubuh fisik yang mewujud pun juga berbeda. Jadi, ya, sangat mungkin burung-burung masih ada secara fisik ‘di sana’, tapi mereka berlaku dengan sangat berbeda.
Ongkos Ilmu Berikutnya
Janji pengangkatan derajat bagi orang-orang berilmu memang sangat menggiurkan, tapi ongkosnya juga tak main-main. Setelah begitu banyak sumber daya yang mesti dikeluarkan untuk mendapatkannya, ada jebakan kebutaan terhadap batas-batas diri. Dan itu belum semuanya.
Ongkos berikutnya adalah tuntutan untuk bertanggung jawab atas ilmu yang dimiliki —untuk menggunakannya sebagai alat memecahkan masalah dan membangun jiwa sebanyak mungkin manusia. Memang terbuka pilihan untuk tidak memenuhinya. Kita bisa saja menggunakan ilmu untuk memenuhi rasa lapar yang tak habis-habis akan kekuasaan dan segala yang bisa diambil darinya. Kita bisa tetap hidup tenang dan bahagia ketika melakukannya.
Tapi begitu menyelesaikan permainan dan masuk ke dunia berikutnya di mana interface tidak lagi berlaku, tak ada tempat sembunyi dari penyesalan yang selama ini bisa dikubur dalam-dalam. Bobot penyesalan itu pasti jauh lebih masif daripada penyesalan atas tindakan ‘buruk’ serupa yang dilakukan oleh orang yang kurang berilmu. Selisih sangat besar antara mengetahui yang seharusnya dilakukan dengan apa yang benar-benar dilakukan ini adalah siksaan yang pasti akan sangat menyakitkan.
Di dunia setelah ini, penyesalan mungkin bukan lagi pengalaman emosional yang menyesakkan, tapi mewujud dalam lanskap geometris yang menghimpit dan meluluhlantakkan tubuh kita. Dengan waktu yang tidak lagi tampak mengalir, tak ada pintu keluar bernama ‘akhir’.
Tapi meskipun mengerikan, penyesalan juga bisa membuat kita menjadi lebih baik. Pengalaman ini bisa kita jadikan pegangan dalam membuat keputusan dan menilai keputusan itu di kemudian hari tanpa masuk ke dalam jebakan proses berpikir kita yang bernama resulting. Kita bisa meredam rasa takut memutuskan dengan mengajukan pertanyaan ini: “Apakah mengambil keputusan ini berpotensi membuatku menyesal, baik ketika berujung pada keberhasilan ataupun kegagalan? Berapa besar kemungkinannya?”
Ilmu adalah cahaya lampu dan kita adalah laron-laron kecil itu. Ada ongkos yang rasanya nyaris tak mungkin kita bayar untuk mendapatkannya hidup-hidup, tapi sepertinya itu perjalanan yang layak dilakukan. []
