Site icon ratridian

Oleh-Oleh dari Liburan Satu Setengah Tahun di Merauke

Bandara Mopah Merauke, Desember 2023

Awal Desember 2023, kami berangkat menyusul @sapicihuy yang sudah lebih dulu menjadi warga Merauke sejak dua bulan sebelumnya. Menghadapi sedikit rasa takut dan cemas, kami saling mengingatkan dengan kalimat dari episode Bluey berjudul Pencarian Kari (Curry Quest) ini:

Selalu ada bahaya dalam setiap pencarian. Jika tidak, itu bukan pencarian.

“Karena kadang-kadang yang kita kira bahaya sebenarnya bukan bahaya, tapi petualangan,” tambah Kiyana yang ketika itu berumur hampir delapan.

Kami juga menghibur diri dari kepastian tidak mudik dan bahkan tidak keluar dari Papua sampai kepindahan berikutnya (terutama karena harga tiket yang ulala) dengan menganggap ini sebagai sebuah liburan agak panjang — sebuah kesempatan untuk mengalami Papua bukan hanya dari katanya.

Bulan ini, lebih dari satu setengah tahun kemudian, tiba saatnya untuk meninggalkan Merauke. Tentu dengan beberapa kantong besar kenangan dan oleh-oleh pembelajaran.

Ketiadaan Sesuatu adalah Keberadaan Sesuatu yang Lain

Banyak tidak-ada yang bisa dikeluhkan di Merauke, memang. Tidak ada dokter endokrinologi anak dan psikolog anak (yang sedang kami butuhkan untuk mengkonsultasikan perkembangan pubertas dan emosi anak pertama), tidak ada mall, toko buku, museum, kebun binatang, dan bioskop. Tidak ada perpustakaan dengan koleksi lengkap, tidak ada taman kota untuk berkegiatan bersama anak-anak di berbagai cuaca.

Juga tidak ada cukup banyak pilihan fasilitas penunjang belajar untuk anak-anak, tidak ada buntut sapi yang terpotong rapi, daging slice, daging sapi dan ayam segar yang sudah digiling. Tidak ada bebas ongkir, bahkan tidak ada kemungkinan untuk belanja sesuatu dari Jakarta yang bisa sampai dalam satu dua hari saja.

Tidak ada pantai biru, tidak ada gunung yang bisa dijadikan tujuan pendakian di akhir minggu, dan tidak ada toilet yang cukup bersih di tempat-tempat umum. Tidak ada jalan darat yang bisa menghubungkan bagian-bagian Papua, tidak ada rasa aman yang penuh untuk sekadar menaruh barang di teras rumah karena ada kelompok pemulung yang bekerja dengan ‘keberanian ekstra’, atau untuk lari sendiri sebelum jam enam pagi karena ada bahaya orang mabuk yang bawa-bawa parang atau balok kayu panjang.

Tapi ada orang-orang baik yang tulus yang kami temui sehingga jauh dari keluarga dan segala yang familiar tak pernah terasa seberat dan sesepi itu.

Tapi ada langit biru yang cantik, lapang, dan tak terhalang. Ada langit malam yang taburan bintang dan planet-planetnya tampak ramai dan benderang.

Tapi ada pantai dengan senja yang jingganya teramat jelita. Bahkan senja di tengah kota pun juga.

Tapi ada Taman Nasional Wasur yang meskipun hanya bagian sangat kecilnya yang dapat kami kunjungi, selalu terasa seru tiap kali kembali ke sana. Menyusuri pepohonan kayu putih di bawah terik matahari Merauke sembari menikmati kicauan burung-burung endemik Papua yang terbang lalu bertengger di dahan-dahan yang tinggi, atau menyaksikan burung-burung migran dari Australia dan Selandia Baru yang mendarat di lahan basahnya, menerbitkan ketenangan sekaligus mengisi ulang kegembiraan.

Tapi ada udara yang menyegarkan dan jalanan yang hampir selalu lancar. Ada jarak yang sangat dekat antara kantor @sapicihuy dengan rumah sehingga tak ada lagi waktu yang tercecer di jalan. Tapi ada masakan dan jajanan yang enak-enak meski terdengar asing pada mulanya.

Ketiadaan sesuatu adalah ruang untuk keberadaan sesuatu yang lain — dan itu layak dirayakan.

Realitas adalah Cermin

Soal ada dan tidak ada tadi mengingatkan saya pada satu informasi penting perihal kemudahan yang letaknya bukan di mana-mana melainkan bersama sesuatu yang harusnya berada di kutub lainnya: kesulitan.

Bahwa ada jarak antara Realitas dengan realitas-yang-kualami, dan bagaimana rupa yang kedua sangat ditentukan oleh persepsi yang bekerja. Ini memberikan dua simpulan sejauh ini.

Pertama, mengubah persepsi adalah mengubah realitas (dengan ‘r’ kecil). Soal Realitas, tampaknya tak terjangkau di game yang ini. Kedua, realitas yang kita alami itu seperti cermin, memberikan informasi berharga tentang persepsi yang kita operasikan sehari-hari.

We do not see things as they are, we see them as we are.

— Anaïs Nin, Seduction of the Minotaur

Kita (Rawan Jadi) Kolonial

Berusaha melihat sisi terang dari suatu kejadian membuat kita mampu bertahan hidup dan menemukan makna di dalamnya — tapi tidak jika dilakukan dalam dosis berlebih dan/atau salah ranah.

Mensyukuri versi-versi keindahan Merauke tidak bertentangan dengan menyadari dan mengakui adanya ketidakadilan oleh kekuasaan atas orang Papua. Perampasan ruang hidup masyarakat adat dan perusakan lingkungan besar-besaran berkedok ketahanan pangan, yang dijustifikasi dengan argumen ‘Papua tanah kosong sehingga kita harus membantu mereka memanfaatkannya’, serta stigma-stigma negatif yang kita sematkan pada mereka — keduanya adalah cara pandang kolonial.

Berada di Merauke membuat saya menyadari betapa mudahnya masuk dalam perangkap cara pandang tersebut. Pengalaman seperti diganggu orang mabuk, jadi korban pencurian, atau melihat banyak anak meminta-minta untuk modal ngelèm rawan memperkuat keyakinan tadi, tanpa kita luangkan waktu untuk mempertanyakan sejak kapan dan bagaimana itu terjadi.

Padahal ketika mundur beberapa langkah, kita akan saksikan bahwa atribut-atribut negatif itu merupakan akibat dari kolonialisme yang panjang — yang sangat mungkin kita teruskan tanpa sadar.

An abnormal reaction to an abnormal situation is normal behavior.

— Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning

Mengkalibrasi Definisi Keindahan

Pertama kali main-main di Taman Nasional Wasur, saya terheran-heran dan cukup kecewa karena hutan hujan tropisnya sangat berbeda dengan hutan-hutan di Jawa yang lebat dengan kanopi yang rapat dan tanah yang lembap.

Kecewa yang sama saya alami juga ketika pertama kali ke Pantai Lampu Satu. Airnya cokelat keruh dan tak ada pasir tapi hanya lumpur serta bau amis dari ikan-ikan yang mungkin sengaja dibuang.

Terbuka setidaknya dua pilihan. Pilihan pertama: ini bukan hutan/pantai yang indah. Pilihan kedua: ternyata ada hutan/pantai yang indahnya seperti ini.

Kemudian saya menyaksikan bagaimana anak-anak tidak perlu melalui proses apa-apa untuk memilih mau yang mana. Mereka berlarian, bermain dengan gembira, dan besok-besoknya minta lagi ke sana.

Dari mereka saya belajar bahwa hidup tidak melulu soal mengelompokkan mana yang indah dan mana yang buruk rupa. Kadang-kadang kita hanya perlu belajar menikmati keindahan yang berbeda dengan cara yang berbeda pula.

Exit mobile version