Site icon ratridian

Menyusun Batu Usai Berjumpa Cahaya: Sebuah Catatan di Hari Pengurbanan

pengurbanan

Beberapa hari yang lalu, di sepanjang kumandang takbir Hari Raya Kurban, satu pertanyaan muncul di permukaan kesadaran saya: tentang apakah adegan pengurbanan Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim ini, selain tentang ikhlasnya pengorbanan, kokohnya ketauhidan, dan perintah berkurban? Undangan untuk memahami apakah perintah yang mengerikan dan melanggar moral ini? Pelajaran apa lagi yang bisa saya peras darinya untuk saya pakai hari ini? 


“No man ever steps in the same river twice, for it’s not the same river and he’s not the same man.”

Heraclitus

Saya ikuti pertanyaan itu, dan ia menyeret saya ke dua pelajaran baru. Yang pertama adalah pelajaran tentang bagaimana mendengarkan dengan lebih baik, dan yang kedua bagaimana mengintegrasikan lapisan-lapisan kesadaran di dalam permainan yang masih berlangsung ini. Tentu saja ini penafsiran personal, yang derajat kebenarannya tidak absolut.

Bagaimana Mendengarkan

Membayangkan peristiwa pengurbanan itu, hal yang paling menggelitik buat saya terletak bukan pada sebesar apa keikhlasan Nabi Ibrahim ketika melakukannya. Saya paling kesulitan mengimajinasikan sejernih apa konstelasi kesadaran Nabi Ibrahim sehingga Beliau punya ketajaman untuk menerima perintah yang datang ke mimpinya, lalu segera berangkat merealisasikannya meskipun pesan yang datang tak masuk akal dan melanggar batas moral bahkan untuk manusia penuh dosa sekalipun. Membunuh orang, tak peduli membunuh siapa, adalah pekerjaan yang mustahil. 

Tapi Nabi Ibrahim mengerjakannya tanpa mempertanyakan. Sebuah perbuatan yang bukan hanya melukai rasa cinta seorang ayah kepada anaknya, tapi juga mengkhianati kompas kebenaran di dalam dirinya. Bagaimana bisa?

Tentu saja ada jarak yang sangat jauh antara tingkat kesadaran dan pengetahuan para nabi dengan batas maksimal yang saya miliki, tapi untuk apa dikisahkan kehidupan manusia-manusia istimewa itu kecuali sebagai cakrawala yang patut dikejar? Setidaknya empat ribu tahun memang telah berlalu, belasan peradaban besar telah hancur dan digantikan peradaban berikutnya, tapi peristiwa Nabi Ibrahim pasti masih bisa dibaca dan dipakai hingga saat ini. 

Dalam level yang jauh sekali di bawah Nabi Ibrahim, kejernihan kesadaran saya definisikan sebagai suatu kondisi yang memungkinkan tertangkapnya pesan yang pantas diikuti. Pesan-pesan ini, yang berasal dari kedalaman palung bawah sadar dan dari langit yang tinggi, di permukaan sering kali tampak bertentangan dengan akal sehat —sebab mereka tidak selaras dengan suara-suara yang berasal dari pengkondisian lingkungan dan rasa takut untuk ‘hidup’.

Kesadaran yang jernih adalah semacam lautan luas yang menampung seluruh rasa takut, kekhawatiran, dan kecemasan yang terkadang datang, merengkuh dan menghadapi mereka dengan kasih sayang dan pemahaman alih-alih mengabaikan dan menolak mereka, memalingkan muka ke arah distraksi yang tak putus-putus. 

Pertanyaan berikutnya, yaitu jalan mana yang berpeluang besar mengantar saya ke kesadaran yang lebih jernih, bisa didekati dengan satu kata kunci yang muncul sebelumnya: distraksi. 

“All of humanity’s problems stem from man’s inability to sit quietly in a room alone.”

Blaise Pascal, Pensées

Mungkin itu adalah jalan setapak yang kunci untuk memasukinya bernama kesanggupan untuk sendirian tanpa merasa kesepian. Ini tidak selalu mengambil bentuk pertapaan di gua terpencil, pengasingan diri di hutan lebat, atau penarikan diri sama sekali dari kehidupan sosial —meskipun kadang perlu dilakukan untuk periode tertentu. Di kehidupan sehari-hari, ini bisa ditempuh dengan menutup pintu untuk distraksi yang selalu tersedia dan dengan sengaja meluangkan waktu untuk bercakap-cakap dengan diri sendiri. 

Hari ini, ketika jarak antara informasi dengan diri kita teramat rapat, mengaksesnya terus-terusan terasa seperti sebuah kenormalan. Di sinilah kita bisa belajar berkata tidak dengan membuat batas-batas yang jelas. Batasan ini, selain memberi jarak antara ‘aku’ dengan ‘dunia’, juga memberikan alokasi waktu bagi saya untuk benar-benar sendiri —mengamati, bertanya, menghadapi sisi-sisi diri yang sebelumnya tak terjelajahi, dan menyadari ada pesan yang berkedip-kedip di sudut sana. 

Overthinking, dalam beberapa kasus adalah justru tanda adanya underthink. Kita kurang banyak berpikir sehingga tidak mencapai pos bernama ‘bagaimana berpikir’. Dengan tidak jelasnya area ‘aku’ dan ‘dunia’ dan di mana saja keduanya boleh berpadu, kita sangat kesulitan mendefinisikan makna, tujuan, dan keberhasilan hidup dengan merdeka. Dalam konteks kelompok, kita menjadi salah sangka pada apa yang mesti diratakan. 

Gaung atas segala yang ideal menjadi rawan kita identifikasi sebagai juga milik kita. Ketika tidak tercapai, rasanya hidup tak layak dijalani dan kita tak lagi punya identitas, sebab kita tidak mampu menikmati perjalanannya. Ketika tercapai, kebahagiaan yang kita damba-dambakan itu ternyata hanya bertahan sebentar lalu menguap begitu saja. Maka kita mengawetkannya menjadi identitas, lalu terkejut ketika tiba waktunya untuk melepas.

Sementara itu, jika kita merdeka dalam mendefinisikan tujuan, perjalanan terasa memuaskan meskipun sulit dan tak tervalidasi kiri-kanan.

“The autotelic experience, or flow, lifts the course of life to a different level. Alienation gives way to involvement, enjoyment replaces boredom, helplessness turns into a feeling of control, and psychic energy works to reinforce the sense of self, instead of being lost in the service of external goals. When experience is intrinsically rewarding life is justified in the present, instead of being held hostage to a hypothetical future gain.”

Mihaly Csikszentmihalyi, Flow: The Psychology of Optimal Experience 

Bagaimana Mengintegrasikan

Lalu saya bertemu dengan sebuah artikel yang ditulis oleh Mukhtar H. Ali yang menggali alegori dalam peristiwa pengurbanan Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim. Peristiwa tersebut memang merupakan ujian yang nyata sebagaimana disebut dalam Surah 37:106, tapi bukan ujian keimanan. 

Kesadaran tingkat tinggi Nabi Ibrahim mampu mengakses alam intelektual, suatu lapisan realitas di mana segala sesuatu tampak sebagaimana adanya. Hukum-hukum yang berlaku di sana berbeda dengan alam material yang kita huni. Di sana makna tampak seketika, tidak terbungkus dan teralihkan oleh rupa. Pengetahuan memancar dan diterima langsung tanpa melalui interpretasi. 

Maka ketika tampak oleh Beliau perintah untuk mengurbankan Nabi Ismail, Nabi Ibrahim menunaikannya secara literal. ‘Kesalahpahaman’ ini merupakan pintu bagi Nabi Ibrahim untuk mempelajari bahasa yang beroperasi di alam yang lain, yaitu alam imajinal, di mana hal-hal yang tampak adalah simbol atas sesuatu yang lain. 

Ini adalah sebuah penafsiran yang mendalam, indah, dan segar atas adegan yang menjadi titik awal syariat berkurban. Interpretasi ini, ditambah dengan tugas Nabi Ibrahim di kemudian hari yaitu pekerjaan fisik menyusun batu-batu menjadi Ka’bah, membawa saya pada satu perenungan. 

Mungkin, kisah ini juga tentang bagaimana mengintegrasikan diri. Menjangkau lapisan realitas yang lebih tinggi dan mendekat ke sumber Cahaya harus ditempuh dengan latihan yang sangat berat dan konsistensi yang panjang, tapi hidup ini bukan tentang berdiam di sana selamanya. Kita perlu menyatukan yang paling halus dan yang paling kasar serta segala yang di antaranya dan mewujudkannya dalam materi. 

Tapi, jika di ujungnya adalah pekerjaan material, untuk apa seluruh perjalanan mendaki dan menyelami?

Tiga malam yang lalu, saya bermimpi berada di kelas bersama beberapa orang lainnya. Guru datang dari tempat yang jauh, memberikan tugas pada kami untuk menemukan lembaran-lembaran kertas yang tersembunyi. Saya seketika melihat lembaran itu tersebar di beberapa titik, tapi tidak tertarik mengambilnya. Saya justru berdiam diri dan menemukan kesenangan dalam mengamati satu demi satu murid yang lain berhasil menemukannya setelah beberapa waktu mencari kesana kemari. Di akhir kelas, guru itu berkata, “Hanya karena kamu tahu, bukan berarti kamu boleh tidak ikut dalam permainan. Teruslah bermain.”

Ini adalah teguran keras untuk saya, sekaligus jawaban atas pertanyaan sebelumnya. Kesejatian bukan saja memberi nilai tambah dalam menjalani kehidupan. Cahaya tidak hanya menyinari jalan di depan sana. Pesannya justru: bagaimana menjadikan Cahaya itu padatan-padatan yang bisa diindera dan berguna untuk sebanyak-banyaknya —sebagaimana Nabi Ibrahim menyusun batu satu demi satu untuk membangun Ka’bah dan membangun peradaban.

​Melakukan pekerjaan material setelah menyaksikan Cahaya dan memahami Kegelapan bukanlah turun kelas. Seluruh perjalanan mendaki dan menyelami itu adalah justru bekal penting supaya materi yang kita wujudkan beresonansi dengan gelombang ‘kebenaran’ yang menghuni semua lapisan realitas.[]

Exit mobile version