
Anak tengah sering merasa tak terlihat dalam dinamika interaksi keluarga karena terhimpit oleh anak sulung yang mandiri-berprestasi dan anak bungsu yang lucu-menggemaskan. Berada di antara anak kebanggaan keluarga dan anak kesayangan orang tua, mereka mengusahakan banyak hal sendirian, diam-diam menepuk bahu mereka sendiri ketika yang sebenarnya mereka butuhkan adalah menangis kencang.
Ada ekspektasi bahwa mereka sepatutnya bertindak cukup dewasa sebab sudah tidak sekecil si adik, bahkan ketika usia mereka tidak memungkinkan untuk itu. Di saat yang sama mereka tidak cukup didengar pendapatnya karena belum sebesar dan/atau tidak sepintar si kakak. Bahkan ketika anak tengah melakukan sesuatu yang besar, itu tidak dianggap sebagai pencapaian yang layak diakui apalagi dirayakan sebab toh masih di bawah pencapaian si anak sulung — padahal sangat mungkin ini bukan soal di bawah atau di atas, tapi pencapaian mereka hanya berbeda.
Ketika mereka sedang memerlukan lebih banyak perhatian, kebutuhan itu tak terdengar karena toh ia sudah bisa lebih mandiri dibanding si adik yang masih kecil dan wajar jika mengambil porsi perhatian terbesar. Mereka rawan berada dalam posisi harus mengalah, baik kepada si sulung dalam alokasi sumber daya orang tua maupun kepada si bungsu yang selalu mendapat pembelaan ketika berperilaku mengganggu. Sebagian besar anak tengah sepertinya sepakat bahwa mereka hidup dalam kutukan.
Bergeser ke kepala anak sulung. Mereka membawa karung besar di pundak, yang bertambah berat dengan kelahiran adik-adik mereka. Mereka tiba-tiba harus menjadi lebih dewasa hanya karena ada pendatang baru yang tiba-tiba menyedot seluruh perhatian dan secara sepihak membuat mereka punya gelar yang sering kali terasa menyebalkan: kakak.
Hari itu, mereka mengalami kehilangan yang mendalam dan di saat yang sama harus menjadi sangat besar dalam semalam. Sering kali, mereka bahkan harus ikut memainkan peran orang tua di dalam keluarga: bertanggung jawab atas nama baik keluarga dan keberhasilan adik-adik mereka.
Mendapat sorotan sebagai anak kebanggaan yang pintar, penurut, dan teladan yang baik bagi adik-adik memang tampak sebagai sebuah kemenangan dalam hidup, tapi tidak ketika dijalani. Gelar-gelar kehormatan itu berpotensi besar menjauhkan mereka dari kesempatan untuk membuat kesalahan dan mengenali suaranya sendiri demi tercapainya cita-cita orang tua dan stabilitas emosional keluarga.
Begitu pula ketika kita bergeser ke kepala si bungsu. Mendapat pemakluman yang besar ketika tidak berhasil melakukan sesuatu, mereka juga dijauhkan dari kesempatan mengambil keputusan di ‘dunia nyata’, bahkan tentang hidupnya sendiri. Selamanya dilihat sebagai bayi menggemaskan, anak bungsu dianggap tidak punya kapasitas yang cukup untuk mengambil langkah besar. Perlahan tapi pasti, mereka percaya bahwa takdir mereka memang berada di bawah bayang-bayang keberhasilan kakak-kakaknya.
Mereka tampak berkelimpahan kasih sayang, tapi rasa sayang itu jugalah yang menghalangi mereka dari perjumpaan dengan aktualisasi atas potensi yang mereka miliki. Perlindungan yang tak putus mengubur potensi yang sebenarnya selalu ada itu dalam-dalam. Atau kadang-kadang mengambil bentuk ekstrem lainnya, mereka justru menaruh ideal di tempat yang sangat jauh dari pijakan.
Dalam wujud yang berbeda-beda, ketiganya mengalami kutukan yang sama: tidak cukup dilihat sebagai diri mereka sendiri. Mereka diukur relatif terhadap saudaranya, dan disayangi sebatas pada peran yang mereka jalankan.
Ini tentu saja tidak terjadi di seluruh unit keluarga, tapi secara statistik juga bukan merupakan fenomena personal dengan satu dua jumlah kejadian. Ada sebuah kecenderungan pada pola dinamika keluarga, meskipun tentu saja melibatkan banyak faktor lain. Faktor-faktor lain ini pula yang turut menentukan mana dari ketiganya yang memikul beban paling berat — dan kali ini, kita tidak akan menghitungnya.
Bagaimana kita berperilaku mengandung informasi penting tentang bagaimana kita memberi nilai pada segala sesuatu, oleh karena itu setiap pola perilaku adalah kesempatan emas untuk membaca diri dan — mungkin — menulis ulang di beberapa bagian. Diberi kesempatan untuk memiliki anak, saya punya kesempatan untuk merefleksikan fenomena ini pada pengalaman saya. Bukan untuk merumuskan formula universalnya, tentu saja, melainkan untuk menelisik titik-titik rawan yang ada supaya tidak terseret arus pola yang sama secara cuma-cuma.
Kutukan Identitas dan Peran
Anak pertama saya, Kiyana, sejak sangat kecil menunjukkan kecenderungan untuk mudah merasa cemas ketika berada di kerumunan. Ia lebih menyukai kelompok kecil orang-orang yang telah ia kenal dengan baik. Selama di daycare pada usia satu hingga tiga tahun, saya sering mendapat laporan dari pengasuhnya bahwa anak ini menolak mengikuti kegiatan sesuai jadwal bersama teman-temannya. Selalu ada waktu di mana ia memilih untuk sendirian, bermain atau mengamati sesuatu.
Ia mengalami kesulitan untuk memulai percakapan bahkan dengan teman sebaya, untuk berbicara dan berekspresi di depan umum. Ia terbuka dan banyak bicara hanya dengan orang-orang yang punya kedekatan emosional dengannya, dan sering kali membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke kedekatan itu. Ketika berada di lingkungan yang tidak cukup ‘aman’, ia kehilangan spontanitas dan tampak terlampau self-conscious.
Saya sempat merasa sangat bersalah atas hal ini. Berapa persen dari kecenderungannya itu yang merupakan akibat dari pola dan lingkungan pengasuhan? Apakah jika saya memilih untuk mengurangi keterlibatan dalam pengasuhannya, kecemasannya di kehidupan sosial itu akan berkurang karena terpapar dengan stimulasi yang berbeda? Mengingat kecenderungan itu juga saya alami, apakah saya yang harus berubah lebih dulu supaya ia juga berubah? Apakah ini benar-benar kepribadiannya atau bentuk social mimicry yang tidak seharusnya ada?
Beberapa tahun kemudian, lahirlah Kimi. Sebagai anak pandemi yang lahir dan menghabiskan setidaknya dua tahun pertama di rumah saja kecuali di jadwal-jadwal vaksinasi, Kimi anehnya cenderung mudah menjalin hubungan dengan orang lain. Ia sangat menikmati interaksi sosial, ceria, dan pandai menghidupkan suasana. Ia suka bertingkah konyol dan senang ketika orang lain menertawakannya.
Kimi tidak melewati fase tantrum. Seluruh kombinasi ini membuatnya sangat kontras dengan Kiyana. Meskipun saya tahu bahwa setiap anak di dalam keluarga menghadapi orang tua yang berbeda — karena pemahaman dan pengalaman yang membentuk dan mengubah mereka — kehadiran Kimi meredakan kecemasan yang muncul dari rasa bersalah dalam mengasuh Kiyana. Saya merasa tidak mengalami banyak perubahan, tapi bisa terlahir seseorang yang konyol dan spontan. Mungkin ciri kepribadian yang ditunjukkan Kiyana memang bagian dari otentisitasnya.
Sangat mudah untuk melihat keduanya sebagai kontras satu sama lain. Introvert dan ekstrovert, perasa dan santai, kaku dan ekspresif, penonton dan badut. Ini membantu saya dalam mempersiapkan mereka ketika hendak memasuki situasi baru — siapa yang butuh sounding dari jauh-jauh hari dan apa yang bisa diekspektasikan dari keduanya.
Sampai suatu hari, ketika usia Kimi hampir dua setengah tahun. Saya menegurnya cukup keras karena setelah diingatkan beberapa kali, Kimi tetap melakukan berulang-ulang hal yang tidak diperbolehkan. Ia tersenyum konyol, tapi saya juga menangkap kilatan kesedihan dari wajahnya. Seperti ada tangis yang ditahan dan buru-buru ditimpa dengan tingkah lucu. Ketika saya memeluk, mengelus punggungnya, dan berbisik di telinganya beberapa kali bahwa menangis ketika merasa sedih itu tidak apa-apa, tangisnya pun meledak.
Maka sejak hari itu, saya berhenti mendefinisikan Kimi sebagai anak lucu yang konyol dan tidak perasa seperti kakaknya. Butuh beberapa tahun sampai ia merasa lebih santai untuk menerima dan mengakui rasa sedihnya, serta meminta dukungan yang diperlukan. Kadang-kadang pelukan ringan, di waktu yang lain pelukan kencang yang cukup lama. Ketika kemampuan berbahasanya semakin kompleks, ia mengatakan bahwa ia menahan tangis karena tak ingin merusak suasana.
Hal ini membuat saya bertanya-tanya: siapa sebenarnya mereka ketika saya berhenti melihat yang satu relatif terhadap yang lain? Informasi apa yang selama ini saya lewatkan? Nuansa sekaya apa yang luput dari penglihatan saya?
Memang belum lama, tapi mulai melihat mereka sebagai diri mereka sendiri menuntun saya untuk tidak terkejut menyaksikan Kimi sakit hati karena komentar ‘ringan’ orang lain tentangnya atau meminta jeda untuk sendiri, Kiyana dengan ketenangannya menenangkan teman-temannya yang panik ketika harus menyusuri perkemahan di malam hari ketika hujan turun — dan dengan demikian, terbuka pada kemungkinan bahwa dukungan emosional yang mereka butuhkan mungkin berbeda dari waktu ke waktu.
Menyaksikan betapa besar pengelabuan yang mungkin terjadi dari melihat anak bukan sebagai dirinya melainkan relatif terhadap saudaranya, saya secara sadar berusaha berkata tidak pada kecenderungan memetakan anak berdasar perannya di dalam keluarga: anak sulung, anak tengah, atau anak bungsu. Selain karena peran-peran itu tidak punya utilitas dalam kehidupan di luar rumah, kecenderungan ini juga sangat mungkin menghalangi saya dari melihat masing-masing anak sebagai dirinya sendiri. Mereka adalah sosok manusia utuh yang dikirim untuk sesuatu yang misterius, dan tugas orang tua adalah menyelidikinya dan menyediakan apa-apa yang diperlukan untuk sampai ke sana. Salah satu yang diperlukan adalah kesediaan untuk melihat, menyimak, dan mencintai mereka apa adanya.
Ini mengingatkan saya pada perang abadi antara dua kebutuhan dasar manusia — attachment (kelekatan) dan authenticity (otentisitas) — sebagaimana dibahas Gabor Maté dalam bukunya, The Myth of Normal: Trauma, Illness, and Healing in a Toxic Culture. Kebutuhan attachment mendorong manusia untuk menjalin kedekatan dengan orang lain, baik dalam dimensi fisik maupun emosional. Sementara itu, kebutuhan authenticity adalah suara yang memanggil-manggil kita untuk tetap jujur pada jati diri kita, setia pada kompas internal yang membimbing kita sejak semula.
Faktanya, sering kali yang terjadi adalah kita tidak dapat mempertahankan authenticity demi memperjuangkan attachment. Dan ini bukan lahir dari kejahatan, kebiadaban, maupun ketidakpedulian figur pengasuh. Sebaliknya, ini justru berangkat dari niat baik: kita mengajarkan anak-anak untuk menjadi menyenangkan secara sosial — yang juga sangat berguna bagi kelangsungan hidup mereka. Anak yang selalu berkata iya, misalnya, cenderung punya lebih banyak teman dan lebih disukai orang dewasa di sekitarnya. Ketika anak menunjukkan authenticity-nya yang ‘merepotkan’, kita cenderung menyuruhnya melepas atribut itu. Anak baik dan penurut adalah standar keberhasilan pengasuhan orang tua.
Masih di buku yang sama, Maté mengangkat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara orang-orang yang menderita penyakit berat seperti kanker dengan ciri kepribadian mereka. Ada kecenderungan yang konsisten bahwa mereka adalah justru orang-orang ‘baik’. Mereka rela berkorban demi keharmonisan suasana lingkaran di mana mereka berada, mereka bersikap manis dan siap membantu siapapun yang membutuhkan, dan mereka memutuskan arah hidupnya dengan mempertimbangkan perasaan orang-orang yang mereka sayangi. Kualitas-kualitas yang tampak dari mereka adalah kualitas-kualitas yang bernilai kebaikan dalam hidup bermasyarakat. Baik hati, rajin, rela berkorban, pekerja keras.
Dalam sebuah penelitian, tiga kelompok partisipan yang terdiri dari penderita melanoma, penderita penyakit jantung, dan orang sehat sebagai kontrol, dipaparkan pada tayangan-tayangan yang berisi kalimat-kalimat ‘mengganggu’. Mereka diminta untuk melaporkan apa yang mereka rasakan, dan di waktu yang sama diamati bagaimana lapisan kulit mereka beraksi dengan menggunakan instrumen kelistrikan. Hasilnya: penderita melanoma secara konsisten menunjukkan adanya jarak yang besar antara laporan kesaksian dengan reaksi kulit. Ini menunjukkan bahwa mereka telah ‘terlatih’ untuk menekan emosi jujur mereka jauh di bawah kesadaran.
Kebiasaan menekan emosi dalam-dalam ini, baik ketika dilakukan secara sadar maupun secara tidak sadar, merupakan kebiasaan yang sangat berbahaya. Kebiasaan ini terbukti memiliki potensi besar untuk menghadirkan penyakit-penyakit berat dengan prognosis yang lebih buruk karena kebiasaan ini menghilangkan kemampuan seseorang melindungi dirinya dari stress.
Tapi ini juga bukan berarti bahwa kualitas-kualitas baik itu tidak penting. Sebaliknya, nilai-nilai kebaikan manusia itu esensial — dengan diberi batasan-batasan yang perlu. Berani memperjuangkan kepentingan orang banyak itu baik, tapi tidak perlu diterjemahkan juga sebagai pengeliminasian kebutuhan diri sendiri. Bekerja keras untuk menyelesaikan suatu pekerjaan itu baik, tapi tetap harus diselingi istirahat yang cukup. Resepnya: dilakukan secara sadar dalam rentang waktu tertentu (alih-alih terus-menerus), diaplikasikan hanya pada situasi-situasi yang tepat, dan dengan pemahaman atas risiko yang mungkin terjadi.
Sayangnya, kita terkondisi untuk melihat sesuatu sebagai titik ekstrem dan melepasnya dari konteks. Kebaikan berarti surga, kebalikan atasnya berarti neraka. Kita tidak terbiasa menelusuri pada persentase berapa dan pada konteks apa sajakah kebaikan itu menuntun kita pada surga — baik yang di dunia maupun yang di ‘sesudahnya’.
Maka kita menuntut anak-anak kita untuk menjadi orang baik, bahkan sebelum mereka sempat mengenali dirinya sendiri. Kita menuntut mereka untuk mau berbagi mainan bahkan di usia di mana mereka seharusnya belajar tentang apa itu kepemilikan dan bagaimana mempertahankannya. Kita menuntut mereka untuk membanggakan dan menyenangkan hati kita, bahkan jauh sebelum mereka berkesempatan mengenali suara mereka sendiri. Kita menghilangkan perilaku-perilaku buruk mereka tanpa terlebih dulu memahami mengapa perilaku itu terjadi dan menyelesaikannya. Kita menghukum dan mengancam akan meninggalkan mereka, sebab kita tidak cukup berani untuk menghadapi kebenaran yang mereka sampaikan dalam teriakan dan rengekan mereka.
Meskipun kedua kebutuhan dasar itu sama-sama diperlukan manusia, attachment berdampak lebih mematikan terutama di masa-masa awal kehidupan. Maka anak-anak belajar untuk mengesampingkan suara authenticity mereka ketika menunjukkannya justru membuat mereka tidak disayang dan dirawat. Sering kali, authenticity adalah harga yang mesti dibayar untuk mendapat attachment.
“The onset of inauthenticity may not be a choice, but with awareness and self-compassion, authenticity can be.”
Gabor Maté, The Myth of Normal: Trauma, Illness, and Healing in a Toxic Culture.
Tugas orang tua adalah memastikan bahwa attachment adalah sesuatu yang kita berikan secara cuma-cuma dan konsisten kepada anak-anak. Mereka tak perlu membelinya dengan menukar authenticity mereka.
Family Systems Theory
Pengorbanan authenticity yang banyak terjadi ini tidak terjadi begitu saja di ruang hampa, tetapi terjadi dalam sebuah sistem bernama keluarga. Setidaknya sejak tahun 1950-an, ilmu psikologi mulai melihat manusia sebagai subyek yang tidak steril dari pengaruh keluarga di mana ia tumbuh. Murray Bowen lewat penelitian panjangnya terhadap pasien skizofrenia mempublikasikan temuannya bahwa keluarga adalah unit emosional tunggal. Kegagalan sebuah keluarga dalam memproses kecemasan akan mewujud pada gangguan mental maupun fisik pada salah satu atau beberapa individu di dalamnya.
Bowen mengembangkan gagasannya dan merumuskan delapan konsep yang terikat satu sama lain. Salah satu dari konsep itu adalah tentang posisi saudara kandung. Ia mengembangkan teori Alfred Adler dan menggunakan data-data Walter Toman untuk memformulasikannya.
Posisi lahir seseorang — sebagai anak keberapa ia dilahirkan — memunculkan peran fungsional di dalam keluarga tersebut, dan peran ini mempengaruhi pola perilakunya hingga dewasa. Peran dan label yang disematkan kepada mereka ‘mau tidak mau’ akan mereka jalankan demi menjadi tetap relevan di mata orang tua dan punya ‘tempat’ fungsional di dalam keluarga. Ini sangat esensial sebab ini yang membuat mereka merasa cukup berharga.
Kabar buruknya, sistem keluarga memanfaatkan kecenderungan ini demi tercapainya stabilitas emosional di dalamnya. Stabil, bukan sehat. Ketika hubungan kedua orang tua penuh kecemasan, mereka menggunakan anak untuk menyangga mereka secara emosional, dan ini terjadi tanpa disadari. Anak bergeser menjadi penengah konflik orang tua, atau menjadi sosok yang mendengar curhat dari salah satu atau keduanya tentang kekurangan orang tua yang lain. Tampak sederhana, tapi tidak dengan dampak yang ditimbulkannya. Parentification.
Salvador Minuchin melihatnya sebagai berikut: ada subsistem-subsistem di dalam sistem keluarga, yaitu subsistem orang tua, subsistem anak, dan subsistem pasangan. Masalah timbul ketika batasan antara subsistem itu tidak jelas dan sehat. Ketika batasannya terlalu kaku, maka tidak ada ikatan emosional antar anggota sistem. Ketika batasannya kabur, terjadi penyeberangan peran-peran antara subsistem satu dengan yang lain. Fenomana parentification terjadi ketika orang tua tidak kompeten menjalankan peran mereka sebagai orang tua, sehingga memaksa anak untuk menjadi orang tua bagi saudara-saudaranya, atau bahkan bagi orang tuanya sendiri.
Kita mudah masuk ke dalam jebakannya, yaitu melihat fenomena ini sebagai keberhasilan orang tua mendidik anaknya menjadi dewasa. Kita melihat si anak yang bertanggung jawab terhadap saudara-saudaranya sebagai anak yang berbakti, padahal ini adalah kegagalan struktur dan menyebabkan luka yang mendalam. Tidak semua luka disadari, memang, dan ini yang membuatnya makin parah sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian-penelitian yang dibahas Gabor Maté tadi.
Di dalam keluarga juga terjadi proses di mana orang tua memproyeksikan ketidakdewasaan mereka kepada anak. Semakin mereka merasa tidak berdaya, semakin mereka menaruh ekspektasi yang tinggi pada anak untuk bisa mandiri dan menjadi kuat, sering kali tidak mentoleransi kerapuhan yang sebenarnya wajar dimiliki siapapun sampai derajat tertentu. Parentification dan tuntutan tidak masuk akal ini secara umum rawan terjadi pada anak sulung.
Dari sudut pandang lain, Ivan Boszormenyi-Nagy melihat parentification sebagai pelanggaran etis. Fenomena ini bukan hanya masalah struktur, melainkan eksploitasi. Ketika orang tua menuntut dukungan emosional dari anak, mereka sedang melakukan ‘pinjaman paksa’ yang tidak akan pernah bisa dibayar kembali. Si anak kehilangan haknya untuk menjadi anak-anak. Di kemudian hari, ia mungkin merasa ‘kosong’ karena buku kas emosional mereka menunjukkan saldo negatif yang besar.
Kita Juga Leluhur
Selain menjalankan tradisi yang ada sejak entah kapan, cara kita melihat dan memperlakukan anak-anak kita sangat dipengaruhi oleh jenis rasa lapar yang kita alami. Keduanya sama-sama beroperasi di luar kesadaran, tapi menjadi faktor besar yang mengarahkan hidup kita dan hidup generasi berikutnya.
“Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate.”
Carl Jung
Kita mengalokasikan sebagian besar atau bahkan seluruh waktu untuk melihat anak-anak kita relatif terhadap saudara-saudaranya. Ini memang memberikan kemudahan dalam mengidentifikasi, menghemat banyak energi dan waktu yang memang sudah langka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kemudian kita memberikan label kepada mereka: si penurut, si disiplin, si cengeng, si penyabar, si pintar, dan seterusnya.
Selain menghadiahkan label, kita sebagai orang tua menunjukkan bahwa cinta kita kepada mereka bergantung pada tingkat kinerja mereka dalam memenuhi peran-peran yang kita berikan. Anak sulung sudah seharusnya selalu kuat dan mandiri, anak tengah semestinya mengerti kondisi orang tua yang kerepotan mengurus adik, si bungsu tidak boleh membuat keputusan besar karena ia anak kecil.
Tidak perlu buruk untuk membuat label identitas menjadi sebuah penjara yang kokoh bagi anak-anak. Ketika terpapar secara terus-menerus pada label identitas yang diberikan, mereka akan mempercayainya dan tidak menjalani sisi-sisi diri yang juga otentik. Ada komitmen bawah sadar yang sangat kuat di dalam diri kita untuk tetap setia pada orang tua dan leluhur, bahkan jika itu buruk atau merusak. Boszormenyi-Nagy menyebutnya sebagai invisible loyalties. Ini yang membuat kita sering mengulangi pola penderitaan orang tua atau mempertahankan peran yang mereka berikan karena kita merasa berkhianat jika kita menjadi berbeda atau lebih bahagia daripada mereka.
Pola ini akan menggelinding selamanya kecuali kita berusaha menghentikannya. Tentu ini adalah pekerjaan yang rumit dan sulit. Langkah awalnya adalah meneliti diri kita sendiri — seberapa besar kita terjerat pola yang ditransmisikan antar generasi ini dan pada area yang mana saja kita ingin menyudahinya. Tidak semua pola berguna, dan demikian juga: tidak semua pola merusak.
Kita berterima kasih kepada leluhur sebab berkat mereka juga kita masih bisa berkeliaran di sini, tapi kita mesti cukup jeli untuk memisahkan rasa terima kasih dengan tuntutan untuk meneruskan cara. Kita adalah juga leluhur bagi masa depan, dan kita punya sekian persen kendali atas apa yang perlu kita wariskan.
Mungkin, salah satu alasan mengapa melihat anak relatif terhadap saudara-sadaranya, memberikan label pada mereka, dan memberikan peran-peran yang berbeda membuat kita nyaman karena kita sangat lapar pada kepastian. Melihat anak tumbuh besar secara ukuran membuat kita lega. Tapi melihat mereka menjadi diri yang berbeda dari yang kita sangka menimbulkan kecemasan tersendiri. Ekspresi authenticity mereka sangat mungkin mengganggu definisi kita tentang mereka. Padahal, mereka hanya tumbuh.
Michael White, pionir dalam narrative therapy, memberikan cara yang bisa kita tempuh untuk mendobrak narasi yang selama ini kita percayai tentang anak-anak kita. Kita meluangkan waktu untuk mencari dan meneliti momen-momen kecil yang membuat label-label tadi menjadi terbukti tidak benar. Misalnya: momen-momen di mana Kimi yang terlabel sebagai anak ekstrovert meminta waktu untuk sendiri, atau ketika Kiyana yang sangat tidak suka tampil dengan semangat mengikuti kompetisi. Momen ini sedikit demi sedikit akan menggeser jalur label tadi, dan jika diakumulasi sangat mungkin akan mengubah keseluruhan cerita. Bahwa masing-masing kita — seperti kata Bob Dylan — a man of contradictions and a man of many moods … I contain multitudes — dan tidak perlu merasa bersalah atas itu. []
“It’s more important to be good ancestors than dutiful descendants. Too many people spend their lives being custodians of the past instead of stewards of the future. We worry about making our parents proud when we should be focused on making our children proud. The responsibility of each generation is not to please our predecessors — it’s to improve conditions for our successors.”
Adam Grant, Hidden Potential: The Science of Achieving Greater Things
