Menjelang ulang tahunnya yang ketujuh, Kiyana (anak pertama), mulai saya ajak belajar membaca. Sangat terlambat dibanding kebanyakan anak-anak, yang sudah mahir membaca sejak usia empat, lima, atau bahkan tiga. Saya merasa keheranan, tapi tampaknya mendaftarkan anak-anak usia dini ke lembaga-lembaga bimbingan belajar membaca adalah sebuah kenormalan hari-hari ini. Saya tidak tahu persis apa faktor utamanya. Beberapa berkata bahwa orang tua merasa harus mencari lembaga di luar sekolah untuk mengajar anak-anaknya membaca sebab aturan yang berlaku melarang kegiatan belajar di Taman Kanak-Kanak mengajarkan baca-tulis-hitung. Untungnya kami sudah memutuskan untuk tidak menyekolahkan Kiyana setidaknya di jenjang Sekolah Dasar. Belum bisa membaca bukan perkara untuknya, sehingga kami tak perlu tergesa-gesa.
Membaca, menurut saya, merupakan sebuah keterampilan berharga yang diwariskan oleh leluhur manusia. Membaca adalah sebentuk sihir yang membuat kita mampu memasuki dunia yang betul-betul berbeda, mengalami realita dari mata yang tak pernah kita punya, dan mereguk pengetahuan serta kabar dari seluruh penjuru dunia. Membaca merupakan alat yang sangat efektif – meskipun bukan satu-satunya – dalam proses belajar manusia. Oleh karena itu saya berharap anak-anak saya piawai membaca. Dan justru karenanya, saya sengaja menunda mengajak Kiyana belajar membaca.
Hanya karena membaca sebegitu pentingnya, bukan berarti harus diajarkan sejak dini. Hanya karena usia nol sampai lima atau enam disebut sebagai usia emas, bukan lantas mereka siap menelan apapun yang disajikan. Ada banyak hal lain yang jauh lebih penting dan pas dipelajari orang tua bersama anak pada periode ini daripada membawa mereka ke lembaga bimbingan belajar membaca – membangun secure attachment, belajar meregulasi emosi, memperbanyak kosakata, dan tentu saja: bermain!
Maka pada periode nol sampai enam tahun ini, yang saya lakukan sebagai upaya untuk mengundangnya menjadi pembaca adalah dengan banyak-banyak membacakan buku untuknya. Menyediakan buku-buku seberagam mungkin mutlak dilakukan untuk memungkinkannya memilih. Melihat apa yang dia pilih memberikan informasi tentang ketertarikan yang sedang dialaminya.
Ketika Kiyana berusia lima tahun, saya mulai memperbanyak membacakan buku-buku yang lebih tebal untuk menakar seberapa panjang rentang perhatiannya pada suatu cerita. Beberapa bacaan agak panjang yang saya tawarkan dan dia suka adalah: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang, Totto-Chan, Pangeran Cilik, Where the Mountain Meets the Moon, dan Na Willa. Sebagian habis dibaca dalam dua atau tiga hari, dan sebagian yang lain perlu dua atau tiga minggu.
Selain banyak-banyak membacakan buku, hal lain yang kami perbanyak lakukan adalah mengajaknya jalan-jalan ke museum atau ke taman dengan transportasi umum begitu pandemi mulai mereda. Di stasiun KRL dan MRT serta di halte-halte TransJakarta dia banyak terpapar tulisan-tulisan yang memberikan keterangan dan memberikan petunjuk arah. Begitu pula ketika di dalam bus atau kereta dan menatap ke luar melalui jendelanya – kami bergerak perlahan melewati banyak sekali tulisan yang beterbangan di sepanjang jalan. Sesampainya di museum, taman, atau mall, lagi-lagi kami berpapasan dengan huruf-huruf yang bergandengan tangan.
“Huruf-huruf itu ajaib, ya,” katanya ketika kami sedang berjalan-jalan, “Mereka bisa ngasih tahu banyak orang tanpa perlu ngomong berkali-kali.”
Saya mengajarinya membaca tanpa teknik atau metode khusus. Hanya ada satu aturan yang saya tetapkan di awal: sesinya pendek saja, sekitar sepuluh sampai lima belas menit. Awalnya dia tampak ogah-ogahan. Terlalu rumit, katanya. Dua minggu berlalu dan rasanya hampir tak ada perkembangan. Sebagian besar huruf masih tertukar-tukar, dan tidak ada gairah ketika belajar. Saya menawarinya untuk berhenti belajar dulu selama beberapa hari. Pada suatu hari ketika sedang bermain, tiba-tba dia berhenti dan berkata, “Jadi huruf-huruf itu nggak banyak ya? Kok bisa ya jadi buku yang banyaaaaak banget.”
Ketika kami mulai kembali kegiatan belajar membaca, dia tampak lebih bersemangat. Meskipun sesi belajar tetap pendek, mulai tampak perkembangan. Saat duduk di bus, dia mulai menunjuk tulisan-tulisan yang dia lihat di balik kaca dan membacanya – meskipun kadang-kadang geram karena bus terus melaju padahal dia belum selesai membacanya. Begitu pula ketika kami berjalan kaki, jajan di toko roti, belanja bulanan, dan beli kopi – dia membaca beberapa tulisan yang menarik untuknya. Matanya berbinar-binar setiap kali berhasil.
Hari ini, satu tahun sejak dia mulai bisa membaca terbata-bata, dia tampak gembira bercengkerama dengan buku-buku beraneka rupa. Ada komik, novel, kumpulan cerita pendek, novel grafis, juga ensiklopedia. Terakhir, dia merampungkan Harry Potter dan Batu Bertuah selama sekitar dua minggu dengan gembira. Dia bercerita tentang Harry yang selalu dijahati Dudley, Hagrid yang menjemput Harry ke Hogwarts, Diagon Alley yang memesona, Profesor Snape yang berterima kasih pada James dan Lily Potter bukan dalam kata-kata melainkan dalam tindakannya melindungi Harry, dan banyak lagi. Memanfaatkan api yang memancar dari wajahnya ketika bercerita, saya memintanya untuk menuliskan hasil pembacaannya itu dalam kata-katanya sendiri. Selain sebagai alat belajar menulis tangan dan mengingat-ingat untuknya, ini juga merupakan alat bagi saya untuk merefleksikan kemampuan membacanya.

Leave a Reply