Laku Spiritual, Lobus Frontal, dan Tujuh Hari dalam Sepekan

: Sebuah Catatan dari Berbagi Pembacaan (#2)

Karena pekan lalu cukup padat, kegiatan berbagi pembacaan baru kami lakukan di hari Minggu, 22 Juni 2025. Tempatnya masih di Arsey Coffee Studio yang Magic, Butter Fath double shot, dan ragam cheesecake-nya enak semua. Dapat giliran pertama, Kiyana cerita tentang buku yang sudah dia baca habis berkali-kali, yaitu Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat, dari Socrates hingga Galileo. Buku ini jadi salah satu favoritnya sejak pertama kali baca.

Kiyana menuturkan bahwa dari Socrates dia belajar bahwa orang yang paling bijak adalah mereka yang tahu bahwa diri mereka tidak tahu. Kiyana juga merasa sangat terkesan dengan keputusan Socrates menolak meminta keringanan ketika dia dijatuhi hukuman mati atas dakwaan melakukan dan mengajarkan pada kaum muda sesuatu yang sangat berbahaya, yaitu: bertanya.

Dari Plato, Kiyana jadi menyadari bahwa dunia materi yang bisa ditangkap oleh indera ternyata bukan satu-satunya dunia. Ada dunia lain yang butuh alat berbeda untuk menangkapnya, yaitu dunia ide.

Kiyana, melalui Epicurus, berkenalan dengan ataraxia, sebuah bentuk kebahagiaan tertinggi ketika semua penderitaan hilang – bukan karena dicabutnya segala yang tidak enak dari hidup kita, melainkan dari sikap hidup kita memahami dan menerima kerja alam semesta.

Copernicus mengajarkan keberanian untuk meragukan dan mempertanyakan sesuatu yang telah diterima secara luas sebagai kebenaran untuk waktu yang sangat lama, yaitu bahwa Bumi adalah pusat jagat raya.

Kepler, Newton, dan Galileo menyalakan semangat untuk mengamati segala sesuatu dengan seksama dan memformulasikan serta menyampaikannya. Tapi ada satu sosok yang secara khusus beresonansi dengan Kiyana, yaitu Diogenes.

“Kayaknya aku perlu belajar dari Diogenes deh. Dia latihan spiritual tiap hari untuk nggak mendengarkan dan terpengaruh omongan orang lain. Soalnya sekarang aku masih suka terganggu sama komentar-komentar orang yang sebenarnya aku nggak setuju.”

Ketika ditanya ide mana yang paling tidak dia sepakati, Kiyana menjawab bahwa itu adalah ide Aristoteles ketika dia mengatakan bahwa perempuan adalah laki-laki yang belum sempurna. Ketika ditanya mengapa, ini jawabannya.

“Untuk berkembang biak kan dibutuhkan perempuan dan laki-laki, tandanya keduanya sama-sama harus ada. Jadi nggak ada yang sempurna dan kurang sempurna, dong.”

Menyimak hasil pembacaan Kiyana, saya terutama belajar bahwa laku spiritual tidak perlu rumit atau tampak keren, tapi harus berangkat dari kebutuhan yang sifatnya personal, lalu dijalankan terus-terusan meskipun berkali-kali bosan di sepanjang jalan. Maka, cara mengukur pencapaiannya pun bukan dengan memperbandingkannya dengan laku orang lain.

Berikutnya, giliran saya yang cerita. Kali ini saya memilih buku favorit sejak bertahun-tahun lalu: Stumbling on Happiness yang ditulis oleh Daniel Gilbert, seorang Profesor Psikologi Harvard University yang banyak meneliti dan mempopulerkan affective forecasting dan Region-Beta Paradox.

Dalam Chapter 1, kita dibawa berkenalan dengan bagian otak kita yang paling baru dalam perjalanan evolusi manusia: lobus frontal. Kenaikan dua kali lipat volume otak dari Homo habilis ke Homo sapiens tidak didistribusikan secara merata ke seluruh bagian otak, melainkan terutama ke bagian ini.

Dulu, pada sekitar abad ke-19 hingga awal abad ke-20, lobus frontal sempat dipersepsikan sebagai bagian otak yang nggak penting-penting amat. Simpulan ini diperoleh terutama dari kasus Phineas Gage yang kehilangan sebagian besar lobus frontalnya dan tetap hidup seperti hari-hari sebelumnya (oke, tidak sepenuhnya – ternyata).

Berkat perkembangan studi Neurosains, lobus frontal berhenti disalahpahami. Salah satu fungsi penting yang dijalankan oleh bagian otak yang perlu waktu paling lama untuk berkembang sempurna ini adalah fungsi perencanaan.

Fitur baru ini membuat manusia jadi satu-satunya binatang yang berpikir tentang masa depan. Binatang-binatang lain mungkin mengaitkan apa yang terjadi sebelumnya (ketika terdengar gemerisik rumput, singa menerkam) dengan apa yang terjadi saat ini (bunyi gemerisik) sebagai dasar untuk memprediksi apa yang akan terjadi berikutnya (singa menerkam), tapi sifatnya lokal, personal, dan jangkauan waktunya sangat tipis. Gilbert menyebutnya sebagai nexting.

Tapi manusia, dengan bekal lobus frontalnya, punya mode lain ketika berpikir soal masa depan, yaitu prospecting. Mode ini dilakukan secara sadar dengan jangkauan waktu yang panjang serta melibatkan proses yang kompleks.

Lobus frontal, mesin waktu di dalam otak manusia, memungkinkan kita untuk menikmati conscious experience bukan hanya dengan mengalami saat ini (to see) dan mengalami masa lalu (to remember), melainkan juga mengalami apa yang tidak pernah ada tapi bisa jadi ada (to imagine).

Mungkin itulah mengapa kita dituntut kesaksian dan diberi pengingat yang mujarab berupa kematian – sesuai dengan kapasitas dan cara kerja si bekal spesial.

Berikutnya giliran @sapicihuy membagikan hasil pembacaannya atas salah satu bab di buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda karya Ernst Gombrich.

Bab 4 buku ini, yang berjudul Hari Surya Hari Rembulan, mengajak kita menelusur ke belakang menjumpai asal-usul mengapa kita bisa punya tujuh hari dalam sepekan, ke sebuah wilayah bernama Mesopotamia. Negeri ini berada di antara dua sungai (Efrat dan Tigris) dan secara geografis berposisi di Asia Barat Daya.

Dalam perjalanannya, negeri ini dihuni oleh suku-suku bangsa yang silih berganti, menghasilkan peradaban-peradaban besar. Beberapa suku bangsa terpenting yang disebut oleh Gombrich dalam bab ini adalah Sumeria, Babilonia, dan Asyur.

Lebih dari 5000 tahun lalu Bangsa Sumeria telah membuat batu-bata untuk konstruksi rumah dan kuil, perhiasan dan peralatan persembahan dari emas dan batu mulia, harpa, dan boardgame mirip catur yang dibuat dengan seni tingkat tinggi.

Bangsa Sumeria juga menemukan aksara, bilangan, dan sistem penghitungan. Mereka punya hikayat dengan cerita-cerita seru, laporan pencapaian raja-raja, perjanjian kontrak dagang, berita acara, dan daftar inventaris. Dengan penemuan ini, mereka punya ukuran untuk keadilan.

Ini diwariskan kepada bangsa yang lebih muda, yaitu Babilonia, yang kemudian melembagakan ukuran-ukuran keadilan itu dalam bentuk produk hukum. Maka terciptalah kitab undang-undang tertua di dunia: Undang-Undang Hammurabi.

Bangsa Babilonia dan Bangsa Asyur berhasil menangkap adanya rasi bintang. Lalu ada bintang-bintang aneh, yang tidak seperti banyak bintang lainnya, berubah-ubah posisinya. Mereka tidak hanya menyematkan nama dan sifat pada bintang-bintang ini (yang saat ini kita ketahui sebagai planet-planet yang berada dekat dengan Bumi), tetapi juga mempelajari pergerakan posisinya dan mencari korelasi antara pergerakan itu dengan nasib mereka yang di Bumi. Lahirlah cikal-bakal Astrologi.

Menganggapnya sebagai sosok dewa yang berkuasa, bangsa Babilonia dan Asyur mempersembahkan satu hari untuk tiap-tiap dewa. Satu untuk Matahari (Sunday), satu untuk Bulan (Monday), dan juga untuk Mars (Mardi – Bhs. Prancis), Merkurius (Mercredi), Jupiter (Jeudi), Venus (Vendredi), dan Saturnus (Saturday).

Dari kisah ini saya belajar bahwa bahkan dalam hari-hari yang paling membosankan sekalipun, ada jejak-jejak ribuan tahun masa lalu yang tertanam di hidup kita.

Mempelajari masa lalu adalah mempelajari hari ini, mencoba memahami leluhur adalah upaya memahami diri sendiri – baik sebagai pribadi, sebagai umat manusia, maupun sebagai debu kosmik. Mengingatkan saya pada kalimat Alan Watts yang ini:

“We do not ‘come into’ this world; we come out of it, as leaves from a tree. As the ocean ‘waves’, the universe ‘peoples’. Every individual is an expression of the whole realm of nature, a unique action of the total universe.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *