Babel dan Kuasa Bahasa

: Sebuah Pembacaan atas Novel Babel Karya R. F. Kuang

novel babel
Novel Babel (versi Bahasa Indonesia)

Babel atau Pertumpahan Darah: Sejarah Gelap Revolusi Penerjemah Oxford menjadi satu dari beberapa novel yang saya baca di tahun ini, dan menjadi yang paling membekas di antara semuanya. Novel fantasi sejarah yang berlatar di Oxford tahun 1830-an ini menunjukkan bagaimana bahasa bukan hanya perkara cara manusia bertukar isi kepala. Bahasa adalah juga faktor pendorong derajat efisiensi teknologi yang mempermudah hidup manusia. 

Di dunia Babel, mesin uap menjadi sangat efisien dan stabil karena disokong sistem sihir berbasis bahasa dalam bentuk batang perak. Begitu juga dengan pabrik-pabrik, pertanian, Jembatan Westminster, rumah dan taman yang indah dan menenangkan.

Begini cara kerjanya: sepotong kata dalam bahasa tertentu diukirkan pada sebuah batang perak, lalu di sisi sebaliknya diukirkan terjemahannya dalam bahasa lain. Jarak makna atau elemen bahasa yang hilang dalam penerjemahan pasangan kata itulah yang melahirkan efek magis tertentu. 

Perak menangkap apa yang hilang itu, kemudian memberinya wujud. (h. 95)

Misalnya wúxíng (tak terlihat, tak teraba – Bahasa Tionghoa) dan invisible (tak kasat mata – Bahasa Inggris) memberikan efek tak terlihat, tak berbentuk, mengembang dan mengambang hingga kehilangan batas-batas tubuh bagi si pembawa batang perak ketika kata-kata itu diucapkannya. Tapi ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu orang yang mengucapkannya harus benar-benar menghayati bahasa-bahasa di pasangan kata tadi. 

Di sinilah letak kekuatan Babel, sebuah institusi penerjemahan di dalam Universitas Oxford. Babel tak tergantikan karena ia satu-satunya penghasil batang-batang perak yang digunakan di banyak sisi kehidupan oleh banyak sekali orang dan perusahaan yang bersedia membayar harganya. 

Tokoh utama dalam novel ini bernama Robin Swift, seorang pemuda berdarah campuran Kanton dan Inggris. Ketika wabah kolera menyerang sebagian besar wilayah Asia, Robin diselamatkan dari kematian yang nyaris merenggutnya dengan kekuatan batang perak oleh Profesor Lovell. Seluruh keluarganya tewas. Profesor Lovell membawa Robin ke Inggris, menjadi walinya, memanggil guru-guru terbaik untuknya, dan hanya menuntut satu hal dari bocah malang itu: bekerja keras untuk menjadi penerjemah handal di Babel. 

Saya curiga, jangan-jangan novel ini juga ditenagai batang perak dengan pasangan kata yang membuat pembacanya terhisap ke dunia Robin Swift. 

Yang Hilang Tak Benar-Benar Lenyap

Babel meliteralkan energi besar yang terkandung dalam bahasa. Energi itu cukup untuk terus mendorong derajat efisiensi teknologi yang mempermudah hidup manusia. Tapi alih-alih semakin banyak manusia yang semakin termudahkan hidupnya, yang terjadi adalah justru dominasi kekuasaan oleh Imperium Britania Raya yang berujung pada penindasan demi penindasan. 

Bisnis batang perak sangat penting bagi perekonomian Imperium, tapi sayang mereka mengalami defisit cadangan perak. Sementara itu, Tiongkok punya perak yang melimpah. Imperium menginginkannya, maka dilancarkanlah strategi yang dihitung dengan sangat teliti untuk memaksa terjadinya perdagangan. Strategi ini turut melibatkan para akademisi Babel. 

Kapal-kapal dagang yang dilengkapi fasilitas perang membawa gunung opium ke pelabuhan Tiongkok. Ketika Kaisar menerbitkan larangan perdagangan opium, langkah berikutnya sudah diperhitungkan sebelumnya. Yang disebut-sebut sebagai perdagangan kadang-kadang bukan pertukaran barang yang masing-masing diinginkan kedua pihak. Perdagangan juga bisa menjadi alat penindasan.

Dan kalau aku bisa, setiap orang, pria, wanita, dan anak-anak di negara ini akan kubuat mengisap opium sampai mereka tak bisa berpikir waras. (h. 351)

Tapi energi bahasa pula yang digunakan oleh Robin dan kawan-kawan seperjuangannya untuk melakukan perlawanan, menjungkirbalikkan tatanan permainan yang terlalu lama tampak tak terbantah dan tak terkalahkan itu. 

Ini menunjukkan setidaknya dua hal. Pertama, alat adalah alat. Siapa yang memegangnya menentukan seperti apa rupa masa depan dunia. Kedua, di dalam jarak makna antara dua bahasa terkandung kekayaan sudut dan cara pandang manusia dalam konteks budaya terhadap fenomena-fenomena yang dialaminya. 

Suatu bahasa tidak lebih komprehensif dibanding bahasa lain hanya karena jumlah kosakata atau aturan gramatika yang dimilikinya. Yang terjadi adalah: suatu bahasa lebih presisi dibanding bahasa lain dalam memandang fenomena tertentu, tapi kurang presisi ketika memandang fenomena yang lain. Asimetri yang membuat proses penerjemahan tidak dapat dilakukan tanpa menimbulkan makna yang hilang ini bukanlah bentuk kegagalan penerjemahan. Ini justru informasi penting pada area manakah kekayaan bahasa-bahasa tersebut berada. 

Ini sekaligus menjadi pengingat atas betapa berharganya penghayatan subyektivitas. Urgensi mempelajari bahasa asing mestinya tidak menjadi pengurang pentingnya mempelajari dan menghayati bahasa lokal yang kita miliki, sebab bahasa adalah juga tentang bagaimana kita merasa dan mengada. Pada akhirnya, kenyataan yang paling nyata adalah pengalaman subyektif kita, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. 

Tapi kolonialisme menggiring kita untuk menjauh dari kekayaan subyektivitas ini. Kemajuan menjadi berwajah tunggal, sehingga segala sesuatu di luarnya segera kita beri label terbelakang. Ketika melihat anak-anak di masyarakat adat tertentu berjalan bertelanjang kaki, misalnya, kita segera merasa kasihan dan tergerak untuk mendatangkan sepatu-sepatu bagi mereka. Kita tak sanggup membayangkan kemungkinan bahwa mereka tidak membutuhkan sepatu. 

Ramy dan Ilusi Keberadaban

Sahabat paling dekat Robin, Ramy (Ramiz Rafi Mirza), adalah seorang pemuda yang berasal dari Kalkuta. Mirip dengan Robin, Ramy datang ke Inggris bersama walinya — seorang Inggris terpelajar yang melihat kecemerlangan otak Ramy sejak kecil. Walinya ini pernah tinggal di Kalkuta, di mana orang tua Ramy bekerja di rumahnya. 

Ramy dengan warna kulit cokelat dan struktur wajah yang sangat berbeda menghadapi Oxford yang lebih keras dibandingkan Robin. Perlakuan rasis bukanlah sesuatu yang asing untuknya. Tapi untung Ramy punya nyali dan keluwesan yang menakjubkan dalam menampilkan identitas yang tepat. 

Ramy menolak diinjak-injak, maka dia menunggangi imajinasi orang-orang kulit putih itu dan menyesuaikan ‘wajahnya’. Ramy pernah membual sebagai keturunan Raja karena dia tahu persis betapa mereka menyukai imaji bangsawan Timur yang eksotis. 

Jadi apa pelajarannya, Birdie? Kalau mereka akan membentuk cerita sendiri tentang dirimu, manfaatkan untuk kepentinganmu. (h. 63)

Ramy adalah contoh bagaimana bangsa-bangsa penjajah memandang manusia di luar kelompoknya sebagai makhluk rendahan, sembari menyesap sumberdaya yang mereka miliki sampai tandas tanpa rasa malu sedikitpun. 

Kuang dengan cemerlang menuangkannya dalam kalimat ini: 

Dan Robin menganggapnya hebat sekali, bagaimana negara ini, yang penduduknya berbangga diri karena merasa lebih baik dari semua orang di seluruh dunia, tak mampu bertahan hingga jamuan teh sore tanpa barang-barang pinjaman. (h. 199)

Letty dan Jurang yang Tak Terseberangi

Di kampus, Robin punya dua sahabat lagi selain Ramy. Mereka adalah Letty dan Victoire. Letty adalah puteri seorang laksamana Inggris yang lahir dan tumbuh besar di rumah mewah Brighton dengan setengah lusin pelayan. Mudah menyimpulkan bahwa dia punya segalanya. 

Tapi sang ibu meninggal ketika melahirkannya dan sang ayah membencinya. Lebih buruk lagi, dia tidak mendapat akses pendidikan seperti yang didapat Lincoln, abangnya. Pada masa itu, takdir seorang perempuan Inggris hanyalah menjadi istri, menjadi properti. 

Kehausannya yang mendalam akan ilmu kebahasaan membuatnya menemukan jalan untuk belajar. Letty kecil menguping sesi pelajaran Lincoln dan membaca-baca sendiri, sampai Bahasa Yunani dan Latin terserap dengan sangat baik di otaknya yang cemerlang. Beruntung, nasib baik berpihak padanya. Lincoln meninggal, Letty melamar ke Oxford dan diterima. 

Letty mengalami diskriminasi — di kelas, di perpustakaan, di tempat tinggal, dan di jalan-jalan. Pengalaman hidup perempuan bermata biru itu sebagai korban dari misogini yang sangat kental membuatnya merasa senasib dengan tiga sahabatnya: Robin, Ramy, dan Victoire. Letty merasa telah memahami penderitaan ketiganya, memahami sudut pandang mereka terhadap Imperium kolonial. 

Tapi tidak. Tetap ada jarak yang sangat lebar antara Letty dengan ketiga sahabatnya. Letty tak bisa melihat kenyataan bahwa imajinasinya tentang masa depan Imperium yang kokoh dan tak terkalahkan, yang memberikan jaminan hidup yang lebih baik, ternyata tidak sebangun dengan imajinasi di kepala Robin, Ramy, dan Victoire. Maka bahkan setelah bertahun-tahun saling memiliki satu sama lain, Letty tak dapat melihat perlawanan yang dilakukan ketiganya sebagai sesuatu yang rasional. 

Dia tak sanggup memahami sebuah realitas di mana manusia (dan kaumnya) sangat bisa berada dalam bahaya di dalam sebuah sistem yang memberi mereka makan dan masa depan. Dia tak mengerti bahwa tindakan-tindakan melawan hukum bisa muncul karena hukum yang ada tidak mampu mewadahi keadilan dasar yang mestinya ada. Ketidaksanggupan itu yang membuatnya sanggup membuat satu peluru bersarang di dada lelaki yang begitu dicintainya, Ramy. 

Ketidakmampuan Letty melihat melampaui tembok besar di depan matanya ini tidak hanya berada di dunia Babel, sayangnya. Ini juga bekerja di kepala-kepala kita hari ini. Mudah untuk menghakimi tindakan-tindakan kelompok masyarakat tertentu yang buat kita buang-buang energi, membahayakan, dan tak akan berdampak apa-apa, karena kita tak mampu seberapa besar penderitaan yang selama ini mereka tanggung di bawah sistem yang sama dengan kita — sistem yang menurut kita baik-baik saja meski tak sempurna, tapi melancarkan opresi yang tak henti kepada mereka. 

Robin dan Transformasi Diri

Membaca Babel saya menyaksikan bagaimana diri Robin bertumbuh seiring waktu. Robin kecil yang tidak mengenal dunia di luar kebahasaan dan bacaan-bacaannya, yang merasa beruntung karena telah diselamatkan nyawa dan nasibnya oleh Profesor Lovell sehingga dia bisa menikmati fasilitas kelas tinggi di Babel alih-alih menjadi buruh di pelabuhan Kanton, perlahan mempertanyakan sisi dunia yang lain semenjak pertemuannya dengan Griffin dari perkumpulan rahasia Hermes. 

Saya melihat Griffin memainkan peran The Mentor bagi Robin. Griffin menyeret Robin keluar menyaksikan bahwa meskipun Babel adalah surga ilmu pengetahuan, ia adalah juga mesin penindas. Griffin melatihnya berinteraksi dengan bahaya secara bertahap, datang dan pergi sesuka hati, menunjukkan harga untuk sebuah revolusi, dan siap memberi pertolongan dan naungan ketika Robin berada dalam bahaya besar. Meskipun Griffin tak bisa dijumpai kecuali dia yang ingin menemui Robin, Robin masih merasa ‘aman’ karena ada Griffin. 

Lalu tiba-tiba saja Griffin mati dalam pertempuran. Sebagaimana yang terjadi pada banyak kisah, kematian The Mentor adalah titik kebangkitan The Hero. Demikian juga yang terjadi pada Robin. Kepergian Griffin adalah katalisator terbesar transformasi diri Robin. Robin menemukan keberanian nya yang mengagetkan bahkan untuk dirinya sendiri. Robin mengintegrasikan beragam sisi diri yang selama ini tak terindera keberadaannya.

Victoire dan Keberanian untuk Hidup

Victoire Desgraves lahir di Haiti dan tumbuh di Prancis di rumah keluarga Profesor Desjardins, seorang pensiunan akademisi. Ketika itu sebenarnya deklarasi hak asasi manusia telah disahkan, tapi tidak demikian dengan praktik-praktik perbudakan dan hak kepemilikan budak. Victoire belajar bahwa dominasi kulit putih terhadap kulit hitam — terhadap kaumnya — adalah hal yang normal. Berkat kecerdasannya, jalan kemerdekaan Victoire terbentang di depan. Langkah pertamanya ada di Babel. 

Ketika kemudian dia bergabung dengan gerakan perlawanan Robin dan sebuah perkumpulan bawah tanah bernama Hermes, Victoire tahu persis bahwa revolusi tidak menjanjikan apapun. Kemenangan adalah ketidakpastian, sementara bahaya dan kekejaman sudah pasti menantinya. Tapi dia tahu itu yang harus dilakukannya. 

Ia tahu ia akan menghadapi kekejaman tak tergambarkan. Ia tahu rintangan terbesarnya adalah ketidakpedulian, yang lahir dari kepercayaan mengakar pada sistem ekonomi yang menguntungkan sebagian pihak dan menindas lainnya. (h. 636)

Victoire dengan ketenangannya memberikan kekuatan dan dukungan yang sangat diperlukan Robin sampai menjelang detik-detik akhir pertempuran di mana Menara Babel diledakkan oleh Robin dan beberapa yang lain. Ketika Victoire memilih pergi dari menara dan tidak ikut meledak bersamanya, itu bukanlah bentuk melarikan diri.

Robin dan Victoire menunjukkan dua wajah keberanian yang sama-sama diperlukan dalam revolusi. Robin berani mati, dan Victoire berani hidup. Dengan berani tetap hidup, Victoire bukan saja menjadi penerus perjuangan, melainkan juga sebagai penjaga ingatan, penyedia narasi tandingan dari sejarah yang ditulis oleh penguasa, dan pemersatu pejuang-pejuang yang tersebar di mana-mana. 

*

Pada akhirnya, Babel berhasil mengaduk-aduk kepala dan hati saya, mendudukkan saya pada satu realita tak terbantah bahwa saat ini pun kita juga berada di dunia yang tak banyak berbeda dengan dunia yang ditinggali Robin dan sahabat-sahabatnya. Dunia di mana ketimpangan dan penindasan dipelihara seolah-olah memang demikianlah cara dunia bekerja. Dan, ya, memiliki keberanian seperti yang ditunjukkan Robin, Ramy, dan Victoire adalah sebuah pilihan yang pantas diambil. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *