Peradaban Monokultur dan Tumpukan Sampahnya

: Sebuah Pembacaan atas Buku Kodrat Alam Vandana Shiva

Kodrat Alam – Vandana Shiva

Buku Vandana Shiva yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Kodrat Alam: Gangguan Metabolik Perubahan Iklim ini menunjukkan bahwa kesehatan planet dan kesehatan manusia adalah satu kesatuan. Ada interaksi yang saling mempengaruhi antara keanekaragaman hayati di tanah, di tanaman kita, dan di dalam usus kita.Ā 

Kehidupan berputar ketika beragam hewan, tanaman, manusia, bakteri, jamur, virus, air, udara, dan tanah punya tempat, masing-masing saling terhubung, masing-masing saling bertukar, menciptakan ekonomi sirkular. Tanpa polusi dan limbah yang menimbulkan masalah-masalah baru lagi.Ā 

Kemudian muncul perekonomian ekstraktif yang tak kenal batas, yang tanpa ragu melancarkan tipu daya hanya untuk menemukan semakin banyak pembeli dan menciptakan sebanyak-banyaknya transaksi. Klaim-klaimnya penuh janji produktivitas, efisiensi, dan kemajuan yang lebih tinggi daripada kemarin— tapi semakin hari, kita digiring mendekat ke kehancuran. Argumentasinya seolah-olah didasarkan pada penemuan-penemuan sains, tapi nyatanya ada kesalahan besar dalam penghitungan. 

Kita gunakan semakin banyak sumber daya untuk memproduksi barang-barang yang kita konsumsi, dan menyebutnya lebih ā€œproduktifā€. Kita ciptakan semakin banyak limbah dan eksternalitas yang harus ditanggung bumi dan pihak lain, dan kita menyebutnya jadi lebih ā€œefisienā€. Kita rusak planet ini, mendorong spesies menuju kepunahan, menjadikan bumi semakin tidak layak huni karena kekacauan iklim, dan menyebutnya ā€œkemajuanā€. (h. 39)

Shiva secara eksplisit menolak penyebutan era antroposen, sebab menurutnya ā€˜tidak semua manusia adalah predator’. Bencana iklim, hancurnya keanekaragaman hayati, krisis pangan, dan malapetaka kesehatan yang kita alami saat ini bukan ulah manusia sebagai keseluruhan spesies, melainkan akibat dari keserakahan kelompok 1% — korporasi pencemar, para miliarder di baliknya, dan pemerintah korup yang memberikan izin atas semua kesembronoan itu. 

Selama ribuan tahun manusia memproduksi makanan dengan aktivitas pertanian yang selaras dengan ritme alam, yang melihat Bumi sebagai Ibu bukannya bahan baku, yang mengembalikan sebagian yang telah diberikan Bumi kembali kepadanya. Lalu datanglah kelompok 1% yang mengekstraksi alam tanpa batas sampai ke kedalaman perut bumi, memastikan kita semua membeli produk mereka, kemudian ketika terjadi masalah-masalah iklim dan kesehatan akibat kerakusan itu, mereka membajak konferensi-konferensi lingkungan hidup internasional untuk berjualan lagi — kali ini produknya berupa solusi-solusi palsu yang dikemas secara meyakinkan dan nyaris tak terhindarkan. Rekayasa kebumian (geo-engineering), rekayasa genetika (genetic engineering), pangan imitasi, Net Zero, dan tebus karbon (carbon offsets). Bukan saja tidak mampu mengatasi masalah iklim dan masalah kesehatan, solusi-solusi ini justru menimbulkan masalah-masalah baru. 

Paradigma yang dianut oleh kelompok 1% adalah paradigma mekanistik yang berdiri di atas dua asumsi. Asumsi pertama: Bumi tidak hidup, tidak punya kapasitas mengorganisasi dan menyembuhkan diri. Bumi direduksi menjadi sebuah komponen input dalam rantai produksi. 

Asumsi berikutnya adalah bahwa hidup tersusun dari bagian-bagian yang dapat dipisahkan. Akumulasi pemahaman atas setiap bagian merupakan pemahaman atas kehidupan seutuhnya. Kita bisa mempreteli kehidupan, memanipulasi satu atau beberapa bagiannya, dan mengira tak akan ada konsekuensi ekologi yang mesti kita alami. Kita tiba-tiba punya jarak yang sangat jauh dari ekosistem. 

Kesalahan paradigma ini mengakibatkan kesalahan diagnosis. Siklus nutrisi dan siklus air yang merupakan siklus dasar kehidupan yang saling terhubung tiba-tiba dipotong oleh terobosan bernama pupuk sintetis. Pupuk sintetis merombak seluruh permainan dalam pertanian — sayangnya bukan ke arah yang lebih maju sebagaimana klaimnya. 

Pupuk sintetis dipasarkan sebagai agen pendorong produktivitas dan efisiensi. Masalahnya, metrik yang digunakan untuk mengukur produktivitas adalah ā€˜hasil panen’. Yang dikejar adalah berat komoditas belaka, tidak turut memperhitungkan kekayaan nutrisi yang didapat dari lahan pertanian. 

Nyatanya, pupuk sintetis menyumbang 2% emisi gas rumah kaca global, bahkan melebihi sektor penerbangan komersial. Emisi ini dihasilkan sejak produksi (sebuah proses pemanasan bahan bakar fosil hingga suhu 500°C), distribusi dalam jarak jauh, dan penggunaannya di lahan pertanian. Pupuk sintetis juga menyebabkan kerusakan siklus karbon, nitrogen, dan hidrologi sebab pertanian dengan pupuk sintetis jauh lebih boros air. Pupuk sintetis juga membunuh hampir seluruh cacing tanah, bakteri, dan jamur yang membentuk jaring makanan kompleks menghasilkan tanah sehat berisi kehidupan. 

Padahal kacang-kacangan mampu mengikat nitrogen di dalam tanah tanpa efek pengrusakan. Di samping itu, tanaman ini juga menyediakan nutrisi yang baik bagi kesehatan kita. Itulah mengapa pertanian ā€˜kuno’ mengintegrasikan kacang-kacangan di dalamnya. 

Keanekaragaman hayati di dalam tanah dihancurkan oleh pupuk sintetis, sementara keanekaragaman hayati di lahan pertanian dihancurkan oleh peradaban monokultur. Industri pangan skala besar ā€˜memaksa’ kita memakan makanan yang serupa, menjauhkan kita dari pangan lokal. Gastrokolonialisme menyerang seluruh dunia. Kita menjadi pelanggan abadi korporasi multinasional penghasil makanan olahan. Ketahanan pangan kita terkikis habis, epidemi penyakit makin banyak.Ā 

Makanan ultraproses, yang hari ini menjadi semakin lazim dalam porsi makan kita sehari-hari, bukan hanya menggunakan bahan-bahan sintetis berbahaya melainkan juga boros energi dan sumber daya, serta kontributor emisi yang merusak iklim dan kesehatan. Makanan minim nutrisi dan padat racun yang menguasai meja makan kita secara simultan menyerang keanekaragaman hayati di dalam usus kita dan kesehatan planet. 

Bahkan makanan-makanan yang terdengar menyehatkan dengan label ā€˜berbasis tanaman’ (plant-based) bahan utamanya adalah protein leghemoglobin kedelai yang berasal dari ragi modifikasi genetik. Seluruh proses produksi dan pemasarannya juga sama dengan makanan ultraproses yang sudah lebih dulu ada. Begitu pula dengan daging imitasi dan produk-produk pangan hasil rekayasa genetik lainnya. Mereka hadir dalam bentuk yang berbeda, tapi membawa dampak kesehatan dan lingkungan yang sama buruknya dengan makanan ultraproses pendahulunya. 

Saat ini dunia juga sedang menggenjot produksi biofuel, yang diperkenalkan sebagai energi bersih terbarukan. Akan tetapi ada setidaknya tiga alasan ekologis mengapa mengubah tanaman seperti kedelai, jagung, dan kelapa sawit menjadi bahan bakar cair justru berpotensi besar memperparah beban CO2, memperburuk krisis iklim, menyebabkan erosi keanekaragaman hayati, dan berkontribusi pada menipisnya sumber air. 

Pertama, deforestasi demi membuka lahan perkebunan baru. Kedua, biofuel melepas lebih banyak emisi dibanding bahan bakar konvensional. Ketiga, harga pangan dunia naik hingga 10% karena lahan tanaman pangan bersaing dengan lahan produksi biofuel. 

Energi hanya dapat dianggap berkelanjutan jika tidak bersaing dengan pasokan pangan, tidak mengalihkan bahan organik dari pemeliharaan ekosistem penting, dan terdesentralisasi. (h. 132)

Menghadapi raksasa industri yang telah sekian lama beroperasi dan membentuk pola pikir, pola makan, dan pola hidup kita memang sangat rumit. Tapi mengidentifikasi di titik mana dan sejauh apa kita terbawa oleh arus tipu daya itu, adalah langkah awal yang penting. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *