Olaf benar — ketika dia bilang bahwa kura-kura bernapas dengan pantat, dan ketika dia menyanyikan lagu ini:
This will all make sense when I am older
Someday I will see that this makes sense
One day, when I’m old and wise
I’ll think back and realize
That these were all completely normal events
Ya, konstruksi kita atas waktu adalah ilusi. Namun keterbatasan kita untuk melihatnya sebagai ilusi dan ketidakmampuan kita untuk melepaskan diri dari ilusi itu ternyata bukan kegagalan, melainkan syarat utama untuk mengalami kehidupan dan membawa pulang sesuatu darinya.
Kita berjalan di sepanjang aliran waktu itu, bertemu dan terpaksa memungut hal-hal tidak masuk akal, hanya bisa bertanya-tanya dan sesekali mengabaikannya, lalu dhuarr! pada suatu titik di aliran sungai itu, semuanya menjadi sedikit lebih masuk akal daripada sebelumnya. Kita bertemu kenyataan bahwa akal kita — seperti struktur ruangwaktu — ternyata juga bisa melengkung, meregang, menyusut, dan bergetar.
Algoritma yang Mana
Kita hidup di zaman yang sungguh ajaib. Kita punya asisten yang mau dan mampu disuruh-suruh untuk melakukan apapun — membantu riset, mengorganisasikan ribuan gagasan yang berserakan, menganalisis teks dan video, menjadi teman diskusi tanpa batasan tema, men-generate gambar dan video yang makin hari makin halus, membuat skrip kode bahasa pemrograman, bahkan membuat sesuatu yang menyerupai karya seni. AI adalah asisten yang sangat efisien, tanpa drama, punya growth mindset, dan tersedia sepanjang waktu.
Namun AI bukan sekadar alat yang tombolnya berada di tangan kita sepenuhnya. Ketika ia ditempatkan di sebuah wadah bernama media sosial, ia belajar membuat algoritma yang makin presisi demi terpenuhinya engagement yang maksimal.
Algoritma memang berpotensi mendekatkan kita pada hal-hal yang membangkitkan rasa ingin tahu kita, kecuali ketika kita menyerahkan diri bulat-bulat kepada apa saja yang dihidangkan. Ketika kita tidak mengambil peran yang berdaya mengarahkan algoritma, kita akan masuk ke aliran hiburan yang semata-mata menyenangkan. Sumber dopamin murahan ini makin erat menggenggam tangan kita, meminta jatah waktu dan perhatian kita lebih banyak lagi.
Dengan skenario ini, AI bukan lagi asisten yang efisien. Ia telah bertransformasi menjadi arsitek yang berkuasa atas hidup kita — mendikte ke mana kita harus mengarahkan perhatian dan mengalokasikan waktu dan energi. Kita juga bertransformasi dari manusia menjadi budak algoritma yang digiring ke sana ke mari, menyangka kita sedang menghimpun pengetahuan dan wawasan sementara yang terjadi adalah penumpukan clutter yang tak pernah kita butuhkan.
Terbatas pada area-area tertentu, AI berpotensi membantu proses belajar manusia. Namun di sisi satunya lagi, AI mengamplifikasi ekspektasi-ekspektasi sosial. Sayangnya, ia tak pernah beroperasi pada ranah baik dan buruk.
AI tidak peduli apakah sebuah trend di Tiktok punya efek buruk pada kesehatan mental dan fisik manusia. AI juga tak peduli apakah standar kecantikan dan pencapaian tertentu yang viral sangat berbahaya bagi otentisitas remaja yang menontonnya. Jonathan Haidt dalam The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Childhood Is Causing an Epidemic of Mental Illness dengan tajam menyebut bahwa media sosial dengan desain algoritmanya merupakan mesin konformitas paling efisien yang pernah diciptakan.
Bocoran dari Si Pembawa Peta
Tapi memangnya apa yang salah dengan mengikuti trend? Bukankah ini hanya salah satu cara manusia untuk tetap relevan dengan zamannya? Untuk menjadi bagian dari komunitas? Untuk bisa fit in sesuai dengan konteks sosial di mana dia berada? Untuk tidak terasing oleh budaya yang berlaku pada masa hidupnya?
Mengikuti trend memang bukan masalah, kecuali jika kita merasa harus mengikutinya hanya supaya diterima, hanya karena orang-orang lain begitu. Melek pada apa yang sedang terjadi saat ini di berbagai belahan dunia juga tidak salah, kecuali jika dilakukan dalam dosis tinggi hingga koneksi dengan Diri sendiri terkubur demikian dalam dan terlupakan. Punya media sosial memang tidak salah, kecuali jika kita menggunakannya dalam cara-cara yang mengaburkan rasa ingin tahu yang bergolak di dalam diri.
Rasa ingin tahu ini seringkali tampak acak, bergerak melompat-lompat dari satu topik ke topik lain yang tampak tak berhubungan, dan jauh dari berguna. Tidak ada utilitas jangka pendek dari mengikuti rasa gatal yang tidak bisa digaruk ini. Di samping itu, rasa ingin tahu juga menyita waktu dan perhatian kita. Lalu apa bedanya dengan algoritma media sosial? Toh kita sama-sama terpenjara, sama-sama tidak merdeka.
Jika algoritma media sosial bersandar pada engagement sosial tanpa kompas moral, rasa ingin tahu yang terus menghantui itu muncul dari sisi Diri kita yang membawa peta. Ia tidak berbicara dalam bahasa verbal, tapi dari remah-remah kecil yang ditaburkan satu demi satu di sepanjang jalan. Seberapa sering kita mendengarkan dan mengikutinya sangat mempengaruhi seberapa banyak remah-remah yang akan kita temukan berikutnya.
Jangkar Kontribusi
Gagasan bahwa kontribusi paling optimal yang bisa kita lakukan bergantung pada seberapa keras kerja yang kita lakukan memang terlihat seperti aksioma. Benar dengan sendirinya. Sampai titik tertentu, ya — tapi ada fondasi yang tak boleh hilang.
Fondasi itu bernama otentisitas.
Sejauh ini pengetahuan kita mendeskripsikan keberadaan bermula dari sebuah ledakan besar. Sekitar 13,8 miliar tahun lalu, ada satu titik kecil dengan kepadatan dan suhu tak terhingga. Titik itu dinamakan Singularitas. Ledakan besar terjadi, dan terhamparlah ruangwaktu sehingga menjadi apa yang kini kita sebut alam semesta. Hukum-hukum fisika mulai berlaku, pecahan-pecahan terlampar ke seluruh penjuru, berdansa dan bergabung membentuk bermacam-macam senyawa dan benda langit raksasa.
Kita adalah pecahan-pecahan itu. Kita adalah alam semesta yang sedang mengalami dirinya sendiri. Kita adalah organ kesadaran dari seluruh jagat raya. Ke mana arah rasa ingin tahu kita menuju, di sanalah pecahan dari alam semesta yang mesti kita alami. Dan di sanalah terletak kepingan-kepingan puzzle yang setelah dikumpulkan beberapa waktu akan menjadi utuh — dan dengan demikian: masuk akal.
Dunia terlalu luas dan kompleks untuk diselesaikan oleh sekumpulan makhluk dengan cara berpikir yang seragam. Otentisitas bukanlah keberanian menjadi berbeda. Otentisitas adalah kerelaan untuk mengalami diri sendiri — dengan segala perbedaan dan kesamaannya dengan pecahan-pecahan lain.
Jika kita menggantungkan kontribusi dan identitas keseluruhan diri kita pada fungsi kita dalam kata kerja, maka hilangnya fungsi adalah keruntuhan eksistensi, seperti tragedi yang dialami Gregor Samsa di dalam Metamorphosis Franz Kafka. Menjangkarkan kontribusi pada otentisitas masing-masing individu mungkin tampak utopis, tapi mengambil langkah-langkah kecil ke arahnya adalah sesuatu yang patut diambil — dengan membuka kesempatan bagi diri sendiri dan generasi berikutnya untuk lebih banyak mengarahkan perhatian pada rasa ingin tahu.
Olaf benar, pada suatu titik semua akan jadi masuk akal, tapi itu bukan sesuatu yang cuma-cuma. Kita harus mau membayarnya dengan mengikuti seluruh remah-remahnya. []
