Site icon ratridian

Navigasi di Dunia Fraktal: Bekal Peta dan Indera

“The most beautiful thing we can experience is the mysterious. It is the source of all true art and science. He to whom this emotion is a stranger, who can no longer pause to wonder and stand rapt in awe, is as good as dead: his eyes are closed. “

Albert Einstein, The World As I See It

Selama lebih dari dua milenium, Stoicheia karya Euklides telah menjadi kitab suci geometri yang merangkum sekaligus membentuk persepsi manusia tentang ruang yang ditinggalinya. Dunia Euklides adalah dunia kepastian yang dibangun dalam lapisan-lapisan dimensi yang tersusun rapi. Titik adalah objek tanpa dimensi, garis adalah objek satu dimensi, bidang dua dimensi, dan bangun ruang tiga dimensi. Seluruh isi dunia bisa diprediksi. Navigasi, arsitektur, dan teknik sipil sepenuhnya berdiri di atas fondasi yang ditaruh Euklides ini. 

Namun di skala galaksi, geometri ini runtuh oleh lengkungan ruangwaktu yang tercipta oleh massa bintang-bintang. Di panggung yang ikut menari seperti ini, garis lurus hanyalah ilusi sebab seluruh lintasan yang ditempuh oleh objek apapun yang merasa sedang berjalan lurus nyatanya berlekuk-lekuk dan berkelok-kelok. Postulat-postulat Euklides memberikan pedoman besar bagi umat manusia, tapi terbatas pada bidang datar. Di skala kosmis tidak ada bidang datar. 

Geometri Euklides juga runtuh di skala mikroskopis sebab kekasaran struktur terus ditemukan tak peduli berapa kali kita memperbesarnya. Keruntuhan berikutnya terjadi di skala yang kasat mata, di mana Euklides gagal mendeskripsikan pola-pola alam yang tidak teratur dan jauh lebih kompleks — yang selama ini dilabeli ‘tanpa bentuk’. 

Benoît Mandelbrot dalam The Fractal Geometry of Nature menuliskan bahwa awan bukanlah bola, gunung bukan kerucut, garis pantai bukan lingkaran, kulit kayu tidak mulus, bahkan kilat pun tidak merambat dalam garis lurus. Jika pola-pola di alam gagal dideskripsikan dengan cukup baik, maka peran geometri sebagai metode mendekati hakikat alam semesta sangat patut dipertanyakan.

Mimpi Rekursi Persegi

Mimpi ini saya alami di pertengahan awal usia belasan. Saya sedang berdiri mengamati dunia kecil yang bergerak dinamis dalam hamparan bidang berbentuk persegi panjang dengan bingkai putih di keempat sisinya. Ketika sedang asyik memandangi pergerakan awan kelabu, mobil, dan objek-objek lain di dalamnya, sebuah tangan raksasa menarik badan saya ke belakang dengan gerakan tiba-tiba. Semua gelap, kecuali objek persegi panjang berisi miniatur yang mengasyikkan tadi. 

Pada langkah mundur pertama, ia berubah bentuk menjadi persegi. Pada langkah-langkah mundur berikutnya yang terjadi makin cepat, persegi itu mengecil karena jarak yang makin jauh di antara kami. Lalu muncul persegi baru yang menampung persegi tadi di dalamnya, dengan objek-objek di dalamnya yang sama persis dengan persegi awal. 

Adegan persegi mengecil, lenyap, lalu tertampung oleh persegi berikutnya ini terjadi berulang-ulang. Meskipun yang berputar-putar adalah persegi-persegi yang sangat banyak itu sementara badan saya hanya bergerak mundur, kepala saya rasanya juga ikut diputar-putar. Rasanya seperti selamanya sampai tidak lagi. Semua lenyap dan yang tersisa hanyalah lembaran hitam sempurna. 

Ketika cahaya pertama muncul, mata saya berkedip-kedip karena silau. Saya sudah berada di bawah air terjun besar. Saya bisa merasakan aliran air yang dingin melewati badan saya yang terendam air seluruhnya. 

Ketika itu saya menerimanya sebagai sebuah pesan untuk zoom out sesekali, terutama ketika dikepung kejadian-kejadian yang tak masuk akal dan sama sekali di luar lingkar kendali. Saya menyimpulkan secara intuitif bahwa ada bagian dari diri kita yang memegang peran observer — yang tidak terjebak oleh pusaran arus kehidupan, yang menuntut pemaknaan yang lebih luas atas sebagian besar pengalaman, yang tak henti mencari-cari berkat yang tersembunyi. 

Dunia Fraktal

Penjelajahan matematika pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 berhasil membuktikan bahwa presisi Euklides bukanlah hukum alam yang berlaku universal, melainkan sebuah kasus khusus di tengah realitas yang jauh lebih kompleks, kacau, dan mengganggu. Selama berabad-abad, bentuk-bentuk yang tidak ideal relatif terhadap geometri Euklides dianggap sebagai anomali yang disingkirkan dari deskripsi ilmiah. 

Namun kemudian pemberontakan radikal meletus di dalam tubuh ilmu matematika. Karl Weierstrass memperkenalkan sebuah fungsi bergerigi yang menggugat prinsip fundamental kalkulus — sebuah kurva yang kontinu tetapi tidak dapat diturunkan di titik manapun. Ia membuktikan bahwa intuisi manusia tentang kehalusan adalah ilusi. Sebuah garis tidak harus memiliki arah yang jelas jika ia terus berbelok secara tak terhingga di setiap titiknya. 

Georg Cantor melakukan eksperimen yang lebih radikal. Ia mengambil sebuah garis, menghapus sepertiga bagian tengahnya, dan mengulangi proses itu pada tiap garis baru yang tersisa secara terus-menerus. Hasilnya adalah Himpunan Cantor: titik-titik tak terhingga yang seolah lenyap tapi tetap eksis. Cantor membuktikan bahwa detail tidak membutuhkan ruang fisik untuk tetap ada. Ia bisa bertahan dalam kerapatan informasi murni.

Pemberontakan berlanjut, kali ini oleh Helge von Koch yang menunjukkan bahwa kita bisa memiliki sebuah kurva dengan panjang tak terhingga yang bisa terkandung dalam bidang yang sangat sempit. Kurva Koch membuktikan bahwa tindakan zoom in pada objek-objek alami tidak akan bertemu dengan garis lurus Euklidean yang mulus. Makin mendekat, makin banyak detail yang meledak dan menolak tunduk pada kesederhanaan. 

Puncaknya, Wacław Sierpiński menemukan Karpet Sierpiński — sebuah persegi yang secara rekursif melubangi dirinya sendiri dengan replika dirinya yang lebih kecil. Secara matematis, objek ini memiliki luas nol tetapi panjang kelilingnya tak terhingga. 

Credit: https://www.quantamagazine.org/the-quest-to-decode-the-mandelbrot-set-maths-famed-fractal-20240126/

Para matematikawan ini menyumbangkan batu-bata pada lahirnya konsep geometri fraktal — sebuah istilah yang diformalkan oleh Mandelbrot pada 1975. Berkat perkembangan teknologi komputer, ia berhasil melakukan visualisasi komputer atas penemuan para matematikawan sebelumnya. Mandelbrot mengambil kata ‘fraktal’ dari Bahasa Latin ‘fractus’ yang berarti memecah atau retak — sebuah pengakuan bahwa alam semesta disusun oleh fragmen-fragmen yang tidak teratur. 

Geometri fraktal melengkapi geometri Euklides yang keberlakuannya terbatas. Ia adalah geometri dengan properti kemiripan diri (self-similarity) di mana struktur kompleks muncul kembali pada berbagai tingkat skala yang berbeda. Ada pengulangan yang terjadi di berbagai skala — sangat mirip dengan mimpi saya tentang persegi yang menyusun bangunan persegi-persegi berikutnya. 

Geometri fraktal berhasil mendeskripsikan objek-objek alam dan menguak tabir mengapa strukturnya ‘harus’ begitu. Alam memiliki ‘kecerdasan’ untuk mencapai kompleksitas tak terhingga dalam ruang yang terbatas. Sebuah teknologi dengan efisiensi paling canggih. 

Pohon dengan struktur dahan, ranting, dan daun adalah bentuk paling efisien untuk menerima cahaya matahari sebanyak-banyaknya tanpa kebocoran energi. Ada alternatif lain untuk menerima cahaya matahari dalam jumlah yang sama, yaitu mengambil bentuk batang yang jauh lebih tinggi atau daun yang lebih besar. Tapi alam tidak mengambil bentuk ini, sebab pilihan-pilihan itu boros energi. 

Pembuluh darah di dalam tubuh kita juga mengikuti algoritma yang sama. Untuk memastikan setiap sel dalam tubuh mendapatkan nutrisi dan oksigen, sistem transportasi kita tidak bisa hanya mengandalkan pipa-pipa linear yang kaku. Jika pembuluh darah kita hanya berupa jaringan kabel satu dimensi yang sederhana, volume tubuh kita akan habis hanya untuk menampung pipa, tanpa menyisakan ruang bagi organ.

Solusi alam adalah fraktal pengisi ruang. Melalui percabangan rekursif dari arteri hingga kapiler mikroskopis, sistem ini mampu menjangkau triliunan sel dengan volume darah yang relatif sedikit. Luas permukaan total pembuluh kapiler manusia dewasa bisa menutupi seluruh permukaan lapangan tenis, namun semua itu terlipat rapi di dalam tubuh kita. Ini adalah puncak efisiensi: mencapai jangkauan maksimal dengan biaya material minimal.

Segala efisiensi canggih ini pada akhirnya meruntuhkan kasta dimensi yang selama ini kita kenal. Dalam dunia Euklides, dimensi selalu berupa bilangan bulat. Namun, geometri fraktal memperkenalkan Dimensi Hausdorff (D), di mana sebuah objek bisa memiliki dimensi pecahan. Paru-paru manusia, misalnya, bukan lagi sekadar bidang (2D), melainkan struktur yang melipat diri sedemikian rupa hingga dimensinya mendekati 3D (D≈2,97). Angka-angka pecahan ini adalah bukti bahwa realitas tidak selalu muat dalam kotak-kotak bilangan bulat. Ia berada di ruang interstitial, sebuah ‘ruang antara’ yang membuktikan bahwa keteraturan alam jauh lebih padat daripada sekadar panjang, lebar, dan tinggi.”

Sebuah Pesan tentang Peta dan Wilayah

Kini, saya menerima mimpi rekursi persegi tadi sebagai sebuah konfirmasi bahwa ada bagian realitas yang bersifat fraktal dengan limit tertentu. Di dalam realitas itu, alam adalah aktor dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa; sebuah sistem yang tidak hanya bekerja, tapi juga mengajar. Maka, menjaga ekosistem bukan sekadar upaya menyelamatkan asupan fisik manusia, melainkan menjaga “guru” sekaligus bahan ajar yang kita perlukan untuk memahami hakikat semesta. Untuk menavigasi diri dalam realitas itu, kita butuh mengoperasikan dua sisi diri dengan perannya masing-masing.

Ada sisi diri kita yang berperan sebagai observer yang memegang peta berisi informasi tentang pengulangan yang bekerja baik lintas area maupun lintas waktu. Juga ada sisi diri yang berperan sebagai pelaku pengalaman. Jika sang observer membisikkan informasi tentang koordinat air terjun pada peta, sang pelaku pengalaman menjelajahi air terjun itu dengan seluruh indera yang dibekalkan kepadanya. Pada titik-titik yang mana saja saya mesti mengaktifkan sisi yang mana, ini yang masih perlu dijelajahi dengan beberapa kesalahan lagi. []

“The map is not the territory.” 

Alfred Korzybski, Science and Sanity: An Introduction to Non-Aristotelian Systems and General Semantics

Exit mobile version