
Di tulisan tentang pesan transformatif yang tidak mewakili seluruh proses tranfromasi ini, saya menyebut bagaimana Martha Beck dalam The Way of Integrity mengisahkan perjalanan Dante dari Hutan Gelap (Dark Wood of Error) menuju Neraka (Inferno). Beck menggunakan The Divine Comedy sebagai kerangka metafora perjalanan transformasi manusia untuk ‘pulang’ ke Dirinya yang utuh.
Setelah melewati Neraka yang panjang itu, Dante menyaksikan kembali bintang-bintang. Kini, tiba saatnya bagi Dante untuk mendaki Gunung Penyucian (Purgatorio). Seperti yang ditunjukkan oleh namanya, perjalanan kali ini lanskapnya berkebalikan dengan lanskap Neraka, yaitu berbentuk kerucut. Gerbangnya dijaga seorang malaikat yang memberikan pesan mengancam: tak ada ruang untuk menengok ke belakang. Dengan jalur pendakian yang belum terbentuk, perjalanannya sangat berat terutama di langkah-langkah pertama.
Namun seiring berjalannya waktu, dengan satu demi satu langkah yang setia hanya pada kompas internal dan kewaspadaan untuk terus melangkah meskipun kabut keraguan begitu tebal, langkah-langkah berikutnya terasa makin menggelinding. Hanya saja, arahnya menuju ke atas.
Dalam fase ini, kita mulai terbiasa jujur pada diri sendiri, berdisiplin merealisasikan janji-janji yang kita bisikkan ke diri kita meskipun jauh dari sempurna, berkomitmen mengerjakan hal-hal bermakna yang selaras dengan kompas internal di dalam jiwa — bahkan meskipun semua itu tidak rasional jika ditakar dengan ekspektasi-ekspektasi sosial yang berlaku.
Kita tidak lagi terganggu dengan adanya ekspektasi tadi, tapi juga menolak untuk tunduk padanya. Kita mulai belajar mendefinisikan segala sesuatu melalui pertimbangan-pertimbangan yang jernih, bukan mendasarkannya pada apa yang sedang muncul di FYP. Kita mulai berdaya mengarahkan ke mana perhatian dan sumber daya kita alokasikan, bukannya terseret ke sana ke mari oleh algoritma yang sibuk bekerja mengendalikan kita.
Pendakian panjang melintasi Gunung Purgatorio itu bermuara pada tujuan akhir yaitu Surga (Paradiso). Di sana terletak reward paling memuaskan, yaitu kesempatan untuk melayani atau berkontribusi pada dunia luar. Kerja pelayanan ini Dante lakukan bukan sambil tetap bersetia pada Dirinya, melainkan hanya mungkin terwujud melalui kesetiaan itu.
Otrovert sebagai Mode
Rami Kaminski mungkin merumuskan konsep otrovert dari praktik panjangnya sebagai psikoterapis, dan itu membantu banyak orang merasa baik-baik saja menjadi outsider dalam komunitas sosial yang mereka huni. Bahkan dalam beberapa kasus, menjadi outsider justru membawa berkah yang diperlukan untuk berkontribusi pada komunitas.
Keberadaan otrovert di tengah-tengah komunalitas umat manusia juga membantu kita melihat kenyataan yang multidimensi. Tapi apakah ini cukup untuk menempatkan otroversion sebagai personality trait? Tentu tidak.
Hanya karena suatu konsep comforting dan mengandung hikmah, bukan berarti konsep itu memiliki derajat kebenaran yang tinggi. Otrovert sebagai personality trait terlalu jauh dari bukti-bukti ilmiah. Kaminski mendapatkannya dari pengalaman banyak orang, memang — tapi untuk menjadi sebuah teori, berapa itu ‘banyak’?
Sangat jauh dari Big Five atau — yang lebih baru: HEXACO — yang melakukan pengujian dengan dukungan data-data genetik dan data fMRI dari ratusan ribu responden lintas generasi dalam riset selama puluhan tahun. Data-data genetik digunakan untuk membuktikan bahwa masing-masing personality trait memiliki akar biologis, bukan hanya muncul sebagai konstruksi sosial atau efek dari pengasuhan. Selain itu, data-data ini juga menyediakan jawaban atas pertanyaan seberapa banyak cetak biru DNA mempengaruhi personality trait seseorang.
Sementara itu, data-data fMRI menyediakan peta aktivitas area-area otak tertentu pada setiap personality trait ketika bereaksi terhadap berbagai macam stimulus dari luar dirinya.
Pengalaman subyektif klinis dari praktik Kaminski mungkin valid tapi dibutuhkan kehati-hatian dalam memetakannya. Alih-alih menganggap otrovert sebagai sebuah personality trait seperti kata Kaminski, saya memilih untuk melihatnya sebagai sebuah mode yang bisa kita aktifkan secara kondisional. Saya juga punya kecurigaan bahwa mode otrovert ini tidak dimiliki oleh semua orang.
Mungkin, hanya orang-orang dengan skor tinggi pada faktor Honesty-Humility dalam HEXACO yang memilikinya. Individu dengan spektrum ini cenderung menghindari memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi, merasakan sedikit godaan untuk melanggar aturan, tidak tertarik pada kekayaan dan kemewahan yang berlebihan, serta tidak merasa berhak atas status sosial yang tinggi.
Sebaliknya, skor sangat rendah pada faktor ini tak akan segan-segan memberikan sanjungan palsu dan menabrak aturan demi laba pribadi, keputusan-keputusan hidupnya digerakkan terutama oleh pemenuhan hasrat kekayaan, dan terpenjara dalam obsesi untuk selalu mementingkan dirinya sendiri.
Orang-orang dengan skor tinggi pada faktor Honesty-Humility secara alami tidak terobsesi oleh status sosial, sehingga ketika kondisi sosial di sekitarnya tidak selaras dengan kompas internal miliknya, mereka tidak merasa rugi meninggalkan arena di mana status sosial diperebutkan. Bagi mereka, menginternalisasikan nilai-nilai yang berlaku di dalam komunitas sosial yang korup demi tetap menjadi bagian darinya adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Pemuda Ashabul Kahfi
Dalam khasanah Islam, ada sebuah kisah menakjubkan di mana sejumlah pemuda dan seekor anjing yang sedang berlindung di dalam gua dari kekuasaan korup di dunia luar, diselamatkan oleh Allah dengan ditidurkan selama 300 tahun. Atau 309 jika menggunakan kalender bulan. Mereka ‘dikeluarkan’ dari zaman yang mereka huni melalui mekanisme ajaib. Mereka dijaga dari proses pembusukan sosial yang sedang terjadi di zamannya.
Ini memberikan konfirmasi bahwa tidak semua yang berlaku secara luas adalah sesuatu yang pantas dijalani. Tidak semua budaya perlu dilestarikan. Tidak semua tradisi layak diwariskan. Beberapa kadang justru perlu diputarbalikkan.
Kisah ini juga memberikan konfirmasi atas pentingnya menjaga kompas moral. Dalam tingkat kebusukan tertentu, keluar dari permainan bisa jadi adalah strategi yang paling efektif. Kadang-kadang cukup dengan memasuki mode otrovert: menyadari dan memegang kendali atas arah perhatian, berani menjadi original di tengah budaya ikut-ikutan, menjaga waktu sebagai sumber daya kita yang paling bernilai dari pembajakan tontonan, serta secara rutin meluangkan waktu untuk menjelajahi dunia batin dalam kesendirian.
Tapi di saat yang sangat langka, ketika kebusukan sangat pekat dan terjadi pertemuan antara kehendak kita dengan Kehendak-Nya: kita dikeluarkan dalam langkah kita keluar. []

Leave a Reply