Evolusi dan Kuasa Penciptaan

mengurangi kuasa tuhan dalam mencipta dan memelihara?

tuhan sayang ya tuhan sayang

di siang hari yang berselimut kegelapan

bersabarlah mendengar kami yang kebingungan

bertanya apa yang sesungguhnya engkau inginkan

menyeret kami ke persimpangan jalan

kemudian engkau pergi meninggalkan

engkau wariskan alam

berita tentang pengembaraan

dan teka-teki yang sialan

Emha Ainun Nadjib, Tuhan Sayang ya Tuhan Sayang

1985

Dua dekade lalu, di antara barisan-barisan buku di rak perpustakaan sekolah ketika jam istirahat kedua, saya bertemu dengan sebuah buku bersampul biru. Judulnya Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajjud Cinta Seorang Hamba. Meskipun skeptis awalnya, saya buka-buka juga karena sudah kehabisan bahan bacaan. Deg. Puisi-puisi di dalamnya mampu membangunkan saya dari tidur panjang kekecewaan dan menuntun saya menemukan arah jalan pulang. 

Atas gelegak rasa ingin tahu dan ketakjuban menyaksikan hal-hal kecil yang terjadi di depan mata, saya merasa sains β€” yang termuat di buku-buku pelajaran maupun buku-buku yang saya temukan di luaran β€” mampu mengelus-elus dan meredakannya, lalu membangkitkan rasa ingin tahu dan ketakjuban baru yang selalu lebih besar dibanding yang sebelumnya. 

Tapi ada agama β€” yang sok tahu membantah ini dan itu tanpa penjelasan yang memuaskan. Atas konsep evolusi yang panjang dan kompleks dengan cabang kemungkinan di sana-sini dan perdebatan tentangnya, agama menolaknya karena dianggap durhaka kepada adanya kuasa Allah. Adam diciptakan dari tanah liat, bukan dari kera β€” sebuah miskonsepsi yang berbahaya sebab teori evolusi tak perah berkata begini. Bahkan kalaupun sudah di-update menjadi: Adam dan kera memiliki nenek moyang bersama, hal ini tetap dianggap sebagai penghinaan atas kuasa Allah dalam menciptakan. 

Proses seleksi alam yang acak, berantakan, dan melibatkan banyak peristiwa kebetulan juga seolah melukai kuasa-Nya dalam menetapkan qadar. Lagipula Allah sendiri yang mengatakan bahwa ketika Dia berkehendak, mewujudlah kehendaknya itu tanpa butuh waktu dan proses yang rumit. Kun fayakun, kan?

Tapi bukannya mematahkan kebenaran teori evolusi dengan teori tandingan melalui metodologi ilmiah, sebagian besar umat Muslim β€” setidaknya di Indonesia β€” justru mengikuti aliran kreasionisme ala Harun Yahya (Adnan Oktar). Konon, semangatnya lahir dari niat baik menjaga Islam dari teori evolusi yang mendasarkan pada materialisme dan ateisme. 

Konsep kreasionismenya dibangun tanpa metode ilmiah dan tanpa kredensial sains formal. Buku-buku Harun Yahya tersedia di sekolah-sekolah, dianggap sebagai teori padahal isinya sekadar kompilasi visual di kertas mewah penuh warna tanpa satupun riset mendalam. Pseudosains yang sangat berhasil. 

Maka ketika itu, iman terasa seperti tempurung yang menyesakkan. Dari puisilah saya belajar bahwa ketika kita merasa tidak sanggup beriman dan tidak sepakat pada Tuhan, mungkin yang sebenarnya terjadi adalah kita enggan menuhankan Tuhan yang diperkenalkan pada kita. Ada jarak antara Tuhan dan Tuhan-menurut-siapa. Dan kadang, selisihnya begitu besar. 

Integrasi Dua Magisteria

Stephen Jay Gould, seorang ahli paleontologi yang mendalami studi evolusi, pada tahun ’70-an mempublikasikan teori yang memberikan revisi signifikan terhadap ortodoksi Darwinian. Teori ini,  punctuated equilibrium, menolak konsep bahwa proses evolusi terjadi sangat lambat dan seragam selama jutaan tahun. 

Menurut Gould dan Niles Eldredge β€” berangkat dari anomali yang teramati di lapisan batuan dan didukung dengan studi multidisipliner dari ahli biologi dan kimia β€” membangun teori bahwa proses evolusi terjadi dalam ledakan-ledakan cepat yang terjadi di antara periode statis (tanpa perubahan) yang sangat panjang pada populasi kecil di wilayah geografis yang terisolasi. Ini sekaligus menjelaskan mengapa tidak ada jejak fosil pada masa transisi. The missing link yang selama ini dicari-cari bukan hanya belum ditemukan, tapi memang tidak ada dalam bentuk-bentuk seperti yang dibayangkan. 

Harun Yahya sering menggunakan catatan fosil berusia jutaan tahun yang menunjukkan kesamaan dengan binatang yang ada saat ini untuk mendukung klaimnya bahwa proses evolusi sebenarnya tak pernah terjadi. Padahal, catatan fosil tersebut adalah bukti atas mekanisme evolusi yang terjadi hanya ketika ada gangguan besar pada keseimbangan alam. 

Tujuh tahun kemudian, Gould mempublikasikan paper tentang spandrel evolusioner. Dengan konsep ini, ia mengkritik paradigma adaptasionis yang memandang bahwa setiap sifat yang muncul dari seleksi alam memiliki tujuan adaptif. 

Gould berargumen bahwa banyak fitur yang muncul pada makhluk hidup tanpa tujuan adaptif pada mulanya. Fitur-fitur ini muncul sebagai efek samping atau konsekuensi struktural dari perubahan-perubahan lain yang memang adaptif. Gould menyebut fitur-fitur ini sebagai spandrel. Dagu, misalnya, muncul semata-mata sebagai efek samping dari pengecilan wajah manusia dan pergeseran rahang. 

Spandrel-spandrel yang muncul dari proses evolusioner bisa mengalami eksaptasi, yaitu proses pengambilalihan spandrel yang tidak memiliki fungsi untuk kepentingan adaptasi. Gould pernah mengeluarkan argumen kontroversial bahwa kapasitas otak manusia untuk bahasa, matematika, dan seni mungkin berawal dari spandrel atas pembesaran volume otak untuk tujuan adaptif lain. Kemudian, fitur ini diambil alih menjadi kunci dominasi umat manusia atas spesies-spesies lain di muka bumi.

Sejak kemunculannya, punctuated equilibrium dan spandrel evolusioner memicu pro dan kontra di kalangan ilmuwan. Salah satu ilmuwan yang menolak keras dua konsep itu adalah Richard Dawkins. Perdebatan panjang antara mereka berdua kemudian meluas ke persoalan di luar mekanisme evolusi, yaitu ke ranah hubungan antara sains dan agama. 

Dawkins yang ateis memandang agama bukan hanya salah, tapi juga berbahaya. Salah karena tidak ada bukti empiris tentang keberadaan Tuhan, sementara tindakan-tindakan-Nya seperti menciptakan dan mengabulkan permohonan mempengaruhi alam materi. Berbahaya karena ia membuat orang merasa nyaman berada dalam ketidaktahuan atas segala sesuatu dengan satu penjelasan: Tuhan yang menciptakan dan berkuasa atas segala sesuatu. 

Dawkins menjelaskan perasaan dan perilaku religius yang ditemukan secara universal merupakan wujud kesalahan fungsi dari mekanisme yang sebenarnya berguna. Seleksi alam membentuk otak anak-anak untuk cenderung mempercayai orang tua dan pemegang otoritas β€” sebuah keterampilan krusial untuk bertahan hidup. Maka begitulah, kita tunduk pada otoritas dan menjadi manusia beragama.

Sementara itu, dalam hal ini Gould menawarkan konsep NOMA: Non-Overlapping Magisteria. Ia berpendapat bahwa sains dan agama memiliki domain otoritas (magisterium) yang sangat berbeda dan tidak tumpang tindih. Magisterium sains adalah ranah empiris. Sains membedah apa yang menjadi bahan-bahan penyusun alam semesta dan mengapa sebab-akibat di dalamnya bekerja dalam mekanisme seperti ini. Sains bekerja pada wilayah fakta dan penyusunan teori. Sementara itu, magisterium agama adalah ranah makna tertinggi dan nilai-nilai moral. 

Gould membahas konsep NOMA secara mendalam di bukunya yang berjudul Rocks of Ages: Science and Religion in the Fullness of Life. Sains dan agama β€” menurut Gould β€” mestinya saling menghargai magisterium masing-masing dengan tidak melanggar batas-batas dan memaksakan metodenya bekerja di wilayah lain. Dengan demikian, sains tidak memiliki kapasitas untuk membuktikan keberadaan maupun ketiadaan Tuhan dan agama tidak berhak membuktikan kebenaran teori evolusi. 

Dua wilayah yang berbeda itu tidak terpisah secara kaku dan tegas. Gould menggunakan metafora jari-jemari dari dua tangan yang saling masuk dan berpegangan. Mereka bersentuhan erat, menciptakan batas yang sangat tipis pada beberapa area. Masalah timbul ketika kita membiarkan keduanya melebur. Namun ketika masing-masing dijaga tetap di ranahnya, mereka bisa membantu manusia membentuk pandangan yang lebih utuh. 

Sejalan dengan itu, ada sudut pandang yang menarik dari saintis Muslim, Nidhal Guessoum. Dalam merekonsiliasi tradisi Muslim dan sains modern, astrofisikawan dari Algeria ini terinspirasi oleh Ibnu Rusyd atau dikenal sebagai Averroes di Barat. 

Sikapnya sebagai saintis Muslim jelas, yaitu: mengadopsi sains modern dalam seluruh metodenya yang ketat dan juga hasil-hasil yang dicapainya, menambahkan interpretasi teistik yang sifatnya opsional, memberlakukan standar etika yang ketat secara universal seperti yang berlaku di agama Islam, menerima panduan moral dan filsafat ilmu dari Alquran, mewajibkan penggunaan hermeneutika setiap kali muncul pertentangan dengan sains modern, serta mempertimbangkan makna berlapis yang terkandung di dalam Alquran saat membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam. 

Sikap ini bukan saja merupakan jalan tengah yang memungkinkan sains dan agama hadir sebagaimana yang ditawarkan oleh NOMA, tapi juga integrasi antara keduanya dalam batas-batas yang proporsional. Di ranah filsafat ilmu, moral, dan etika, kita menggunakan informasi Allah dalam agama sebagai tuntunan. Tapi dalam memotret fenomena alam, kita berpegang pada pisau tajam bernama sains. Kebenaran-kebenaran yang diungkap oleh sains bahkan menjadi pedoman untuk memaknai teks-teks Alquran yang berhubungan dengan fenomena alam dengan lebih presisi lagi. 

Agama adalah kebenaran yang diinformasikan langsung oleh pemilik-Nya, sementara sains adalah kebenaran yang diteropong dengan akal yang Dia bekalkan. Kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran. Jika ada pertentangan di antara keduanya, mungkin cara kita dalam memahami agama yang perlu dikalibrasi. 

Membaca-dengan Bukan Membaca-apa

Kebenaran yang pertama kali Allah sampaikan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril adalah lima ayat pertama Surah Al-β€˜Alaq. 

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia

yang mengajar dengan qalam

Dialah yang mengajar manusia segala yang belum diketahui

Dia mengharuskan kita untuk membaca tanpa membatasi fenomena apa saja yang layak dibaca. Bersama dengan itu, Dia sertakan pengajaran pertama: bagaimana cara membaca. Lensa untuk membaca adalah kesadaran bahwa segala sesuatu yang ada dan bisa dibaca adalah pancaran dari Keberadaan-Nya. Membaca adalah menangkap bayang-bayang-Nya, membaca adalah upaya untuk semakin mendekat dengan mengelupas satu demi satu tabir yang menyelubungi-Nya. Membaca juga adalah kerja menyelaraskan diri dengan β€˜kerja’-Nya mengajar manusia. 

Maka, jika agama menginformasikan bahwa Allah menciptakan Adam dan sains menemukan bahwa ada proses evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun dalam mekanisme-mekanisme tertentu, kita bisa melanjutkan pembacaan dengan menerka-nerka di titik manakah Adam dalam skala waktu geologi, disusul dengan pertanyaan-pertanyaan tepat berikutnya. 

Mekanisme sebab-akibat alam semesta yang diuraikan sains tidak pernah mengurangi kuasa Allah jika kita mau melepas asumsi bahwa besarnya kekuasaan berbanding lurus dengan besarnya keajaiban. Ini jelas salah, sebab konsep keajaiban yang kita sangkakan adalah kesanggupan melepaskan diri dari hukum-hukum alam. Kita buta pada keajaiban hukum-hukum alam itu sendiri.

Kekuasaan-Nya ada pada ledakan besar yang mengawali seluruh ‘teka-teki yang sialan’ ini, juga pada tercipta dan terpeliharanya hukum-hukum yang mengatur alam semesta yang bergulir dalam proses yang sangat sangat panjang dari skala pandang kita. 

Kekuasaan-Nya dalam mencipta tidak hanya ada ketika Dia merancang dan menciptakan makhluk satu demi satu dalam wujud mereka yang final. Kekuasaan itu juga ada dan sama besarnya ketika Dia menciptakan sistem, menetapkan ukuran-ukuran dan lintasan yang mungkin ditempuh untuk setiap makhluk untuk berevolusi. 

Dia memang pergi meninggalkan, β€˜setelah’ menghamparkan sebuah jejaring sistem di mana kesalingterhubungan antar segala sesuatu tak terelakkan. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *