: Bagaimana Subyektivitas Diperlukan untuk Meneropong Realitas
Di tulisan sebelumnya saya cerita sedikit soal seorang raksasa astrofisika teoretis yang hipotesisnya tentang obyek antarbintang 3I/ATLAS dinilai mengada-ada: Avi Loeb. Ilmuwan arus utama berpegang teguh pada The Sagan Standard — extraordinary claims require extraordinary evidence (klaim luar biasa membutuhkan bukti yang luar biasa). Bagi mereka, hipotesis keberadaan alien adalah klaim luar biasa, sehingga dibutuhkan bukti-bukti yang jauh lebih solid daripada bukti yang disodorkan Loeb.
Sementara itu, Loeb berargumen sebaliknya. Keberadaan alien bukanlah sesuatu yang luar biasa secara statistik, sehingga pembuktiannya tidak harus menunggu bukti yang mustahil. Baginya, anomali pada ‘Oumuamua, meteor IM1 yang meledak di dekat Papua Nugini pada tahun 2014, dan 3I/ATLAS sudah cukup menjadi alasan kuat bagi kita untuk curiga dan mulai mencari data-data lanjutan secara aktif.
Mudah untuk menuduh Loeb sebagai fans alien yang terjebak pusaran bias konfirmasi. Namun, The Galileo Project yang dipimpinnya menunjukkan kehati-hatian yang serius. Sadar bahwa ada bias yang diam-diam bekerja, Loeb mendesain instrumen yang memungkinkan dilakukannya validasi silang.
Observatoriumnya adalah sistem sensor terintegrasi yang beroperasi nonstop: teleskop optik resolusi tinggi, kamera inframerah, sensor radio, dan sistem audio yang bekerja serentak, diawasi oleh kecerdasan buatan (AI) yang dilatih untuk memilah anomali dari fenomena alami.
Upaya Loeb untuk ‘menyetel’ instrumen pencariannya di tengah keriuhan alam semesta ini meningatkan saya pada sebuah fitur canggih yang kita miliki di bawah tempurung kepala. Ia beroperasi senyap sepanjang hari, menyaring realitas dan menentukan mana yang cukup layak untuk lanjut ke kesadaran kita. Reticular Activating System (RAS).
Angka yang Sama
Kira-kira sejak lima belas tahun lalu, ada sebuah bilangan dua digit yang selalu saya lihat setiap hari. Bilangan ini bisa muncul di waktu yang ditunjukkan laptop, jam tangan, ponsel, plat nomor kendaraan yang kebetulan melintas, nomor rumah yang saya lewati, dan di tempat-tempat lain.
Frekuensi kemunculannya dalam sehari memiliki pola tertentu. Pada hari-hari biasa, dia muncul sekitar 6 hingga 12 kali. Pada hari di mana hidup saya tampak baik-baik saja tapi ada gejolak yang mati-matian saya ingkari keberadaannya, frekuensinya meningkat tajam hingga lebih dari 100. Pada hari ketika saya sudah membuat keputusan tetapi masih merasa ketakutan, frekuensinya turun tapi masih terasa cukup intens. Sekitar 20 hingga 30.
Pada mulanya saya menganggap bilangan ini sebagai sebuah tanda anggukan dari kesadaran yang lebih tinggi. Pada periode ketika bilangan ini muncul dalam frekuensi tinggi, pesan yang saya tangkap bergeser menjadi “Ayo akui, ayo hadapi, ayo berani ambil keputusan.” Terasa seperti tangan besar yang mendorong-dorong punggung saya untuk bergegas melakukan lompatan.
Lalu keraguan muncul, persis seperti kritik keras para ilmuwan ke Avi Loeb. Bagaimana jika semua ini hanyalah pola yang tercipta dari persepsi saya sendiri? Bagaimana jika ini adalah bukti yang nyata bahwa saya benar-benar telah ditelan bias konfirmasi?
Apakah saya melihat angka-angka ini karena mereka memang ada untuk saya, atau saya melihatnya karena tanpa sadar telah menyetel instrumen di kepala saya untuk memburu mereka? Jangan-jangan tidak ada pesan dari balik Tabir. Jangan-jangan ini hanya pantulan dari obsesi saya sendiri.
Reticular Activating System
Setiap saat, ada jutaan bit data yang membombardir indera kita. Warna dinding, suara AC, tekstur baju, suhu ruangan. Sementara itu, otak sadar kita hanya mampu memproses 40 hingga 120 bit data tiap detiknya.
Keterbatasan ini terpecahkan oleh sebuah fitur canggih bernama Reticular Activating System (RAS). Secara anatomi, sistem ini berupa sekumpulan saraf yang berlokasi di batang otak. Ia berfungsi sebagai penyaring data yang masuk — membuang hampir seluruh kebisingan, dan hanya mengizinkan 0,1% data yang telah diberi label ‘penting’ untuk melanjutkan perjalanan ke otak besar di mana kesadaran bertahta.
Data yang lolos sensor ini adalah hal-hal terkait kelangsungan hidup, nama kita sendiri, hal-hal baru yang memecah pola, dan hal-hal yang sedang kita fokuskan. Inilah mengapa ketika kita baru belajar sebuah kata baru, misalnya, tiba-tiba kita menemukan kata itu di mana-mana. Psikolog menyebutnya fenomena Baader-Meinhof.
Jika bilangan itu datang hanya karena efek dari bias kognitif semacam ini, maka mengartikannya sebagai pesan adalah kekeliruan. Itu tak lebih dari cermin cara kerja otak saya sendiri.
Saya pun mengujinya. Ada satu periode di mana saya berusaha keras untuk mengabaikan bilangan ini. Saya menahan diri untuk tidak mengecek jam atau celingukan ketika tidak benar-benar diperlukan.
Hasilnya mengejutkan dan membuat gatal. Bilangan itu memang berhasil turun drastis frekuensi kemunculannya. Tapi selang beberapa hari, ia berganti wajah. Angka itu muncul lagi, tapi dalam susunan yang terbalik. Dari xy menjadi yx. Reaksi emosi yang muncul pertama kali adalah: saya ketahuan.
Selang beberapa hari, yx tak lagi muncul, digantikan xy yang tak pernah cuti hingga hari ini, muncul dalam frekuensi normal sekitar 6 hingga 12 kali sehari.

Sinkronisitas
Peristiwa “pembalikan angka” itu meruntuhkan pertahanan logika saya. Rasa bersalah karena merasa takluk pada bias konfirmasi perlahan berganti menjadi rasa penasaran yang berbeda. Pada 2019, saya mulai membaca Synchronicity: An Acausal Connecting Principle karya Carl Jung.
Ternyata, Jung sendiri juga pernah merasakan ketakutan yang sama. Dia menyimpan konsep ini di laci selama dua puluh tahun, takut dianggap tidak ilmiah. Baru setelah berdiskusi intens dengan Wolfgang Pauli — fisikawan peraih Nobel yang terkenal skeptis — Jung berani menerbitkannya. Fakta bahwa seorang penjaga gawang ‘sains keras’ seperti Pauli bisa menerima konsep ini memberi saya sedikit ketenangan.
Jung mendefinisikan sinkronisitas sebagai kebetulan yang bermakna. Ini terjadi ketika keadaan batin kita (perasaan, mimpi, gejolak) bertepatan dengan peristiwa fisik di luar sana, tanpa ada hubungan sebab-akibat yang jelas, namun terikat kuat oleh sebuah makna.
Bagi Jung dan Pauli, realitas tidak hanya berjalan di atas rel sebab-akibat (kausalitas). Ada rel lain yang selama ini luput dari hitungan sains klasik, yakni koneksi melalui makna. Fisika kuantum belakangan menyebut fenomena serupa sebagai quantum entanglement — di mana partikel-partikel bisa terhubung secara instan melintasi jarak, seolah-olah mereka tahu keadaan satu sama lain.
Pemahaman ini mengubah cara saya melihat angka-angka itu. Mereka bukan hantu, dan bukan pula sekadar error pada sistem RAS otak saya. Mereka adalah jembatan.
Ketika batin saya bergejolak — ketika saya takut mengambil keputusan — realitas fisik di sekitar saya merespons dengan memunculkan angka-angka itu. Instrumen dalam kepala saya dan obyek di luar sana sedang berdansa. Dalam hal ini sinkronisitas bukanlah kekuatan mistis, melainkan sebuah mekanisme umpan balik (feedback loop) yang jujur dari semesta untuk memberitahu di mana posisi batin saya sedang berada.
Mungkin bias konfirmasi tak bisa sepenuhnya ditanggalkan, tapi sepanjang kewaspadaan tetap berjalan, ia melahirkan sebuah instrumen yang juga sangat kita perlukan: subyektivitas.
Subyektivitas tidak menakutkan, kecuali kita menaruhnya di tempat yang bukan miliknya. Kita justru memerlukan kedua instrumen ini untuk merangkak mendekati kesejatian, dan hanya dengan menggunakan keduanyalah terbuka kesempatan untuk melakukan validasi silang.

Leave a Reply