Salah satu bagian besar dari sesi belajar akademik Kiyana sehari-hari adalah menulis tangan. Isi tulisannya bisa soal kegiatan sehari-hari, soal buku yang sudah habis dibaca dan berkesan untuknya, atau tentang film yang sudah selesai dia tonton. Kadang-kadang juga fiksi — tapi dia masih sangat jarang memilih yang ini.
Biasanya selesai menulis kami mendiskusikannya. Kadang-kadang sebelum atau di tengah-tengah menulis — biasanya ketika dia terpojok kehabisan ide, meskipun yang sedang terjadi adalah rasa takut melakukan kesalahan yang diam-diam hinggap.
Kemarin, di tengah kegiatan menulisnya tentang film Raya and The Last Dragon, dia bertanya, “Yang Ibu pelajari dari film, contohnya apa aja dan gimana cara Ibu menerapkannya dalam kehidupan?”
Lalu kami ngobrol tentang pelajaran-pelajaran yang saya ambil dari film Inside Out — salah satunya dari adegan Riley pindah rumah. Singkatnya: pindah rumah merupakan peristiwa perubahan yang besar efeknya, terutama untuk anak-anak.
Ini menjadi bekal buat saya (dan mungkin juga suami — halo, iya nggak ya?) ketika hampir setahun yang lalu kami bermigrasi dari Depok ke Merauke, Papua. Peristiwa ini — dengan segala kerepotan dan ketidakenakannya — kami jadikan momen belajar yang berharga bagi kami berempat. Teachable moment jangan sampai lepas! Ketika itu Kiyana berumur tujuh dan Kimi tiga.
Membuat Keputusan
Bahkan ketika kami berdua sudah memutuskan bahwa kami sekeluarga akan ikut pindah ke Merauke, saya sampaikan kepada Kiyana bahwa keputusan itu belum dibuat. Kita hitung-hitung dulu baiknya gimana, kata saya kepadanya. Ini krusial karena bisa menjadi kesempatan yang bagus baginya untuk belajar berhitung membuat keputusan. Ongkos yang harus saya keluarkan adalah ketar-ketir — bagaimana kalau pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak ikut pindah? Haha.
The way kids learn to make good decisions is by making decisions, not by following directions.
Alfie Kohn, Unconditional Parenting: Moving from Rewards and Punishments to Love and Reason
Maka kami ambil waktu untuk berkemas, mengirim barang, dan secara paralel untuk memproses pembuatan keputusan beserta emosi-emosi yang hadir bersamanya. Satu minggu pertama, Kiyana menangis sesenggukan setiap malam sebelum tidur. Dia marah — kalau ikut pindah, dia kehilangan teman-teman dan tempat lesnya; kalau tidak ikut pindah, dia kehilangan kesempatan bertemu Ayahnya tiap hari.
Di balik ucapan “Ayah menghancurkan hidupku” yang dia lontarkan beberapa kali ada kesedihan yang mendalam, kebingungan, dan kemarahan terhadap hal yang terjadi di luar kendalinya. Dia lontarkan kalimat itu sambil membenamkan kepala ke dalam sarung yang biasa dipakai Ayahnya sholat — yang sejak saat itu beralih fungsi menjadi selimut untuk mereka berdua.
“Why me?” mungkin begitu kira-kira isi kepalanya saat itu. Sebuah reaksi normal bahkan buat kita orang dewasa, ketika hidup tiba-tiba menyodorkan hal-hal yang tidak kita suka. Pertanyaan yang padahal juga sangat relevan kita ajukan untuk setiap hal-hal baik yang terjadi dan hal-hal buruk yang tidak terjadi.
Sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban panjang-lebar — cukup dua kata: why not? Mengingatkan saya pada Mortality-nya Christopher Hitchens dan It’s On Me, buku oleh Sara Kuburic yang terbit tahun lalu, yang sedang saya baca saat ini. Banyak bagian dalam hidup yang memang terjadi pada kita, bukan? Kehendak kita untuk memaknailah yang akan mentransformasi ‘pada’ itu menjadi ‘untuk’.
- Mengasuh Homoseksualitas: Sebuah Perjalanan Pulang-Pergi
- Permainan Sulit Bernama Menjadi Manusia
- Cermin Besar di Ruang Keluarga
- Menyusun Batu Usai Berjumpa Cahaya: Sebuah Catatan di Hari Pengurbanan
- Ilusi Perubahan: Kesetiaan adalah Pengkhianatan yang Terukur
Setelah melewati — dengan menghadapinya satu-satu — turbulensi emosi yang jauh dari kata enak, pada ‘akhirnya’ Kiyana memutuskan untuk ikut pindah ke Merauke. “Ternyata kadang-kadang tuh kita harus memilihnya bukan mana yang enak mana yang enggak ya, tapi memilih mana yang lebih nggak parah nggak enaknya.” Hore, satu lagi hikmah yang dia temukan sendiri.
Ketika saya tanya alasannya, dia jawab, “Kan kita satu keluarga. Aku bakal kehilangan banyak hal kalo pindah ke Merauke, hal-hal yang ada di sini, tapi Ayah juga pasti mengalami kehilangan. Mungkin kalo kita temenin di sana, Ayah akan merasa lebih ringan jalaninnya.”
Berubah Pikiran
Sebelum pindahan, kami meluangkan waktu selama satu bulan untuk tinggal di Magelang di rumah Uti — neneknya Kiyana dan Kimi. Waktu terasa berlalu dengan sangat cepat. Tahu-tahu waktu kami di sana tersisa satu minggu. Lalu enam hari. Lima. Pada hari keempat sebelum kami berangkat ke Jakarta untuk terbang ke Merauke, Kiyana bilang dia berubah pikiran.
“Kalo aku tinggal di Magelang aja, gimana?”
- Nggak jadi ikut pindah ke Merauke?
“Iya. Aku senang di sini, pengen sama Uti, sama Kakak Mala (saudara sepupunya yang tiga tahun lebih tua).”
- Lagi-lagi, saya pikir ini adalah momen berharga untuk dia belajar sesuatu. Kami sebagai orang tua punya otoritas untuk menolaknya, tentu saja, tapi saya memilih untuk tidak langsung menggunakannya. Akan ada banyak proses berpikir yang akan terlewati jika kami buru-buru melompati kesempatan ini. Lagi-lagi ongkosnya ketar-ketir haha.
Langkah pertama, seperti biasa, adalah memvalidasi perasaan-perasaan yang kemungkinan berkecamuk di benaknya.
- Kamu merasa berat banget ya pisah jauh dari Kakak Mala, Uti, dan yang lain? Ibu juga sedih harus pindah jauh.
“Iya, apalagi kan kalo udah di Merauke kita rencananya akan nggak pulang ke Magelang, kan.”
- Iya, selama masih di sana kayaknya kita nggak pulang kampung dulu. Tapi kamu nggak papa jauh dari Ayah, Ibu, Kimi, dan Kina nanti pas udah lahir?
“Iya, kayaknya nggak papa deh. Nanti kita tiap hari video call aja.”
- Masalahnya, barang-barang kamu udah sampai di Merauke. Dan kalo memang mau tinggal di sini, berarti kamu harus sekolah formal, sementara waktunya udah mepet buat cari-cari sekolah, survei, dan urus pindah sekolah. Gimana, ya?
Dia diam saja. Raut mukanya tegang, sesekali bergumam kecil pada dirinya sendiri. Lalu dia kembali bermain. Utinya dengan gembira menyambut ide Kiyana untuk tinggal di sana. Lalu merekomendasikan sebuah sekolah swasta yang mungkin cocok. Sehari kemudian dia berkata, “Kayaknya aku mau belajar deh buat mau sekolah di SD. Yang penting bisa di sini. Bisa nggak sih kalau daftar sekolah sekarang-sekarang? Nanti barang-barang aku dikirim ke sini aja dari Merauke. Gimana?”
- Jadi kamu nggak mau coba ikut ke Merauke dulu?
“Iya nggak usah.”
Saya mencoba tetap tenang, menahan-nahan diri untuk tidak menolaknya dulu selagi masih ada waktu meskipun semakin tipis. Saya hanya mengingatkannya pada poin-poin yang harus kami ‘bayar’ atas setiap keputusan yang akan kami ambil. Meskipun terakhir kali dia tampak lebih yakin daripada sebelumnya, saya rasa dia masih tetap mengalami keraguan. Keraguan adalah hal yang berharga untuk diproses — sebuah mata pelajaran menimbang-nimbang dan menghitung ulang.
Makin dekat dengan hari keberangkatan, dia makin bimbang. “Aku nggak tahu harus gimana. Susah banget mutusinnya. Aku pengen di sini tapi aku juga nggak rela melewatkan main-main sama Kina pas dia udah lahir.”
Untung saja dua hari sebelum keberangkatan kami ke Jakarta, Kiyana memutuskan untuk ikut pindah ke Merauke. “Aku sekolah di Magelang nanti aja pas umur 10 tahun, ya?”, katanya. Oke!! Satu lagi pelajaran berharga yang kami alami: pelajaran berubah pikiran.
Berubah pikiran atau berubah pendapat selama ini seringnya dilihat sebagai sesuatu yang kurang baik. Plin-plan. Tidak kuat pendirian. Ésuk dhelé soré témpé. Padahal bukankah itu tandanya tujuan yang diharapkan sudah tercapai? Perubahan wujud dan cita rasa yang terjadi bukan merupakan kegagalan si kacang kedelai mempertahankan kediriannya. Justru itu bentuk keberhasilannya menjalani proses panjang pencucian, perendaman, perebusan, pengupasan, pengemasan, dan kolaborasi dengan ragi. Begitu pula dengan pemikiran kita. Jika penambahan bahan dan ragam dinamika proses yang terjadi tidak mengubah pikiran kita sama sekali, rasanya kita perlu membuat janji dengan diri sendiri untuk menyelidiki bagian mana yang perlu diperbaiki.
Changing your mind doesn’t make you a flip-flopper or a hypocrite. It means you were open to learning
Adam Grant, Think Again: The Power of Knowing What You Don’t Know
