: Sebuah Catatan dari Berbagi Pembacaan
Sabtu (14/06/25) lalu kami – akhirnya!! – memulai kegiatan yang sebenarnya sudah terpikir sejak lama tapi selalu tertunda dan lalu terlupakan begitu saja. Kegiatannya sederhana, yaitu masing-masing membagikan hasil pembacaannya atas buku, bagian buku, film, maupun podcast.
Hasil pembacaan boleh dituangkan dalam bentuk apapun. Syaratnya hanya satu: harus ditulis tangan. Pada hari yang disepakati, kami bergiliran menceritakan hasil pembacaan itu.
Saya memilih menceritakan hasil pembacaan saya terhadap salah satu bab di buku Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir: Menjawab Teka-Teki Kebudayaan oleh Marvin Harris.
Dalam bab yang berjudul ‘Pecinta Babi dan Pembenci Babi’, Marvin Harris melalui pintu Antropologi mengajak kita menelusuri sebuah pertanyaan yang menggelitik kaum manusia sejak sangat lama: mengapa Tuhan orang Yahudi dan Muslim begitu membenci babi sampai-sampai merasa perlu mengharamkannya?
Harris juga membaca kita masuk ke kehidupan sebuah suku terpencil di Pegunungan Bismarck Papua Nugini. Suku Maring namanya. Berkebalikan dengan masyarakat Yahudi dan Muslim, orang Maring begitu mencintai babi sampai-sampai tugas perawatan babi-babi gemuk itu – yang dibebankan pada setiap perempuan dewasa – menyedot sampai 50% total energi harian mereka.
Setelah mencapai jumlah tertentu, hampir seluruh babi yang mereka miliki disembelih besar-besaran dalam sebuah pesta besar pengurbanan dan penghormatan kepada leluhur. Pestanya, yang disebut sebagai Kaiko, berlangsung selama kira-kira satu tahun. Selama itu mereka mengundang klan-klan sekutu mereka untuk bersama-sama menyantap daging babi yang lezat dalam jumlah besar dan menari-nari.
Sekitar dua atau tiga bulan setelah Kaiko usai, meletuslah perang antar-klan. Orang-orang terbunuh, pihak yang kalah terusir dari wilayahnya, dan pihak yang menang merusak kebun dan rumah dari yang kalah sebelum meninggalkannya. Begitu perang berakhir, masing-masing klan menanam pohon kecil – yang disebut sebagai rumbim – sebagai penanda dimulainya masa-masa gencatan senjata. Orang Maring kembali mencurahkan sumber daya mereka untuk mengembangbiakkan babi-babi yang tersisa sampai sebanyak-banyaknya. Dan demikianlah, begitu jumlah babi dianggap mencukupi, Kaiko kembali digelar. Siklus ini berulang lagi dan lagi.
Harris menunjukkan bagaimana dua perilaku yang tampak bertentangan di permukaan ini ternyata sama-sama rasional jika kita memperlebar cara kita memandang fenomena, yaitu memahami konteks yang berlaku.
Babi merupakan hewan yang tidak mampu berkeringat, sehingga ketika berada di lingkungan bersuhu lebih dari 37° Celcius, mereka berkubang untuk menyejukkan diri secara eksternal. Jika sumber air bersih tidak tersedia, yang terjadi adalah: mereka berkubang dalam urin dan tinja mereka.
Selain itu, babi – tidak seperti sapi, kambing, dan domba – tidak mampu mencerna makanan tinggi selulosa seperti rumput-rumputan dan dedaunan sehingga menjadi pesaing manusia dalam memakan kacang-kacangan, umbi-umbian, dan gandum.
Ditambah lagi babi tidak bisa menjadi sumber susu dan tidak bisa digembalakan dalam jarak jauh. Untuk lingkungan Timur Tengah yang kering dan panas, memelihara babi adalah keputusan yang jauh dari efisien.
Pelembagaan larangan memakan babi dalam hukum halal-haram merupakan refleksi dari dari rasionalitas ekologis dalam konteks lingkungan gurun dan agrikultur kering di Timur Tengah pada masa itu. Dengan mematuhinya, masyarakat melindungi diri dari keputusan-keputusan ekonomi yang bisa mengganggu ketahanan hidup kolektif.
Berbeda halnya dengan lingkungan yang didiami Suku Maring. Hutan hujan tropis pegunungan dengan suhu udara rendah, curah hujan tinggi, dan kaya vegetasi yang menjadi umber nutrisi pokok babi. Makin banyak babi, makin sehat dan kuat orang Maring berkat lemak dan protein kualitas tinggi – sesuatu yang tidak bisa disediakan oleh hewan-hewan lain di sana.
Dapat giliran kedua dari hompimpa, @sapicihuy berbagi hasil pembacaannya atas bagian awal buku Destiny Disrupted: A History of The World Through Islamic Eyes yang ditulis oleh Tamim Ansary.
Hal paling menarik buat saya adalah bagaimana Tamim Ansary memilih menggunakan frasa Middle World alih-alih Middle East untuk mewakili suatu wilayah geografis dan budaya yang menjadi jantung dunia Islam – sebuah upaya membebaskan diri dari bias sudut pandang kolonial Eropa.
Frasa ‘Middle East’ merupakan produk konstruksi geopolitik kolonial yang berdiri di atas asumsi bahwa Eropa adalah pusat peradaban, pengetahuan, rasionalitas, dan modernitas. Segala yang bukan Eropa kemudian ditakar dan dilabel bukan sebagai keberadaannya sendiri melainkan secara relatif terhadap Eropa – entah dari jaraknya, atau dari fungsinya dalam memenuhi kepentingan Eropa.
Sementara itu ‘Middle World’ memberikan gambaran sebuah dunia yang secara geografis terletak di antara Mediterranean world dan Chinese world, dan secara historis serta budaya memiliki narasi dan tujuannya sendiri.
Hal sangat menarik berikutnya adalah bahwa jauh sebelum kelahiran Islam, Middle World telah menjadi pusat peradaban yang silih berganti. Mesopotamia dengan sistem irigasinya yang tertata, Sumeria dengan penemuan tulisan dan roda, kemudian Akkadia, Babilonia, dan seterusnya.
Dari keputusan Tamim Ansary ini saya belajar bahwa kejernihan memandang masa lalu bukan dimulai dari kejujuran fakta-fakta yang digunakan, melainkan sejak jauh sebelum itu. Menegaskan di mana kita berdiri relatif terhadap suatu peristiwa menentukan sudut pandang kita terhadapnya, dan dengan demikian sangat berpengaruh pada seluruh bangunan cerita.
Beralih ke Kiyana (9 tahun), yang dalam kesempatan ini memilih The Witches karya Roald Dahl, dan beginilah catatan yang dia buat:
Ketika kami menanyakan pendapatnya tentang akhir cerita, Kiyana berkata bahwa menurutnya ini merupakan akhir yang baik, yang bahagia. Kami heran mengapa dia berpendapat begitu, sebab di dalam cerita si anak laki-laki sebagai tokoh utama meskipun berhasil menggagalkan rencana jahat penyihir ke anak-anak di Inggris, tetap menjadi seekor tikus alih-alih kembali menjadi anak manusia.
Jawabnya, “Itu akhir yang baik karena dia bahagia ketika menjadi tikus. Apalagi kan neneknya itu udah tua dan sakit, dan umur tikus cuma sampai 9 tahun jadi waktu hidupnya nggak lama lagi. Mungkin tuh mereka bakal nggak selisih lama meninggalnya. Terus mereka juga berencana bepergian ke luar negeri buat melawan penyihir-penyihir lain, karena dia tikus jadi bisa lebih nggak ketahuan. Apalagi neneknya waktu muda pernah diserang penyihir juga sampai salah satu jarinya buntung. Tapi ini ternyata bikin neneknya tahu banyak soal penyihir, dia juga jadinya lebih siap menerima dan merawat di anak ini pas jadi tikur. Jadi si neneknya nyiapin barang-barang khusus buat si anak. Beda sama Bruno Jenkins, temannya yang juga jadi tikus. Orang tuanya nggak siap merawat tikus dengan baik.”
Jawaban polos anak-anak yang – sebagaimana seringnya – terasa seperti undangan untuk meredefinisi segala sesuatu.
Sesuatu yang tampak sebagai musibah mungkin saja justru adalah akhir yang baik, atau bisa juga merupakan bekal untuk mempersiapkan kita menerima dan sampai pada sebuah akhir yang baik.
Satu lagi, akhir yang baik punya beragam bentuk. Kadang berupa kedamaian dikelilingi keluarga tercinta, kadang berupa petualangan di dalam diri seekor tikus kecil. []
