
Menyaksikan orang-orang di sekitar yang piawai dalam beragam interaksi sosial selalu membuat saya terkagum-kagum. Keluwesan mereka membawa diri, membuka percakapan, memilih bahan obrolan, dan menampakkan ekspresi yang tepat — itu semua benar-benar ajaib. Sejak kapan, dari mana, dan bagaimana mereka mempelajarinya? Apakah mereka mempelajarinya secara sadar, ataukah keterampilan itu sebuah bentuk kemenangan lotre genetik?
Sadar diri tidak mengantongi kualitas ini, sejak lama sekali saya dihantui pertanyaan (yang dilapisi rasa bersalah — seringkali) ini: apakah orang-orang yang tidak cakap dalam interaksi sosial punya peluang untuk berkontribusi secara signifikan terhadap kehidupan sosial?
Jika ya, apa saja kemungkinan bentuk-bentuk kontribusi yang bisa kami persembahkan? Jika tidak, bagaimana supaya kami tidak berakhir menjadi orang-orang yang kalah dalam memberi manfaat bagi dunia? Secara intuitif saya tahu bahwa jawabannya tidak sepolos ya atau tidak. Maka saya formulasikan ulang pertanyaan saya: bagaimana dan seberapa banyak kami mesti mengubah diri supaya bisa berkontribusi tanpa kehilangan diri sendiri?
Kemudian pada suatu hari begitu selesai menyimak sebuah episode podcast A Bit of Optimism, saya mulai membaca buku yang dibahas Simon Sinek bersama penulisnya, Ty Tashiro. Buku ini mengantar saya ke pemahaman yang lebih dalam lagi terhadap diri sendiri dan diri orang lain. Buku ini juga memberikan penguatan untuk membuat ruang perubahan diri sejauh yang diperlukan, selangkah demi selangkah.
Awkward: The Science of Why We’re Socially Awkward and Why That’s Awesome dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama berjudul So This Is Awkward, berisi penjelasan mengenai apa itu awkward serta bagaimana kaum ini bisa belajar untuk menavigasi diri dalam kehidupan sosial.
Bagian berikutnya, This Is Getting Awkward, adalah bagian di mana Tashiro mengajak pembacanya menyaksikan bagaimana pergeseran norma-norma sosial yang terjadi dengan sangat cepat menyebabkan kehidupan sosial modern terasa lebih awkward untuk kita semua — serta trik-trik apa saja yang bisa kita pelajari untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ini.
Bagian terakhir, How the Awkward Become Awesome, menguraikan mengapa ciri-ciri yang ditemukan pada orang-orang yang socially awkward juga memuat potensi besar untuk mendukung mereka menuju pencapaian luar biasa.
Supaya tidak terlalu panjang, hasil pembacaan saya atas buku Awkward saya pecah juga menjadi tiga tulisan, masing-masing untuk satu bagian. Untuk mempermudah penyebutan, saya gunakan kata ‘awkward’ untuk mengacu pada orang-orang dengan tingkat social awkwardness yang tinggi, dan ‘non-awkward’ untuk kelompok orang yang fasih dalam berinteraksi sosial.
Manusia dan Jalinan Kehidupan Sosialnya
Alam telah menunjukkan gambar besar bagaimana dunia bekerja. Pohon-pohon saling terhubung berkat kerja sama antara akar dengan jaringan jamur tertentu. Keterhubungan antarpohon ini memungkinkan terjadinya adegan di mana pohon-pohon yang lebih berdaya berbagi air dan nutrisi ke pohon-pohon lain yang kekurangan sumber daya untuk melakukan fotosintesis dengan optimal.
Hal yang sama berlaku juga pada spesies manusia. Tashiro membuka bagian pertama bukunya dengan membahas bahwa kebutuhan untuk terhubung secara sosial merupakan kebutuhan yang sama mendasarnya dengan kebutuhan-kebutuhan fisik seperti makanan dan air. Bukti-bukti baru dari penelitian selama puluhan tahun dari berbagai disiplin ilmu ‘memaksa’ kita melepas asumsi hierarki kebutuhan manusia yang diajukan Maslow pada tahun 1950-an.
Roy Baumeister dan Mark Leary di tahun 1995 sampai pada temuan bahwa saking mendasarnya kebutuhan akan social belonging ini, pada banyak kasus manusia secara sadar memilih kehilangan kesempatan pemenuhan kebutuhan fisik demi terpenuhinya kebutuhan sosial. Dari sisi yang lain, Ed Diener melalui studinya tentang kebahagiaan menemukan bahwa hubungan sosial yang memuaskan merupakan prediktor paling kuat untuk tingkat kebahagiaan.
Dari dunia kesehatan, Janice Kiecolt-Glaser menyimpulkan bahwa kesepian kronis merupakan faktor risiko signifikan untuk masalah-masalah kesehatan serius, seperti melemahnya fungsi imun serta masalah jantung dan pembuluh darah. Jika diakumulasikan, ini sangat berpeluang meningkatkan risiko kematian.
Sementara itu dari perspektif Antropologi, Mary Douglas mencatat bahwa masyarakat mengembangkan ekspektasi-ekspektasi sosial yang kompleks dan detail sebagai mekanisme untuk menguji loyalitas dan kontribusi individu demi tercapainya tujuan kolektif masyarakat. Ini merupakan penanda atas betapa pentingnya kohesi sosial bagi keberlangsungan kelompok.
Bentuk ekspektasi sosial ini beragam — bisa berupa sapaan yang ramah, permintaan maaf yang tulus setelah melakukan kesalahan, mau bergiliran, dan bentuk-bentuk lain. Yang secara universal terjadi adalah begitu ekspektasi sosial ini tidak terpenuhi sedikit saja, terjadilah awkward moment. Mekanisme alarm ini merupakan salah satu bentuk penemuan manusia untuk mengidentifikasi mana yang ‘bukan kita’. Keberadaan mereka mengancam stabilitas sosial.
Tentu awkward moment bisa terjadi pada siapa saja; tapi ketika ini terjadi pada golongan non-awkward, tidak ada dampak negatif yang berarti. Beda cerita jika momen ini terjadi pada mereka yang awkward — yang secara konsisten tidak fasih dalam interaksi sosial. Pada mereka, akibat buruknya besar sehingga mengancam posisi sosial mereka di dalam kelompok.
- Mengasuh Homoseksualitas: Sebuah Perjalanan Pulang-Pergi
- Permainan Sulit Bernama Menjadi Manusia
- Cermin Besar di Ruang Keluarga
- Menyusun Batu Usai Berjumpa Cahaya: Sebuah Catatan di Hari Pengurbanan
- Ilusi Perubahan: Kesetiaan adalah Pengkhianatan yang Terukur
Cara Otak Awkward Bekerja
Ada istilah-istilah yang mungkin disalahpahami selama ini sebagai sinonim dari social awkwardness karena menunjukkan ciri-ciri yang mirip, tapi sebenarnya bisa dibedakan: autism, social anxiety, personality disorder, dan introversion.
Autism Quotient merupakan skor yang menilai lima ciri yang secara umum ditunjukkan oleh orang dengan spektrum autism, yaitu social skill deficit, communication problem, detail focused, trouble switching attention, dan active imagination. Rentang skor AQ 0 sampai 50, dengan skor 32 sebagai titik pembeda antara individu autistik dengan yang tidak. Social awkwardness memuat ciri-ciri tersebut, tapi dengan skor yang tidak mencapai 32.
Social anxiety merupakan rasa takut berlebihan akan bersikap tidak pantas, sementara social awkwardness merujuk pada kemampuan aktual seseorang untuk bertindak pantas secara sosial.
Meskipun awkward bisa tampak kurang peka, perilaku ini bisa dibedakan dengan perilaku serupa yang ditunjukkan oleh penderita gangguan kepribadian. Pada awkward, perilaku ini umumnya bukan diniatkan, melainkan disebabkan oleh kurangnya pemahaman mereka tentang bagaimana menangani situasi-situasi sosial yang ‘lembut’.
Introversion juga dapat dibedakan dari social awkwardness. Yang pertama merujuk pada preferensi sosial, sementara yang kedua adalah tentang kemampuan untuk berinteraksi secara efektif. Awkwardness adalah kurangnya intuisi dalam menavigasi diri dalam kehidupan sosial.
Di balik kekurangan mereka, awkward seringkali punya rasa keadilan dan welas asih yang tinggi, sebab mereka tahu persis bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil. Salah satu contohnya adalah Hans Asperger, seorang awkward yang dalam bahaya serangan eugenics Nazi tetap melanjutkan penelitian panjangnya tentang anak-anak dengan autisme. Dia bahkan menyebut pasien-pasien ciliknya itu sebagai little professor alih-alih sebagai autistic psychopath.
Kata ‘awkward’ berakar dari Bahasa Nordik Kuno, afgr, yang artinya ‘facing the wrong way’. Tashiro memilih mendefinisikannya sebagai berikut: ‘Awkward people are simply looking elsewhere’. Para awkward memandang ke arah yang berbeda dengan non-awkward sehingga bahkan ketika keduanya melewati peristiwa yang sama, pengalaman mereka sama sekali berbeda. Tashiro memberikan ilustrasi yang sangat memudahkan kita untuk memahami perbedaan ini.
Bayangkan Anda sedang duduk menyaksikan pertunjukan The Lion King. Adegan pertama, bayi Simba diangkat tinggi-tinggi dan diperkenalkan ke seluruh warga hutan. Aktor-aktor berkostum binatang menari-nari dalam koreografi, pencahayaan, dan musik sedemikian rupa sehingga kombinasinya melahirkan pertunjukan yang mengagumkan.
Stop. Putar ulang adegan tersebut, hanya saja kali ini ada lampu sorot dengan cahaya terang berwarna putih di sisi kiri panggung. Cahaya ini jauh lebih terang dibanding cahaya utama yang temaram di bagian tengah panggung. Pertunjukan yang tersaji di area yang disorot cahaya putih terang ini adalah: detail kostum binatang yang indah, lalu berganti dengan cucuran keringat di bagian kiri dahi salah satu aktris, senyum tipis di bibir salah satu pemeran ketika penonton bertepuk tangan, dan tiba-tiba tampak bagian belakang tubuh gajah yang lewat dengan cepat dan kembali menghilang.
Kebanyakan anggota masyarakat tahu ke mana harus memandang: ke bagian tengah panggung. Mereka mendapat gambaran besar dalam alur yang masuk akal dari awal, tengah, lalu akhir.
Akan tetapi ada segelintir manusia awkward yang memandang ke arah yang ‘salah’. Mereka kehilangan informasi-informasi sosial yang penting karena informasi ini berada di luar aperture mereka, di luar ketertarikan mereka. Sebagaimana banyak hal lainnya, kegagalan ini punya trade-off yang berharga, yaitu fokus yang sangat tajam pada detail di area sempit yang menjadi ketertarikan mereka. Sempit, atau bisa juga: spesifik.
Dalam Social: Why Our Brains Are Wired To Connect, Matthew Lieberman menulis bahwa manusia punya dua jaringan otak yang terpisah. Satu untuk masalah-masalah nonsosial seperti membaca buku dan menganalisis, dan satu lagi untuk persoalan sosial semisal empati dan membaca apakah seseorang punya ketertarikan pada kita. Ketika satu jaringan teraktivasi, jaringan yang lain menjadi kurang aktif.
Studi-studi dengan brain imaging menunjukkan bahwa awkward cenderung menunjukkan aktivitas rendah dalam jaringan otak sosial dan hiperaktivitas pada jaringan otak nonsosial. Inilah mengapa mereka tidak mampu menempatkan diri dalam interaksi sosial secara intuitif seperti yang mampu dilakukan oleh non-awkward. Studi lain menunjukkan bahwa bahkan ketika tidak sedang memikirkan apapun, otak sosial non-awkward tetap bekerja. Tidak demikian halnya dengan yang terjadi di dalam kepala awkward.
Menjadi efektif secara sosial berarti punya theory of mind yang memadai — yaitu kemampuan kognitif untuk memahami keadaan mental orang lain. Semakin kita memahami seseorang, semakin akurat theory of mind yang kita bentuk tentang orang tersebut. Observasi terhadap perilaku orang lain ini kita lakukan terus-menerus untuk sampai pada simpulan apakah mereka lebih cocok menjadi teman atau musuh.
Non-awkward membentuk theory of mind dengan sangat cepat, bahkan sering mereka tidak menyadari proses ini. Mereka punya kemampuan untuk membentuk banyak sekali theory of mind dan menyesuaikan gaya interaksi mereka. Sementara itu, awkward kesulitan melakukan hal ini. Kesulitan ini menjadi sebab bagi kesulitan berikutnya, yaitu dalam membentuk kontinuitas dalam interaksi berulang dengan orang yang sama. Meskipun interaksi telah terjadi berkali-kali, awkward sangat mungkin tetap merasakannya sebagai sesuatu yang tidak familiar.
Bagi kelompok awkward, kehidupan sosial tampak sebagai fragmen-fragmen yang perlu disusun satu demi satu untuk bisa dibaca dan dipahami. Perilaku nonverbal, ekspresi wajah, dan bahasa verbal dalam percakapan — ketiganya merupakan sinyal yang cenderung menimbulkan masalah pada awkward dalam interaksi sosial mereka.
Perilaku nonverbal mempengaruhi kemampuan manusia untuk mengidentifikasi secara akurat apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain. Non-awkward secara cepat dapat membaca mood orang lain dari wajahnya, tapi tidak demikian dengan awkward.
Dalam sebuah studi tentang pemrosesan emosi, peneliti menggunkaan fMRI untuk melihat apa yang terjadi pada otak awkward dan non-awkward ketika mereka diminta mengidentifikasi emosi dari foto-foto wajah yang telah disediakan. Ternyata mereka sama baiknya dalam mengenali emosi-emosi itu, tapi melalui proses yang sangat berbeda.
Sementara non-awkward mampu mengenali emosi begitu melihat wajah, awkward memperhatikan fitur-fitur wajah dimulai dari area mulut, lalu mata, kemudian menyatukan kedua informasi ini untuk sampai pada kesimpulan bahwa wajah tersebut menunjukkan emosi gembira, misalnya.
Soal bahasa verbal, awkward punya kesulitan dalam memahami niat sebenarnya di balik percakapan sosial. Ini membuat mereka makin kesulitan mengetahui apa yang sebaiknya dikatakan. Kurangnya komprehensi mengakibatkan rendahnya artikulasi. Seperti kata Tashiro: awkward punya banyak hal menarik untuk diobrolkan, sebenarnya, tapi mereka punya kesulitan dalam membuka percakapan.
Awkward people have many interesting things to say, but it’s like they are a book missing the preface and first chapter, those early sections where the author and reader get acquainted with each other before diving into deeper material.
Tashiro, Ty. Awkward: The Science of Why We’re Socially Awkward and Why That’s Awesome (p. 59). HarperCollins. Kindle Edition
Awkward punya kesulitan mengawali pembicaraan, tapi ketika mereka sudah mulai bicara, mereka kesulitan untuk berhenti. Mereka cenderung berbicara dalam mode ‘memberi kuliah’ tentang hal-hal nonsosial yang menjadi ketertarikan mereka. Dalam mode ini, mereka cenderung menjadi ofensif. Karena itulah, dan juga karena sadar diri bahwa ketertarikan mereka ternyata tidak cukup menarik untuk banyak orang lain, mereka seringkali menahan diri.
Ketika bercakap-cakap, awkward punya kecenderungan menghindari kontak mata. Bukan karena tidak tertarik pada isi percakapan, melainkan sebagai upaya meredam intensitas emosi dari interaksi tersebut. Bagi mereka, stimulus kaya emosi menyebabkan hiperaktivitas di amygdala — area otak yang terasosiasi dengan emosi seperti rasa takut dan kecemasan. Inilah mengapa mereka seringkali tampak dingin atau tidak ramah.
Lantas Bagaimana?
Tapi mengenali dan memahami lebih dalam kecenderungan-kecenderungan alami yang dimiliki oleh diri sendiri pasti bukan alat untuk memproduksi pembenaran-pembenaran atas kelemahan kita. Penerimaan diri bukan berarti berhenti beradaptasi, melainkan pijakan pertama untuk mencari cara efektif untuk sampai pada tujuan, meskipun harus memilih jalan yang memutar.
The trick for awkward people is learning how to adjust their aperture and shift their focus to areas of life that fall outside the natural set point for their spotlighted attention.
Tashiro, Ty. Awkward: The Science of Why We’re Socially Awkward and Why That’s Awesome (p. 23). HarperCollins. Kindle Edition.
Tashiro menjelaskan dalam buku ini bahwa keterampilan bersosial mirip dengan keterampilan berbahasa. Sebelum mencapai tingkat fasih, kita perlu belajar menguasai serangkaian hal-hal dasar: mengartikulasikan bunyi huruf-huruf, mempelajari makna kata dan istilah, serta mempelajari aturan-aturan gramatikal dalam menyusun kata-kata menjadi kalimat. Pemahaman mekanis ini, dengan latihan yang konsisten, akan mengantar kita pada kefasihan — yaitu penguasaan keterampilan berbahasa tanpa harus berpikir secara sadar tentang aturan-aturan.
Maka, langkah pertama bagi seorang awkward untuk belajar bersosial secara efektif adalah dengan berkesadaran menggeser arah fokus pandangan mereka ke arah kehidupan sosial melalui latihan-latihan yang sesuai dengan kecenderungan alaminya: secara metodis.
Tashiro memberikan contoh latihan yang pernah rutin dia lakukan, yaitu meluangkan tiga puluh menit sebelum tidur untuk memikirkan interaksi sosial yang dijalaninya selama sehari, lalu membuat daftar keterampilan sosial yang dia butuhkan untuk interaksi sosial esok hari.
Awkward juga bisa mulai berkomitmen untuk menjaga emotional bank account tetap positif secara konsisten. Emotional bank account merupakan rasio perilaku positif dan negatif. Untuk menjadi ‘orang berperilaku baik’, diperlukan sekitar 4 atau 5 perilaku positif untuk setiap 1 perilaku negatif. Saldo positif berpotensi membangun kepercayaan. Ini bisa dilakukan dengan membantu orang lain setiap hari dalam hal-hal kecil.

Leave a Reply