Perjalanan membentuk dan mengalami keluarga inti adalah sebuah instruksi untuk melambat, setidaknya pada pos-pos tertentu. Ada hal-hal yang menjadi tak tergapai atau tertunda, memang, tapi di dalam langkah yang kecil-kecil itu juga tiba-tiba muncul banyak tawaran pelajaran yang tak terbayangkan sebelumnya. Salah satu pelajaran itu adalah: berbuat baik pada orang-orang tercinta kadang-kadang justru lebih sulit ketimbang berbuat baik pada orang asing.
Berbuat baik pada kasir minimarket, petugas parkir, atau orang yang berpapasan di jalan memang merupakan tindakan yang cukup mudah dilakukan. Begitu juga dengan berbuat baik kepada atasan, rekan kerja, teman, dan tetangga. Kita bahkan sering kali masih bisa memeras sisa-sisa kesabaran untuk pengguna jalan lain yang ngawur dan membahayakan keselamatan —untuk tidak mengutuk dan segera melupakannya.
Tapi berbuat baik pada anak sendiri? Tampak mudah, bahkan otomatis. Kita sangat mencintai mereka sejak hari pertama. Mudah untuk mengatakan betapa kita mencintai mereka apapun yang terjadi. Mudah untuk bersedia menukar nyawa kita demi kehidupan dan kebahagiaan mereka.
Tapi tidak dengan merespons perilaku menyebalkan mereka dengan ketenangan dan kesadaran, menerima dan mengiyakan seluruh emosi mereka selembut mungkin di saat kita merasa sesak napas dan menahan-nahan ledakan kemarahan yang sudah naik ke kerongkongan. Tapi tidak dengan memeras sisa-sisa kesabaran untuk tegas menetapkan batasan perilaku yang diperbolehkan di tengah banyak hal yang mesti diselesaikan.
Respons-respons kecil yang tampak remeh ini adalah bentuk kebaikan yang membutuhkan energi dan kesadaran dalam jumlah besar. Ada kompleksitas yang berbeda dalam interaksi kita dengan anak-anak dan pasangan. Di dalamnya nyaris tak ada rem berupa rasa takut ditinggalkan, tercemarnya persona, dan rusaknya nama baik. Di depan mereka, topeng ‘orang baik’ yang biasa kita pakai di luar rumah terlepas.
Kita juga punya kecenderungan alami untuk mudah terbiasa dengan hal-hal yang dipinjamkan dan segera memasukkan mereka ke dalam daftar kepemilikan —mengira akan selamanya demikian. Toh anak-anak adalah milik kita, dan mereka selalu mencintai kita meskipun kita merespons mereka dengan ‘kurang baik’. Toh kita bisa bersembunyi di balik ‘karena sayang dan peduli’ untuk ledakan kemarahan kita pada mereka. Interaksi dengan orang-orang terdekat ini, di mana kita tak merasa terancam oleh kemungkinan tersingkir, sangat berpotensi menjadi neraka yang menyala-nyala.
Tapi interaksi yang sulit ini juga bisa membangunkan sesuatu yang terkubur sangat dalam sejak sangat lama. Saking lamanya, kita butuh waktu panjang untuk mengenali dan memahaminya. Ia adalah bayang-bayang, bagian dari diri kita yang buruk rupa karena terabaikan. Ia terbungkus murka yang lahir dari kesedihan dan kebingungan mendalam karena tak mendapat sandaran yang konsisten pada masa-masa di mana kita paling membutuhkannya. Memahaminya adalah mengelupas bungkusan-bungkusan itu dan sampai pada harta karun yang paling berharga dan tak bisa dicuri siapapun: diri sendiri yang tak lagi terfragmentasi.
Inilah mengapa perjalanan belajar berbuat baik pada orang-orang terdekat mendukung perjalanan berbuat baik pada diri sendiri, dan begitu pula sebaliknya. Pada gilirannya, kedua hal ini mendorong kita untuk berbuat lebih baik lagi kepada orang lain —kali ini bukan bersumber dari rasa takut ditinggalkan atau berkurangnya nama baik.
Belajar berbuat baik pada diri sendiri dan anggota keluarga lainnya akan membebaskan kita sedikit demi sedikit dari rem-rem yang sebelumnya terpaksa kita gunakan untuk memenuhi ‘tuntutan’ tampil sebagai orang baik. Kebaikan yang tulus ini tidak mengorbankan diri sendiri, dan kita melakukannya semata-mata karena sadar bahwa itulah langkah yang paling tepat untuk diambil.
Bayang-Bayang
Dua dekade lalu, saya mengalami sebuah mimpi yang cukup simbolis. Saya berlari berputar-putar di dalam rumah, dikejar oleh sesosok hantu yang melayang. Bagian atas hantu itu berwarna hitam, sementara bagian bawahnya berwarna putih. Saya berusaha mengecilkan diri supaya bisa kabur melalui kisi-kisi. Tapi sebesar apapun keyakinan saya bahwa itu akan berhasil dan sekeras apapun saya memfokuskan pikiran, tubuh saya tak kunjung mengecil sedikit pun.
Tak ada lagi jalan keluar. Akhirnya saya berbalik ke belakang dengan memejamkan mata karena sangat takut menatap hantu itu dan tak sanggup mengimajinasikan apa yang akan dilakukannya pada saya. Saya buka mata perlahan, dan ia diam saja di depan saya. Ia tidak menerkam, tidak tertawa kejam, dan tidak mendekat sejengkal pun. Saya tersenyum, dan ia juga.
Butuh waktu yang sangat panjang untuk akhirnya mengenali keberadaan hantu itu di kehidupan nyata. Dulu sekali, saya mengira saya butuh waktu sendiri yang lebih banyak untuk memahami dan memprosesnya. Ternyata saya salah. Saya justru menemukannya di dalam interaksi yang kadang-kadang terasa terlalu intens dan terlalu tak berjarak: keluarga.
Pasangan dan anak-anak adalah sosok yang paling saya cintai dan hampir selalu berada di urutan pertama prioritas hidup saya, tapi mereka jugalah orang-orang yang paling sering saya tumpahi letupan hingga ledakan kemarahan. Mereka menyaksikan sisi gelap saya —yang ternyata bisa sangat mengerikan bahkan untuk saya sendiri.
Jika ditelusuri, reaksi berlebihan itu hampir selalu merupakan akumulasi dari tumpukan sampah emosi yang tak terproses. Satu kejadian yang secara objektif merupakan kesalahan kecil bisa memicu ledakannya. Ini memberikan dorongan untuk menengok ke masa-masa yang jauh di belakang.
Tumbuh dalam keluarga di mana stabilitas emosi orang tua nyaris nol membuat saya mempersepsikan konflik sebagai sesuatu yang sangat mengerikan dan tak tertanggung, dan dengan demikian berusaha sebisa mungkin menghindarinya. Karena konflik adalah sesuatu yang tak terhindarkan dalam setiap interaksi, maka secara tidak sadar saya menghindarkan diri dari interaksi, dari orang-orang lain. Saya membangun identitas sebagai manusia penyendiri.
Setelah melalui perjalanan berkeluarga selama sebelas tahun, saya mengalami —tidak lagi sekadar membaca dan sok paham— bahwa sebagian besar konflik bukan hanya tidak berbahaya, tapi juga sangat berguna untuk pertumbuhan diri dan interaksi. Saya juga mengalami bagaimana emosi-emosi negatif sama berharganya dengan emosi positif. Mereka sama-sama membawa informasi dari dalam diri. Menyediakan ruang aman untuk memproses mereka adalah cara efektif untuk bertemu dan mengenal sosok hantu hitam-putih tadi. Hantu mengerikan, yang ketika dikenali dan diterima, bertransformasi menjadi bagian dari diri kita yang membawa nyala yang sudah dibekalkan sejak semula.
Terus Memantul
Keluarga adalah sebuah ruang ajaib dengan cermin besar di seluruh sisinya. Cermin itu memantulkan bayangan dan perilaku kita ke segala arah. Berbuat sedikit lebih baik kepada anak-anak, misalnya, akan menumbuhkan self-compassion di dalam diri kita. Tampak bertentangan jika dilihat dari alokasi waktu dan perhatian, tapi mungkin tidak jika dipandang dari level yang lebih halus.
Berusaha sebisa mungkin meluangkan waktu dan perhatian untuk berdua saja dengan masing-masing anggota keluarga membawa kesadaran bahwa ada satu lagi orang terdekat yang semestinya kita perlakukan dengan sebaik itu juga: diri sendiri. Begitu pula dengan belajar menerima dan memahami fungsi setiap emosi yang mereka alami tanpa reaksi berlebihan; memberi dukungan kepada mereka untuk mengambil risiko gagal demi mencoba hal-hal baru; tidak mempermalukan mereka dengan mengungkit kesalahan di masa lalu, sebab dunia adalah tempat yang cukup aman untuk membuat kesalahan; mendukung mereka untuk menjadi pemula dalam banyak hal, sebab kata terlambat tidak berlaku dalam bobot yang sama dalam semua area; mengizinkan mereka untuk terkadang ikut-ikutan sebab tidak semua tren buruk; mengkondisikan kebiasaan membaca dan berpikir mandiri; memberikan tuntutan kemandirian sekaligus responsif pada kebutuhan mereka.
Kita bisa belajar untuk melakukan semua itu pada mereka, maka kita pasti bisa belajar memberikannya juga pada diri sendiri. Rupanya, kita tak bisa mewariskan cuaca yang berbeda pada generasi berikutnya tanpa ikut mengalaminya juga. Kita tak bisa menolak arus perubahan yang kita ciptakan sendiri. Bahwa ada harga yang harus dibayar adalah sebuah kepastian. Tapi mengorbankan diri menjadi tumbal demi kebahagiaan mereka bukan hanya mengkhianati diri sendiri, tapi juga tidak efektif. Bahwa yang paling mereka butuhkan bukanlah kerelaan kita untuk mati demi mereka, melainkan keberanian kita untuk ‘hidup’ dalam kesadaran, alih-alih sekadar bertahan hidup.
Dan siapa sangka, justru self-compassion yang tampak lembek ini adalah salah satu faktor lingkungan yang memberi dukungan besar untuk tegaknya disiplin diri. Dalam sebuah institusi, disiplin mungkin harus diwujudkan dengan aturan dan konsekuensi yang jelas. Tapi dalam konstelasi di dalam diri, kedisiplinan justru membutuhkan upaya-upaya lembut sehingga kita bisa mengakses nyala yang disembunyikan hantu bayang-bayang.
Sang Pelindung yang Hidup di Masa Lalu
Dulu, saya mengimajinasikan sikap disiplin semata sebagai kombinasi antara besarnya tekad (willpower) dan imbalan. Supaya disiplin dalam waktu yang panjang, saya mesti belajar memperbesar kapasitas tekad dan punya kejelasan tujuan sehingga manisnya imbalan terdefinisi sejak awal. Tapi bagaimana persisnya memperbesar tekad di tengah riuhnya suara untuk berhenti mencoba dan kembali saja ke kebiasaan lama?
Suara itu, si pelaku sabotase diri, bukan berasal dari bagian diri saya yang jahat. Ia hanya ingin melindungi seluruh diri dari bahaya. Masalahnya, ia mempersepsikan segala sesuatu yang berbeda dari pola yang sudah ada sebagai bahaya. Masalah berikutnya, ia cukup pintar untuk mengakses sistem kepercayaan saya dan mengambil beberapa sebagai argumen pendukung.
“Kau harus berani untuk berkata tidak pada hal-hal yang tak selaras dengan jiwamu, dan menggunakan waktumu yang sempit untuk memenuhi tugasmu yang sejati,” atau “Hanya karena sebagian besar orang melakukannya, bukan berarti kau harus melakukannya juga” —adalah dua dari banyak kalimat yang dikeluarkannya. Ia memang piawai membuat saya cukup yakin bahwa tidak mencoba adalah keputusan paling bijaksana.
Niatnya baik, tapi ia tidak mengantongi seluruh pengetahuan. Kalimat-kalimatnya benar, tapi bisa sangat menyesatkan untuk diterapkan pada konteks yang sedang berlangsung. Ia juga bukan seorang pengecut; ia hanya menyandarkan seluruh operasinya pada informasi yang berasal dari masa lalu, tak peduli informasi itu sudah tidak berlaku lagi. Masa lalu yang dipenuhi rasa takut dan cemas akan menghasilkan ‘jangan’ yang banyak.
Memang ada ‘tidak’ yang patut diikuti sebab ia merupakan petunjuk arah, tapi tidak semuanya demikian. Dari semua ‘tidak’ yang menggema, sebagian besar berasal dari Pelindung Diri yang terus menghuni masa lalu itu. ‘Tidak’ jenis ini bukanlah petunjuk, melainkan tantangan untuk ditaklukkan. Dibutuhkan tekad besar untuk melakukannya.
Secara anatomis, pusat kendali motivasi (yang merupakan komponen dari tekad) sekaligus pusat bagi kegigihan (tenacity) terletak di sebuah area di dalam otak bernama anterior Midcingulate Cortex (aMCC). Area ini menyala dan membesar hanya ketika kita melakukan sesuatu yang kita benci atau menahan diri dari melakukan sesuatu yang sebenarnya sangat ingin kita lakukan.
Melatih aMCC bukanlah soal seberapa besar kesulitan dari tugas yang kita kerjakan, melainkan seberapa besar friksi atau penolakan diri yang bersedia kita tanggung. Melakukan latihan fisik berat atau membaca buku rumit berhari-hari tidak akan mengaktifkan aMCC jika kita memang suka melakukannya.
Sebaliknya, latihan beban ringan selama tiga puluh menit ketika kita sedang merasa malas, menulis ketika sedang tidak ada ide dan ingin melakukan hal lain, menunda mengecek notifikasi ketika kita sangat penasaran dan sangat ingin menggulir ponsel, dan menahan ledakan amarah yang sudah sampai di lidah, justru akan mengaktifkan dan menumbuhkan aMCC.
Secara alami, aMCC menyusut seiring waktu kecuali dilatih secara konsisten. Sementara itu, latihan yang konsisten adalah bentuk kedisiplinan. Ada hubungan sirkular antara motivasi dan kegigihan dengan kedisiplinan. Mereka saling menguatkan dan menumbuhkan, dan sama-sama membutuhkan elemen pendukung bernama suara internal yang lembut.
Dialog Internal
Integrasi hantu bayang-bayang mentransformasikan suara internal dari kejam menjadi lembut. Suara internal yang lembut ini terdengar seperti suara seorang pengasuh yang cintanya menumbuhkan. Ia memahami pasang-surut emosi yang kita alami dan mengizinkan kita untuk menerima dan memprosesnya, tapi tidak menyalahpahaminya sebagai bagian dari identitas kita. Kita adalah langit, sementara emosi-emosi itu adalah awan yang muncul lalu menghilang.
Kelembutannya membuat saya merasa aman untuk menjelajahi area-area yang tak terjelajahi sebelumnya. Ia tidak menghukum, mempermalukan, dan membodoh-bodohkan saya setiap kali saya melakukan kesalahan. Kadang-kadang kita bukannya tidak bernyali; kita hanya berada di lingkungan yang tidak aman di masa-masa pembentukan persepsi akan dunia.
Keping demi keping keberanian yang saya temukan itu membuat saya mampu menetapkan eksperimen-eksperimen kecil yang berfokus pada setoran upaya yang konsisten alih-alih pada resolusi dengan target besar. Konsistensi di tengah rasa malas, rasa takut, dan rasa bosan menjadi lebih dapat ditanggung berkat suara internal yang lembut tadi. Konsistensi membuat rasa percaya pada diri bertambah besar, dan begitulah siklusnya kembali berulang. Pergeseran pola menjadi sesuatu yang mungkin digapai.
Sejauh ini, perjalanan melambat dalam membangun keluarga inti mengajarkan bahwa ada orang terdekat yang mungkin sudah terlalu lama kita singkirkan dari prioritas kebaikan kita: diri kita sendiri. Berbuat baik pada diri sendiri adalah menciptakan lingkungan yang aman bagi kita untuk mengenali sebanyak mungkin sisi diri, menjemput sisi gelap ke dalam terang sehingga tersingkap nyala yang sejak semula dibekalkan. Berbuat baik pada diri sendiri adalah dengan penuh kelembutan menuangkan nyala itu ke dalam bentuk-bentuk yang kokoh dan berguna.
