: Menyoal Dilantiknya Mas Sabrang
Tiga hari lalu, tepatnya tanggal 18 Januari 2026, ada satu berita yang sangat mengejutkan buat saya. Mas Sabrang (atau juga dikenal luas sebagai Noe Letto) dilantik sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) bersama sebelas orang lainnya. Saya khawatir, kecewa, takut, dan bertanya-tanya mengapa. Segera saja pelantikan ini memicu pro dan kontra dan keributan di antara keduanya — setidaknya di jagad X.
Yang pro mungkin melihatnya sebagai: ini waktunya Mas Sabrang tidak lagi hanya bermain di wilayah gagasan politik, tapi juga wani tandang dengan seluruh risiko mengotori tangan. Ini saatnya Mas Sabrang mengkombinasikan kepintarannya dengan akses sumber daya yang memadai untuk menciptakan manfaat bagi jauh lebih banyak orang dalam dosis yang jauh lebih signifikan. Ini momentum bagi Mas Sabrang — sebagaimana namanya — untuk menyeberangi zaman dengan senjata yang sepadan. Ini adalah harapan di tengah kengerian hari-hari yang makin gelap di depan.
Tapi kita semua tahu kehidupan berpolitik tak pernah sepolos itu, apalagi di Indonesia. Bukan hanya kotor, saat ini bahkan banyak aktor politik tanpa malu-malu menunjukkan kekotoran itu. Pernyataan dan langkah-langkah bodoh sekaligus jahat dipertontonkan hampir setiap hari. Di dalam sistem pemerintah se-ngaco ini, masuknya ‘orang-orang baik’ dan ‘orang-orang pintar’ rasanya tidak cukup untuk menciptakan perubahan seperti yang ada di angan-angan.
Mau Ngapain?
Konon, DPN merupakan lembaga nonstruktural di bawah Presiden yang tugasnya memberi pertimbangan dan perumusan solusi kebijakan dalam rangka penetapan kebijakan di bidang pertahanan nasional yang bersifat strategis, mencakup kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.
Berdasar keterangan Rico Ricardo Sirait sebagaimana dimuat di Kompas.com, tugas yang melekat pada Mas Sabrang sebagai tenaga ahli adalah memberi masukan, kajian, dan rekomendasi kepada DPN yang berdasar pada pemikiran strategis lintas disiplin, meliputi perspektif sosial, kebudayaan, dan komunikasi strategis.
Salah satu hal yang menjadi dasar bagi yang kontra terhadap peristiwa pelantikan ini — termasuk saya — adalah soal kompetensi. Banyaknya keraguan atas kompetensi Mas Sabrang ini sangat bisa dipahami, sebab identitas utama yang tersemat padanya secara luas adalah sebagai seorang musisi, vokalis band Letto.
Identitas besarnya yang lain adalah sebagai anak dari Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) — tokoh penting yang dengan pendekatan sedemikian rupa berhasil memandu Suharto untuk turun tanpa ledakan bom yang telah dipasang di enam belas titik di sekitar Istana, tanpa menjadi musuh setelahnya. Dengan peran sekrusial itu, Cak Nun tak pernah tergiur jabatan.
Identitas pertama mudah disimpulkan sebagai tidak nyambung-nya keahlian, identitas kedua menguatkan dugaan bahwa ini hanyalah perkara bagi-bagi jabatan. Dalam narasi yang lain, Mas Sabrang dinilai mengkhianati sikap teguh sang ayah.
Atas reaksi-reaksi ini, ada beberapa pembelaan yang muncul. Tapi kan ada identitas-identitas lain — sebagai pemikir, pembicara di forum-forum Maiyah maupun di kampus-kampus, praktisi di dunia pendidikan dan pemanfaatan akal imitasi (artificial intelligence), serta lulusan Matematika dan Fisika University of Alberta, Kanada.
Saya mengenal Mas Sabrang secara pribadi dan, ya, saya sangat setuju bahwa Mas Sabrang sangat pintar dan punya sistem untuk mengumpulkan dan mengorganisasi informasi-informasi dari berbagai bidang yang menggelitik keingintahuannya, membangun jaringan pengetahuan, dan membagi-bagikannya kepada siapapun yang menghendakinya.
Tapi menyoal kompetensi tidak cukup dijawab dengan level kepintaran yang berdiri sendiri. Ada soal apakah pintarnya sesuai dengan yang diperlukan oleh jabatan, dan juga apakah ada yang lebih sesuai keahliannya daripada Mas Sabrang dalam konteks itu.
“Mobil terbaik tidak lahir dari kumpulan sparepart terbaik jika relasi antarbagiannya tidak cocok,” ujar Mas Sabrang di suatu forum Kenduri Cinta.
Oleh karena itu, keraguan yang muncul ke permukaan tentang kompetensi Mas Sabrang adalah sesuatu yang sangat wajar.
Dan lagi, keraguan, kekhawatiran, dan kekecewaan ini — setidaknya buat saya — bukan terutama tentang kompetensi, sih.
Eling lan Waspada
Ini terutama soal risiko yang sangat besar di depan mata.
Apakah dengan berada di dalam, Mas Sabrang masih punya kepantasan untuk menyampaikan pikiran-pikiran kritis dan merdeka terhadap pemerintah dan kinerjanya? Apakah masih ada ruang dan kesempatan untuk melanjutkan menemani kami-kami penghuni pinggiran Indonesia Raya?
Apakah nilai-nilai Maiyah dan semua yang diajarkan selama puluhan tahun masih relevan untuk dijadikan pegangan, atau akan hancur begitu saja? Apakah harapan bahwa martabat masih mungkin hidup dan bahkan bertumbuh di tengah krisis iklim yang terjadi secara simultan di berbagai ranah ini masih bisa menyala?
Sebagaimana yang pernah disampaikan Mas Sabrang, pesan nenek moyang untuk eling lan waspada adalah pengingat yang sangat penting dalam kita berjalan. Kita mesti eling (ingat) terus-menerus tujuan yang hendak kita capai — jangka pendek, menengah, dan panjang. Di sepanjang perjalanannya, di setiap langkahnya, kita mesti waspada agar tetap selamat.
Maka seluruh kontra yang muncul dari peristiwa ini menurut saya justru bagus, sebagai bentuk eling lan waspada. Juga sebuah indikator bahwa kita, sebagaimana yang dipesankan oleh Maiyah sejak jauh-jauh hari, tidak mengkultuskan siapapun.
Pembelaan-pembelaan yang setengah-setengah, yang mendasarkan pada kesaksian pribadi tentang karakter dan kapasitas Mas Sabrang, justru kontraproduktif. Pertama karena pembelaan itu gagal menjawab kegelisahan.
Soal mengapa Mas Sabrang mendapat reaksi paling keras di antara dua belas tenaga ahli yang dilantik, misalnya, juga sangat jelas mengapanya. Selama ini Mas Sabrang dan Maiyah mengajak kita semua berpikir mendasar dan meluas tentang segala macam hal, termasuk tentang negara dan pemerintah dan kesembronoannya.
Tapi jika mengasumsikan bahwa yang terjadi adalah Mas Sabrang telah melakukan proses hitung-hitungan dengan kewaspadaan tingkat tinggi, tidak menggeser tujuan jangka panjang yang bermartabat demi kenikmatan akses dan sumber daya di jangka pendek, sedemikian rupa sehingga jabatan ini menjadi langkah paling optimal untuk menghadapi sesuatu yang saya tidak punya informasinya, maka kegelisahan ini bergeser menjadi: atas urgensi sebesar apa?
“Jangan ke hutan dengan membawa gergaji tumpul,” Mas Sabrang pernah berpesan. Bisa jadi — meskipun tidak bisa dipastikan — Mas Sabrang berangkat dengan gergaji yang cukup tajam untuk tetap merdeka meskipun berada di dalam sana.
Jika ini yang terjadi, saya berdoa ada kekuatan luar biasa yang turut menyertai kewaspadaan setiap langkahnya dan menjaga kompas moralnya dari tarikan-tarikan hutan kekuasaan.
