
Dalam Subtract, Leidy Klotz berargumen bahwa sebagian persoalan sebenarnya bisa selesai dengan lebih efisien dengan cara mengurangi alih-alih menambahkan, tapi manusia punya kecenderungan sistematis untuk luput melihat opsi mengurangi itu. Dalam resolusi tahunan, misalnya, kita cenderung menambah daftar hal-hal yang akan lebih banyak dilakukan alih-alih meninggalkan atau mengurangi aktivitas-aktivitas yang tidak lagi kita perlukan.
Kita menambah kesibukan supaya menjadi lebih produktif, padahal kadang-kadang mengosongkan jadwal justru menunjang produktivitas kita. Kita menambahkan elemen pada tata ruang untuk memungkinkan semua mendapat akses, bukannya menghilangkan elemen yang melahirkan ketidakberpihakan. Kita menambahkan fitur dan furnitur alih-alih merenungkan apa yang bisa disingkirkan untuk menghilangkan masalah yang timbul.
Kecenderungan ini berakar pada naluri untuk tumbuh, di mana tumbuh diterjemahkan secara biologis, budaya, dan ekonomi selalu sebagai ‘mengumpulkan lebih banyak’. Dorongan ini begitu kuat sehingga kita tidak menyadari bahwa sejak semula selalu ada pilihan untuk mengurangi atau memangkas sebagai metode untuk tumbuh. Klotz mengutip bagaimana Pablo Picasso mendefinisikan seni: the elimination of the unnecessary.
Akselerasi teknologi yang luar biasa ini membuka peluang lebih besar bagi kita untuk secara sadar melakukan subtracting dalam hidup. Kita bisa mendelegasikan makin banyak tugas kepada asisten murah yang makin pintar bernama AI, termasuk untuk tugas rumit, melelahkan, dan menjemukan bernama membaca dan menulis.
Alih-alih menekuri satu demi satu huruf di buku, mencari makna kata dan istilah baru, meng-highlight bagian-bagian pentingnya, memeras gagasan-gagasannya dalam buku catatan yang berantakan, dan merenungkan kedalaman maknanya, kini kita bisa menyuruh AI berbasis LLM untuk membacakan buku yang kita perlukan dan menyuruhnya membuat catatan dalam bentuk yang kita mau. Sangat meringkas waktu dan energi, sehingga kita bisa mengalokasikan sumber daya itu ke tugas lain.
Begitu pula dengan tugas menulis. Kita punya peluang untuk mengeliminasi jam-jam panjang berisi kegiatan memahami topik, mengumpulkan informasi dari banyak sumber, menyusun kerangka, mencari kata yang tepat, mulai menulis dan mengabaikan distraksi yang sering muncul tanpa aba-aba, muak ketika membaca ulang draft pertama, merombak ulang atau merevisi sebagian isinya, atau justru mengabaikannya sampai beberapa tahun kemudian. Masukkan perintah yang tepat, lalu dalam beberapa detik tulisan sudah tersaji. Ada bagian yang tidak pas? Minta ia mengeditnya lagi dan lagi.
Pertanyaannya: apakah memang tugas membaca dan menulis layak kita percayakan padanya? Apakah ini strategi subtracting yang tepat?
Yang Menyala Ketika Kita Membaca dan Menulis
Artikel menarik di sciencealert.com ini mendeskripsikan proses spesifik yang terjadi di area-area dalam otak manusia ketika sedang membaca. Sabrina Turker, seorang cognitive neuroscientist, melakukan meta-analysis atas 163 eksperimen yang melibatkan pemindaian otak dari 3.031 orang dewasa.
Pemindaian dilakukan pada berbagai aktivitas membaca. Ada membaca teks utuh, kalimat, kata, bahkan kata-kata tak bermakna (pseudoword) dalam berbagai alphabetic language, meliputi Bahasa Jerman, Italia, Spanyol, dan Inggris. Pemindaian dengan fMRI dan PET ini juga dilakukan pada aktivitas membaca nyaring maupun membaca dalam hati.
Selama ini, otak bagian kiri telah dikenal sebagai pusat pemrosesan bahasa, sehingga tak mengherankan jika segala macam aktivitas membaca menyalakan sisi otak ini. Studi oleh Turker ini menguak bahwa ternyata otak kecil (cerebellum) terlibat aktif dalam pemrosesan bunyi dan penciptaan makna — yang merupakan komponen krusial dari bahasa.
Cerebellum bagian kanan aktif dalam semua jenis aktivitas membaca, tapi tampak paling aktif dalam aktivitas membaca nyaring. Ini menunjukkan bahwa bagian otak kecil ini memegang peran penting dalam kemampuan kita menerjemahkan kata-kata tertulis ke bentuk ujaran. Sementara itu, cerebellum bagian kiri tampak menyala paling terang dalam aktivitas penciptaan makna di sepanjang proses membaca.
Proses membaca nyaring menyalakan area auditori dan motorik di otak, sementara membaca dalam hati bersandar pada area yang mengkoordinasi kebutuhan kognitif yang kompleks. Bahkan membaca kata-kata tak bermakna (pseudoword) pun teramati mengaktifkan area-area tertentu di otak kita.
Studi Turker ini menunjukkan bahwa aktivitas membaca — yang baru mulai kita lakukan kurang dari 6.000 tahun lalu — ternyata sangat penting bukan hanya dari hasil berupa pengetahuan baru, melainkan dalam keseluruhan prosesnya yang tampak boros waktu. Ketika membaca, kita sedang menyalakan bagian-bagian otak yang berlainan — dengan demikian, melatihnya.
Jika membaca adalah makan sekaligus berolahraga secara simultan di wilayah mental, menulis adalah metode untuk menguji proses membaca. Kita rentan terkelabui oleh klaim pemahaman yang kita bangun sendiri, dan menulis menghancurkan kesalahpahaman itu.
Tentu ada fungsi-fungsi lain yang melekat pada aktivitas menulis, seperti menyimpan memori, menuangkan yang bersembunyi di kedalaman, memaknai sisi-sisi pengalaman, dan untuk terhubung dengan orang lain. Tapi menulis sebagai metode untuk mengevaluasi proses membaca adalah sebuah fungsi yang menjadikan aktivitas membaca dan menulis satu lingkaran penuh yang saling mempengaruhi.
Kualitas aktivitas membaca mempengaruhi kualitas proses menulis, sebab kekayaan nutrisi dari buku-buku yang dibaca akan terserap dalam derajat tertentu pada caranya berpikir dan caranya merumuskan pikiran-pikiran itu dalam bentuk tulisan. Kemudian, kualitas menuliskan isi pikiran ini akan mempengaruhi apa yang dibaca kemudian dan metode seperti apa yang akan diterapkan untuk mendapat pengalaman dan pemahaman yang diharapkan.
Kesulitan yang Bermakna
David Epstein dalam artikelnya di Substack ini menyebut konsep yang dikenal dalam cognitive psychology, yaitu desirable difficulty — yaitu sebuah prinsip belajar di mana menambahkan tantangan yang spesifik membuat otak bekerja lebih keras. Di awal, prosesnya memang berantakan, lambat, dan membuat frustrasi, tapi dalam jangka panjang terjadi peningkatan retensi memori dan pemahaman.
Dalam artikel itu Epstein membahas sebuah studi dari MIT berjudul ‘Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing Task’. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan yang sangat relevan hari-hari ini, yaitu: apakah penggunaan AI dalam menulis esai menyebabkan brainrot?
Dalam studi ini, murid-murid dibagi menjadi 3 grup dan masing-masing diberi tugas menulis 3 esai dalam sesi yang berbeda. Grup brain-only hanya bisa menyandarkan proses penulisan esainya pada pikiran mereka sendiri. Grup Google-search diberi akses melakukan pencarian di Google dengan fitur AI yang dinonaktifkan. Grup ChatGPT diberi akses penuh untuk menggunakan AI dalam proses penulisan esai mereka.
Selama proses menulis, dilakukan perekaman aktivitas otak pada masing-masing murid. Setelah esai selesai disusun, dilakukan wawancara kepada masing-masing murid. Dalam wawancara itu mereka diminta mengingat informasi di dalam esai mereka dan menyampaikannya. Setelah itu, tiap esai dinilai oleh juri yang berasal dari guru dan AI.
Hasilnya sebagai berikut: grup ChatGPT menghasilkan esai dengan kualitas dan nilai yang lebih buruk serta sangat mirip satu sama lain dibandingkan kedua grup lain. Murid-murid dalam grup ini juga tidak mampu menjelaskan isi esainya. Untuk hasil pengukuran aktivitas otak, grup brain-only menunjukkan konektivitas antar-area otak yang sangat tinggi, diikuti oleh grup Google-search lalu grup ChatGPT.
Studi tidak selesai di sini. Pada ronde berikutnya, grup ChatGPT diminta menulis tanpa akses ke ChatGPT dan Google, sementara grup brain-only diminta menulis dengan ditambah akses pada ChatGPT. Hasilnya: grup brain-only menghasilkan esai baru dengan kualitas lebih bagus dan lebih terstruktur, serta menunjukkan konektivitas antar-area otak yang lebih tinggi. Sementara itu grup ChatGPT menghasilkan esai baru dalam kualitas yang lebih buruk dengan frasa yang lebih terbatas.
Bergantung banyak pada AI memang mampu menyelesaikan tugas menulis esai, tapi esai tidak terintegrasi dengan memori. Penulis paper juga menyebut cognitive debt. Bersandar pada AI dalam tugas menulis esai menghindarkan diri dari effort, tapi ada harga sangat tinggi yang harus dibayar di kemudian hari: kemampuan berpikir kritis yang melemah, retensi memori yang memburuk, dan keterlibatan dengan gagasan yang dangkal. David Epstein menyimpulkannya dalam satu kalimat ringkas: ‘brain first, ChatGPT only after’.
Subtracting pada Area yang Mana?
Meskipun AI menawarkan efisiensi tingkat tinggi pada tugas manusia termasuk membaca dan menulis, bukan berarti menyerahkan tugas itu kepadanya adalah strategi yang tepat. Ada kekayaan nutrisi dan penguatan otot-otot mental yang berpotensi hilang jika kita menghindari tugas membaca-menulis dan menyerahkannya pada AI.
Oleh karena itu dalam konteks membaca dan menulis, strategi subtracting yang layak dilakukan bukanlah mengurangi aktivitas ini dan melimpahkannya ke AI, melainkan pada pembatasan (atau pengurangan) area kerja AI. AI tidak boleh menjadi pengganti proses berpikir, melainkan hanya sebagai asisten teknis yang beroperasi di hilir aktivitas kreatif kita. []
Subtraction is the act of getting to less, but it is not the same as doing less. In fact, getting to less often means doing, or at least thinking, more.
Leidy Klotz, Subtract: The Untapped Science of Less
