Lebih dari satu tahun lalu, Kiyana memprotes lagu Balonku. Umurnya tujuh ketika itu. “Masalahnya kan balonnya itu meletus lho, kenapa yang dia lakukan habis itu malah memegang balonnya erat-erat? Kan balon meletus bukan karena nggak dipegang erat?”
Dua hari lalu dia tanyakan kembali hal itu, “Kenapa orang bisa sesalah itu ya, si pembuat lagu Balonku itu?”
Karena alam pikiran pada dirinya hari ini pasti berbeda dengan alam pikirannya setahun lalu, diperlukan respons berbeda. Sedikit lebih panjang dan sedikit lebih tidak hitam-putih belaka. Bahwa perkara benar atau salah tidaklah demikian sederhana, serta kita bisa selalu menghendaki pelajaran dari setiap yang kita temui di perjalanan.
Sebelum membahas soal balon, ada peringatan yang kami sepakati di awal. Bagaimanapun, yang akan terlontar nanti adalah opini pribadi, sebuah upaya untuk menggali mata air dari sebuah ceruk bernama lagu anak-anak. Dengan demikian, tentu tidak akan mencerminkan intensi sang pencipta lagu. Bisa mendekati, tapi juga bisa jauh sekali.
Mengikuti asumsi bahwa bahwa kalimat ‘Meletus balon hijau’ dan ‘Kupegang erat-erat’ sebagai hubungan yang salah, kita bisa belajar untuk waspada. Ada jebakan bagi manusia untuk membuat solusi yang tidak nyambung dengan masalah. Penyebabnya macam-macam: informasi yang kita kantongi tidak lengkap, identitas diri yang sukar digoyang sehingga meskipun informasi lumayan lengkap kita tetap memilih solusi yang mengenyangkan narasi kita terhadap identitas tersebut, distraksi-distraksi yang kita lahap dengan senang hati, juga yang sulit ditawar: bahwa otak manusia tidak dibangun untuk rasionalitas.
Episode panjang yang sangat sulit pada perjalanan evolusi manusia menegaskan bahwa rasionalitas tidak berguna amat untuk bertahan hidup. Yang utama adalah berpikir cepat, sebab nyawa taruhannya. Dan berkat itulah kita, umat manusia, masih ada hingga hari ini. Iya sih, kita memang rentan menjadi dungu.
Mungkin karena itulah informasi dari Langit menagih manusia untuk banyak-banyak berpikir. Pengingat yang berulang sangat mungkin diberikan untuk melawan kecenderungan.
Tapi jangan lupa bahwa ada kemungkinan lain yang bisa kita jelajahi. Hubungan kedua kalimat tadi bisa menjadi benar, ketika ditaruh pada rak hal-hal dalam hidup yang ada di luar lingkar kendali manusia sama sekali. Bahwa kita tahu semua akan meletus pada waktunya. Sebelum waktu itu datang, tindakan paling bijak yang bisa kita lakukan adalah memegangnya erat-erat — menyadari dan mensyukuri keberadaan mereka lagi dan lagi, dalam tiap satuan waktu yang semakin rapat.
