Generasi Milenial dan mungkin Generasi X akhir adalah generasi pertama yang tidak hanya terhimpit oleh tanggung jawab menghidupi orang tua sembari mati-matian membiayai anak-anak mereka, tapi juga terhimpit oleh tugas mengasuh anak-anak dan keruwetan mengasuh kembali diri mereka sendiri. Mereka menghadapi hari-hari yang liar menemani anak-anak yang mereka lahirkan sekaligus anak-anak yang ketakutan dan terabaikan selama puluhan tahun di dalam diri mereka. Status generasi sandwich yang mereka sandang bukan hanya di ranah ekonomi, melainkan juga di kedalaman dunia mental.
Berkat perluasan cabang-cabang keilmuan yang berusaha memahami mekanika manusia, studi panjang serta penemuan-penemuannya, dan kekuatan media sosial dalam menyebarkannya dalam berbagai ‘tingkat’ bahasa, kita punya alat yang lebih canggih untuk memahami anak-anak dan diri kita sendiri dalam cara-cara yang baru. Tapi pengetahuan baru menuntut perilaku yang baru, dan perubahan selalu terasa jauh dari menyenangkan.
Kegelisahan kita terhadap kelaziman praktik pengasuhan dari generasi-generasi sebelumnya seperti mendapat afirmasi dari penemuan-penemuan baru itu. Kita mulai melihat anak-anak dalam spektrum yang jauh lebih luas daripada orang tua melihat diri kita. Kita melakukan banyak hal untuk memastikan berat dan tinggi badan mereka sesuai, waktu tidur mencukupi, kebutuhan stimulasi motorik dan sensoriknya terpenuhi, begitu pula dengan asupan gizi dan mikronutrisi.
Di hari-hari yang nyaris tanpa jeda istirahat itu, kita juga mesti menghadapi rasa bosan mereka tanpa terlalu cepat menjadikan layar gawai sebagai peredam. Kita menahan diri untuk tidak meledak meskipun jalur saraf kita terlanjur terbangun untuk bereaksi terhadap protes dan kebisingan mereka dengan teriakan dan omelan. Kita membantu mereka meregulasi emosi padahal kita juga siswa baru dalam perkara ini. Kita ingin anak-anak kita tumbuh dengan utuh, dan ternyata kita harus membayar sangat mahal untuk itu.
Menjadi orang tua, ada titik di mana saya merasa telah melakukan aksi heroik —memutus rantai yang telah lama membelenggu kita selama entah berapa abad. Ketika saya menukar karier dan gaji yang lumayan demi pekerjaan tak berupah ini, ada yang bergetar di dalam sana. Bahwa saya melakukannya demi sesuatu yang jauh lebih besar. Saya —dan kita semua yang mengambil rute ini— sedang mengemban misi penting yang saat ini mungkin tak terlihat, tapi sangat layak dilakukan karena di sinilah terletak makna keberadaan kita di dunia: menjadi leluhur yang cukup baik untuk generasi berikutnya. Dengan artikulasi yang jauh lebih presisi tentang fenomena-fenomena pengasuhan, mengaplikasikannya adalah tugas suci generasi kita.
Merasa melakukan hal yang benar selalu terasa melegakan, sampai pertanyaan-pertanyaan muncul ke permukaan dan menghentikan lajunya. Ketika saya mengingat-ingat, ibu saya pun juga melakukan hal yang ‘durhaka’ terhadap cara pengasuhan yang dilakukan generasi orang tuanya. Meskipun tanpa pengetahuan tentang adanya transgenerational trauma, secara intuitif ibu saya berusaha menghindari cara-cara pengasuhan yang ketika kecil membuatnya terluka. Kadang ia berhasil, kadang juga tidak.
Ini membuat saya berhenti sejenak. Jangan-jangan generasi-generasi sebelum kita juga melakukan tugas perubahan yang sama besarnya atau bahkan lebih besar, hanya dalam bentuk-bentuk yang berbeda? Apakah upaya perubahan yang kita lakukan akan melahirkan dampak yang lebih besar dibandingkan skenario melanjutkan warisan mereka?
Tapi jika perubahan yang kita upayakan ternyata tidak lebih besar, tidak lebih istimewa secara kualitas, dan tidak lebih berguna daripada perubahan yang dilakukan generasi sebelumnya, di mana letak makna keberadaan kita sebagai sebuah generasi?
Rantai Generasi
Sejak hari pertama, manusia mengalami siklus kematian dan kelahiran. Orang-orang tua meninggal dunia meninggalkan warisan nilai dan benda-benda, dan bayi-bayi muncul lalu tumbuh besar membawa kebaruan. Menurut Karl Mannheim, pergi dan datangnya manusia ini menyebabkan masyarakat terus-menerus mengalami perubahan. Kelompok-kelompok manusia yang berada dalam koordinat sejarah tertentu dan dihantam oleh krisis yang sama akan berbagi nasib sejarah.
Mannheim berargumen bahwa pengalaman yang terjadi pada masa remaja hingga awal dewasa —yaitu usia 17 hingga 25 tahun— adalah pengalaman yang paling membentuk natural view of the world seseorang. Pandangan ini menjadi fondasi untuk menakar, menilai, dan menyaring pengalaman-pengalaman di kemudian hari. Generasi bukanlah tentang sekumpulan orang yang berulang tahun di dekade yang sama, melainkan sekumpulan kesadaran yang ditempa oleh api sejarah yang sama di usia formatif mereka.
Oleh karena itu, pembagian generasi yang saat ini kita kenal adalah sebuah bentuk oversimplifikasi karena diklasifikasikan hanya berdasar rentang tahun lahir. Hanya beberapa bagian dari seluruh manusia yang lahir di tahun 1883 hingga 1900 dihantam oleh krisis Perang Dunia I sedemikian rupa sampai-sampai tidak lagi percaya pada nilai-nilai lama, misalnya, sehingga mengelompokkan seluruhnya dalam The Lost Generation sangat tidak tepat.
Tapi menolaknya sama sekali juga menghilangkan gambaran yang bisa kita gunakan sampai titik tertentu. Pada mulanya adalah Gertrude Stein, seorang sastrawan berpengaruh yang berbasis di Paris. Ia menyematkan nama itu untuk mengartikulasikan adanya luka kolektif akibat Perang Dunia I. Para pemuda kembali dari neraka peperangan dengan jiwa yang kosong, tanpa kompas moral, terombang-ambing dalam kebingungan eksistensial akibat patahan sejarah yang brutal. Kelak, penggunaan nama ini meluas berkat novel Ernest Hemingway, The Sun Also Rises.
Generasi berikutnya, The Greatest Generation, mendapatkan namanya baru pada 1998 dari seorang jurnalis bernama Tom Brokaw. Dinamakan demikian sebab mereka yang lahir dalam rentang 1901 hingga 1927 menghadapi dua krisis mengerikan dan berhasil keluar dari sana hidup-hidup —Depresi Besar dan Perang Dunia II. Begitu perang berakhir, mereka pulang dan membangun peradaban modern.
Keberhasilan mereka melalui dua patahan sejarah yang sangat mengerikan ini menciptakan standar baru pada apa yang bisa dilakukan pemuda. Ketika generasi berikutnya muncul, tumbuh, dan cenderung berhati-hati, mereka kecewa dan memandang generasi baru ini sebagai sebuah kegagalan: ‘… generasi muda hari ini adalah nyala api yang diam dan kecil. Ia tidak menerbitkan manifesto, tidak berpidato, dan tidak membawa poster’. Demikianlah The Silent Generation didefinisikan.
Apakah para pemuda The Silent Generation benar-benar tidak ‘menyala’? Tentu tidak; mereka hanya berada di krisis yang berbeda. Mereka tidak berangkat ke medan perang, memang, tapi menghadapi tekanan yang lain yaitu tuduhan sebagai simpatisan komunis jika tampak terlalu kritis melawan pemerintah. Che Guevara, Martin Luther King Jr., Gloria Steinem, dan Bob Dylan adalah sedikit bagian dari generasi ini —yang ternyata menerbitkan manifesto dalam berbagai wajah.
Ini mengingatkan saya pada tulisan saya tentang bagaimana kita, orang tua, punya kecenderungan untuk melihat anak kita secara relatif terhadap saudara-saudaranya alih-alih sebagai dirinya sendiri. Jika dilakukan terus-menerus dan tidak disadari sebagai sebuah penyederhanaan yang keterlaluan, ini bisa menghalangi kita dari menyaksikan anak kita sebagai pribadi yang utuh dan mengandung banyak spektrum.
Pola yang sama sepertinya juga terjadi pada bagaimana kita melihat diri sebagai generasi. Kita cenderung menakar suatu generasi hanya secara relatif terhadap generasi lain. Ini diperparah dengan bias konfirmasi, di mana kita hanya mengiyakan data-data yang mengkonfirmasi kesimpulan yang sudah kita kantongi di awal. Ini membuat kita membentuk imajinasi bahwa ada yang namanya perlombaan antargenerasi dan terlalu yakin bahwa generasi kitalah pemenangnya.
Sebuah studi dari UC Santa Barbara pada 2019 menunjukkan bahwa kita punya kecenderungan kuat untuk berpikir bahwa generasi berikutnya lebih buruk daripada kita. Keyakinan ini telah kita huni setidaknya selama dua ribu tahun. Ia telah berkali-kali terbukti salah, tapi kita enggan berpindah.
Simpulan yang menarik sekaligus (oh, mungkin kata yang tepat adalah: sebab) paling menampar adalah temuan bahwa semakin pintar seseorang, semakin besar kecenderungannya untuk salah sangka bahwa generasi hari ini lebih bodoh. Semakin bagus kemampuan dan kebiasaan membaca, semakin ia mengira bahwa anak-anak hari ini tak lagi suka membaca.
Akar masalahnya bukan pada moral, melainkan pada bagaimana otak kita bekerja. Ingatan bukanlah album foto yang kita buka kembali. Ingatan menjadi sesuatu yang baru tiap kali kita panggil kembali. Kita cenderung memproyeksikan kemampuan kita hari ini pada diri kita di masa lalu, lalu membandingkannya dengan anak-anak seumuran di hari ini. Wow.
Pohon dan Percabangannya
Sekitar 500 tahun lalu, Leonardo da Vinci mengalami perjumpaan dengan pola yang bekerja pada struktur percabangan pohon. Jumlah ketebalan seluruh cabang-cabang pohon pada ketinggian tertentu identik dengan ketebalan batang utama yang ada di bawahnya. Ketika dituangkan ke kanvas, kebenaran proporsi ini melahirkan keindahan visual yang alami. Oleh karena itu, aturan Leonardo ini menjadi rujukan bagi para seniman.
Tapi ternyata ini bukan hanya tentang keindahan. Pada tahun 1964 ahli botani Kichiro Shinozaki dan timnya di Jepang menerbitkan studi yang membuktikan aturan Leonardo sekaligus menemukan mengapa di baliknya. Pola percabangan pohon yang demikian memungkinkan distribusi daun yang memaksimalkan area yang terkena cahaya matahari (area fotosintesis) dengan mempertahankan jalur pipa air dari akar dapat menjangkau hingga ke ujung terjauh daun.
Kemudian pada akhir ’90-an, ahli fisika Geoffrey West bersama ahli biologi James Brown dan Brian Enquist menerbitkan studi Metabolic Scaling Theory. Pola percabangan pohon yang semakin mengecil adalah desain logis dari alam untuk memecahkan masalah yang sangat rumit, yaitu bagaimana luas permukaan daun bisa maksimal menangkap cahaya matahari dengan menggunakan sesedikit mungkin energi untuk memompa nutrisi.
Tahun 2017, Christophe Eloy bersama tim peneliti membangun kecerdasan buatan untuk mensimulasikan rancangan pohon yang memenuhi dua syarat: efisien dalam menangkap cahaya matahari, dan tidak patah menghadapi serangan badai. Hasilnya adalah struktur pohon dengan proporsi seperti yang ditemukan oleh Leonardo da Vinci. Percabangan pohon yang demikian memungkinkan terjadinya sudut dan jarak antar-ranting yang ideal supaya dahan menyebar membelah angin sekaligus memastikan serapan cahaya matahari maksimal.
Ranting Tidak Berlomba
Setiap generasi yang ada lalu pergi adalah ranting-ranting dari satu pohon besar kehidupan. Kita tidak sedang berlomba, baik dengan generasi yang telah pergi maupun yang mulai muncul. Kita dihajar oleh badai dan ketersediaan nutrisi yang berbeda-beda, sehingga tugas perubahan yang berbeda tidak bisa disimpulkan sebagai lebih atau kurang dari.
Sebagai generasi, kita sama-sama mengupayakan menjadi cukup baik —sebuah ukuran yang hanya valid untuk dipakai hari ini. Kemarin, ukuran ini belum terjelajahi. Sementara besok, ini akan segera menjadi batas minimum atau bahkan tidak relevan lagi. Kita melakukan kesalahan di sepanjang jalan, kecil dan besar. Mengidentifikasi kesalahan-kesalahan generasi sebelumnya sangat berguna untuk membangun hari ini, hanya jika dilakukan secara adil tanpa memisahkannya dari nasib sejarah yang mereka hadapi.
Kita adalah ranting-ranting pohon yang berbelok-belok dari arah dahan sebelumnya bukan karena tidak menghargainya. Makna keberadaan suatu generasi bukan terletak pada seberapa besar perubahan dibandingkan generasi-generasi lainnya, sebab ada bug besar pada otak kita saat memanggil ingatan. Mungkin, pertanyaan yang bisa kita gunakan untuk menuntut diri sendiri adalah: atas belokan-belokan yang kita lakukan, seberapa terukur kita melakukannya demi bersetia menangkap sebanyak-banyaknya cahaya?
It’s by design and consequentially
Vampire Weekend, Gen-X Cops
Each generation makes its own apology

Leave a Reply