
Mengapa Tuhan menunggu hingga 13,8 miliar tahun lamanya sejak alam semesta tergelar untuk menciptakan manusia? Dalam kalender kosmik — sebuah teknik untuk memvisualisasikan sejarah alam semesta dalam satu tahun kalender — jika Big Bang terjadi pada tengah malam tanggal 1 Januari, bumi dan tata surya baru mengada pada tanggal 1 September.
Pada tanggal 22 September, kehidupan pertama muncul di bumi, disusul dengan ‘terobosan’ fotosintesis pada tanggal 8 Oktober, pembentukan lapisan ozon pada 17 Desember, ekspansi tumbuhan ke daratan dan kemunculan serangga pada tanggal 18 Desember, lahirnya dinosaurus pada 25 Desember, munculnya mamalia pertama pada 26 Desember, lalu kepunahan dinosaurus pada 30 Desember.
Homo sapiens muncul di panggung jagat raya pada tanggal 31 Desember pukul 23:47:56. Tiga belas detik terakhir pada hari itu, roda ditemukan. Sedetik kemudian tulisan mulai digunakan, kemudian detik berikutnya piramida Mesir Kuno dibangun. Pada detik terakhir, Galileo mengamati benda-benda langit dengan teleskopnya, dan kurang dari satu detik berikutnya manusia mendarat di bulan.
Pertanyaan tadi bisa didekati dengan beberapa lensa.
Pertama, dengan lensa ateisme beserta seluruh spektrumnya. Karena Tuhan pasti atau sangat mungkin tidak ada, maka pertanyaan itu batal dengan sendirinya. Tidak ada pihak yang menunggu, tidak ada pihak yang menciptakan. Alam semesta berjalan dalam lintasan sebab-akibat yang berkelanjutan. Akibat dari sebab pertama menjadi sebab berikutnya. Seluruh kejadian hingga detik ini adalah konsekuensi dari kombinasi kejadian-kejadian sebelumnya.
Kedua, dengan lensa teisme. Umur alam semesta yang dikabarkan para ilmuwan itu tidak benar, sebab mengingkari kemahabesaran kuasa Tuhan dalam menciptakan sesuai kehendak-Nya. Tuhan tidak seperti manusia yang harus menanggung kutukan bernama menunggu. Kun fayakun. Semua yang dikehendaki terjadi tanpa butuh proses dan tidak memakan waktu. Setiap makhluk diciptakan satu demi satu secara langsung oleh-Nya dalam bentuk-bentuk yang sempurna, bukan hasil dari kebetulan-kebetulan acak di alam.
Masih dengan lensa yang sama, yaitu lensa teisme, ada kemungkinan jawaban lain yang sangat kontras dengan jawaban tadi. Tuhan tidak menunggu sebagaimana manusia menunggu, yaitu sebagai akibat dari keterikatan dengan hukum alam yang menentukan geometri lintasan waktu. Dia memang ‘menunggu’ — dalam arti meletakkan manusia dengan ukuran-ukurannya pada koordinat yang tertentu.
Tapi untuk apa?
Salah satunya barangkali untuk dibaca. Proses sangat panjang perjalanan alam semesta dibandingkan umur peradaban manusia adalah cermin dari transformasi terus-menerus yang terjadi di dalam diri manusia. Dengan adanya alam semesta yang bisa diamati, diukur, dan ditimbang, kita menjadi sedikit lebih akrab dan merasa ‘aman’ bersentuhan dengan fenomena serupa yang terjadi di dalam diri dan sedikit demi sedikit mencoba memahaminya.
Selain itu, alam semesta juga bisa dibaca sebagai preview atas kerinduan yang menghantui untuk menguak asal-usul yang sangat jauh di belakang tapi sekaligus sangat jauh di depan. Remah-remah petunjuk ditaburkan di seluruh area, dan kilaunya mengundang pemanfaatan akal yang dibekalkan secara terus-menerus. Dengan demikian, proses transformasi akal juga terus menggelinding.
Tapi apakah pertanyaan tadi adalah wujud kesombongan manusia yang merasa menjadi pusat seluruh penciptaan alam semesta? Mungkin saja, jika tidak dibenturkan dengan petunjuk penting lainnya berupa informasi bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk menghamba melalui ibadah dan menjadi khalifah. Pesannya jelas: manusia memang pusat, tapi puncak pencapaiannya bukanlah menguasai yang lain melainkan melayani segala sesuatu dengan sebaik mungkin.
Keajaiban yang Mana
Sangat mengejutkan bagaimana tulisan nama Allah pada tomat yang diiris membujur, di awan, di sisik ikan, dan di cangkang telur mampu menghebohkan kita, merasa mendapat keistimewaan berupa konfirmasi di depan mata bahwa kalimat Allah Maha Besar benar adanya. Sepertinya ada keyakinan yang mengakar namun tidak kita sadari di dalam cara berpikir kita bahwa besarnya kekuasaan Tuhan berbanding lurus dengan besarnya keajaiban yang dipertontonkan. Dan, ya, kita mendefinisikan keajaiban sebagai sesuatu yang aneh yang nyaris tak pernah terjadi. Semakin aneh, semakin ajaib.
Seolah-olah keajaiban tidak bekerja pada proses fotosintesis yang dalam satu siklusnya melalui penangkapan foton matahari oleh klorofil yang mungil, pemecahan molekul air oleh energi yang dikandung foton, aliran elektron dan proton yang menghasilkan baterai kimia, pengambilan dan pengikatan gas CO2 dari atmosfer, pengubahan molekul karbon dalam CO2 menjadi senyawa gula sederhana ditenagai dua baterai kimia tadi, penggabungan senyawa-senyawa gula sederhana menjadi glukosa yang menjadi sumber utama bergulirnya kehidupan, dan pemanfaatan sisa molekul untuk siklus berikutnya. Proses sangat rumit ini terjadi dalam hitungan detik, tidak terlihat dan tidak terdengar, tapi hasilnya menghidupi rantai makanan di seluruh penjuru selama jutaan tahun.
Seolah-olah bukan keajaiban ketika lembaran ozon yang sangat tipis punya mekanisme untuk menghalau pancaran sinar ultraviolet yang berbahaya bahkan mematikan dari matahari, yang tersusun oleh molekul gas beracun jika kita hirup tapi merupakan pelindung yang perkasa ketika berada di ketinggian yang tepat.
Seolah-olah langit biru yang menaungi kita tiap hari tidak ajaib jika tidak ada awan berbentuk nama Allah di sana, padahal warna biru itu bisa muncul karena adanya perkawinan antara ukuran panjang gelombang pada spektrum cahaya matahari, ukuran molekul gas di atmosfer bumi, dan batas sensitivitas mata kita dalam mempersepsikan warna.
Membaca alam semesta, meskipun ‘harus’ melalui proses memecah struktur menjadi bagian-bagian penyusunnya terlebih dahulu, justru menambah derajat ketakjuban kita pada kuasa Allah. Membaca memungkinkan kita menangkap kuasa-Nya bukan sebagai pertunjukan atraktif membubuhkan nama di dalam buah-buahan, melainkan lapisan-lapisan dimensi keindahan yang menyertai kemegahan mekanisme alam yang teratur dan presisi sekaligus bergerak dalam lintasan perubahan yang terjadi terus-menerus sebagaimana ditunjukkan oleh kalender kosmik.
Berjodohnya Akal dan Qalam
Ketika ayat-ayat tertentu dalam Alquran kemudian terbaca sebagai penjelasan atas mekanisme alam semesta yang selaras dengan penemuan sains modern, ada kecenderungan untuk mengalami ketakjuban dan menarasikannya sebagai: ‘Bahkan Allah sudah tahu dan sudah memberi tahu kita sejak 1.400 tahun lalu!’
Tentu saja pembacaan seperti ini sah-sah saja dan bisa berakibat baik, yaitu semakin kokohnya iman atau semakin eratnya ikatan. Tapi terbuka juga pembacaan yang lain, yang mungkin cukup kontras dengan pembacaan tadi.
Jika kita menggunakan lensa iman, maka Allah dan sifat-sifatnya sudah kita yakini sebagai kebenaran sejak titik keberangkatan. Ketika Yang Maha Mengetahui menyingkap sejumput informasi sebagai wahyu yang diturunkan pada Rasul-Nya untuk kita semua dan lebih dari seribu tahun kemudian manusia mampu menangkap maknanya melalui metode ilmiah, yang paling menakjubkan bukanlah kebenaran informasi itu sendiri.
Yang paling menakjubkan adalah betapa jauhnya perjalanan yang bisa dicapai akal manusia sampai-sampai bisa menyaksikan kebenaran ayat tekstual bukan dengan lensa iman. Akal yang dibekalkan pada kita dan terus-menerus bertransformasi adalah receiver yang berjodoh dengan ayat-ayat yang dituliskan-Nya di alam semesta — atau qalam. Transformasi akal menyeret kita ke transformasi pembacaan. Secara teknis tak ada remah-remah baru yang ditaburkan, tetapi pertumbuhan akal memungkinkan terkuaknya lebih banyak lapisan.
Tuhan menunggu 13,8 miliar tahun karena kemurahhatian-Nya menuliskan alam semesta yang berpotensi terbaca oleh akal manusia. Tuhan menunggu sebab Dia ingin menghadiahkan perpustakaan yang sangat kaya untuk kita telusuri rak demi raknya. Tuhan menunggu sebab Dia selalu menyediakan potensi pemenuhan sebelum memerintahkan: supaya kita membawa pulang kesaksian-kesaksian yang nyata. []

Leave a Reply