Belajar Cara Belajar dari Buku The Learning Game

Kalau saya bilang buku ini bagus dan penting dibaca, tentu ini patut dicurigai setidaknya karena dua hal. 

the learning game
The Learning Game

Pertama, sebagai orang tua dari anak pelaku homeschooling, ini jenis bacaan yang bukan hanya tidak asing tapi juga menghasilkan efek yang menenangkan karena sangat bisa dijadikan bahan ge-er telah memilih jalan yang ‘benar’ dengan tidak menyekolahkan anak. Padahal tentu saja ini keliru, sebab selalu tersedia banyak sekali kesempatan untuk gagal di sepanjang jalan, baik ketika memilih menyekolahkan anak maupun tidak. 

The Learning Game: Teaching Kids to Think for Themselves, Embrace Challenge, and Love Learning yang terbit pada 2023 ini diawali dengan satu subbab tentang tujuh pelajaran berbahaya yang diam-diam diajarkan sekolah sebagaimana dirumuskan John Taylor Gatto dalam bukunya, Dumbing Us Down. Orang tua homeschooler mana yang tidak mengenal Gatto? 

Ana Lorena Fabrega, penulis buku ini, memiliki pengalaman yang serupa dengan Gatto: memutuskan untuk mengakhiri karier mengajarnya yang cemerlang setelah menyimpulkan bahwa tak peduli apapun yang telah dilakukannya, rasa ingin tahu dan hasrat belajar murid-muridnya justru menurun dengan bertambah besarnya mereka. Ms. Fab, begitu dia biasa dipanggil oleh murid-muridnya, menemukan bahwa upayanya untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, memberikan pilihan seluas mungkin supaya proses belajar menjadi milik murid-murid, dan mendukung kelasnya untuk berani mempertanyakan segala sesuatu, ternyata tidak cukup untuk ‘melawan’ pengaruh sistem sekolah terhadap kecintaan belajar murid-murid.

Kedua, sebagai pembaca kebanyakan buku-buku nonfiksi, hampir seluruh gagasan yang dikutip di dalam buku ini sudah terlanjur saya terima dan saya masukkan ke dalam kotak ‘berkemungkinan besar mendekati kebenaran sampai terbukti sebaliknya’ sejak jauh-jauh hari. Misalnya saja gagasan Jean Piaget soal pentingnya cognitive disequilibrium bagi pertumbuhan manusia. Cognitive disequilibrium ini mengacu pada rasa bingung yang kita alami ketika mendapat informasi baru yang tidak sesuai dengan mental model yang sudah terbangun. Rasa bingung dalam dosis yang tepat merupakan bahan penting dalam mengembangkan keterampilan memecahkan masalah. Sayangnya, cognitive disequilibrium sangat sulit dialami oleh anak-anak di sekolah sebab materi-materi disajikan secara terisolasi. 

{We} find that confusion can be beneficial to learning if appropriately regulated because it can cause learners to process the material more deeply in order to resolve their confusion.

Sidney D’Mello

Gagasan lain yang dibahas dalam The Learning Game berasal dari Nassim Taleb, yaitu skin in the game dan antifragility. Skin in the game merupakan sebuah konsep di mana mereka yang membuat keputusan seharusnya adalah juga pihak penanggung risikonya. Kita seharusnya tidak hanya mendapat reward dari hasil pekerjaan kita, melainkan juga harus bertanggung jawab ketika hal-hal berjalan tidak sebagaimana mestinya.

Konsep ini digunakan oleh Ms. Fab untuk menekankan mengapa orang tua dan anak-anak seharusnya punya lebih banyak skin in the game dalam kegiatan belajarnya. Anak-anak butuh lebih banyak kesempatan untuk membuat keputusan dan berurusan dengan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh pilihan-pilihan mereka. Demikian pula orang tua yang perlu lebih banyak berperan dan bertanggung jawab dalam kegiatan belajar anak-anaknya. Ketika mereka melakukannya bersama-sama, akan banyak pembelajaran dan kepuasan yang dialami orang tua dan anak-anak. 

Parent want their children to make their own decisions, think for themselves, and solve their own problems. But they are reluctant to give kids independence because they fear that something will go wrong. This harms children over the long term. 

Ana Lorena Fabrega

Konsep kedua dari Nassim Taleb yang dibahas di dalam buku ini, antifragility, merupakan istilah untuk mendeskripsikan hal-hal yang justru menjadi semakin kuat ketika dipaparkan pada stress dan randomness. Tidak seperti sesuatu yang fragile, hal-hal antifragile justru memerlukan keduanya untuk tumbuh. The Learning Game menyebut bahwa anak-anak itu antifragile; mereka akan tumbuh menjadi lebih kuat ketika diizinkan menghadapi tantangan dan kesulitan moderat serta terlibat dalam konflik-konflik low-stake. Tugas kita sebagai orang tua adalah merawat antifragility mereka dengan tidak ikut campur ketika mereka menghadapi stress dalam tingkat yang masih dapat mereka kelola. 

Good parenting, like good teaching, is about mastering the art of balance. It’s about keepint a close eye, but not intervening all that much; making children feel safe and protected, but not that much either.

Ana Lorena Fabrega

Gagasan yang tidak kalah familiar berasal dari David Epstein. Dalam bukunya yang berjudul Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World, Epstein menjelaskan bahwa generalism dan specialism sama-sama kita perlukan, tetapi urutannya krusial. Generalize, then specialize — not the other way around. Ketika anak-anak menspesialisasikan diri sejak dini, mudah bagi mereka untuk terjebak dalam functional fixedness, sebuah mindset sempit di mana mereka cenderung melihat segala sesuatu hanya dalam satu cara. Mereka berpeluang besar melewatkan solusi-solusi kreatif karena mereka hanya menguasai seperangkat keterampilan saja. 

Di sisi lain, generalism dini memberikan dasar yang kokoh bagi pengetahuan yang luas sehingga anak-anak memiliki big box of thinking tools. Ini akan membantu mereka untuk berinovasi di bidang spesialisasi mereka di kemudian hari. Maka, tugas kita sebagai orang tua adalah menjalankan teknik-teknik untuk mengembangkan range pada anak-anak. Ada empat teknik yang dibahas di dalam The Learning Game, yaitu: mendukung adanya sampling period pada aktivitas dan ketertarikan baru anak-anak, mengizinkan anak-anak punya waktu luang yang cukup untuk unstructured play, memfasilitasi self-reflection setiap kali anak-anak mencoba hal baru, serta memaparkan anak-anak pada diverse learning diet. 

Menemani anak-anak mengembangkan range adalah tentang merayakan petualangan mereka menjelajahi hal-hal yang paling mereka cintai. Atau dengan kata lain, tentang membantu anak-anak menjelajahi specific knowledge. Naval Ravikant mendeskripsikan specific knowledge sebagai kombinasi aneh dari banyak faktor yang terolah ke dalam kepribadian seseorang, dan ketika diperkuat secara optimal akan menjadi kontribusi tak tergantikan dari seseorang kepada dunia. 

The Learning Game mengajak pembacanya untuk berani unlearn pelajaran yang diajarkan sekian lama oleh sekolah yang terbukti tidak sejalan untuk pertumbuhan kita. Dua di antaranya adalah tentang kegagalan dan berhenti. Alih-alih mengajarkan untuk takut membuat kesalahan, kita justru perlu mendukung dan menyemangati anak-anak untuk berani mengambil risiko, membuat kesalahan, mencoba lagi, dan move on ketika diperlukan. Dalam konteks yang tepat, mengizinkan anak-anak untuk gagal dan berhenti memberikan ruang bagi mereka untuk bereksperimen, mengambil pelajaran, dan menyelami subjek baru tanpa rasa takut. Jika kita mengkondisikan kegagalan sebagai sesuatu yang terasa menyeramkan dan asing, anak-anak tidak akan berani menjelajah. Namun jika kegagalan terasa akrab, mereka akan merasa nyaman untuk mencoba gagasan-gagasan baru yang gila. Akan tetapi, tentu tidak semua kegagalan aman dan bermanfaat. Catastrophic failure harus dihindari — dan cara terbaik untuk tidak melakukannya sebagai orang dewasa adalah justru dengan berani membuat banyak kegagalan kecil ketika masih anak-anak. 

Quit early, quit often — not because it’s hard, but because it sucks.

Deepak Malhotra

Berhenti dari melakukan sesuatu tidak serta-merta menunjukkan bahwa kita kurang gigih. Kadang-kadang, berhenti bisa lebih baik daripada tetap gigih di arah yang salah. Yang perlu kita lakukan adalah membantu anak-anak membedakan alasan bagus dan alasan buruk ketika akan memutuskan berhenti melakukan sesuatu. 

Bicara soal berhenti, ada pertanyaan yang seharusnya berhenti kita tanyakan pada anak-anak, yaitu pertanyaan tentang ingin menjadi apa ketika mereka dewasa kelak. Adam Grant berargumen bahwa lebih sehat bagi anak-anak untuk belajar melihat karier sebagai sebuah aksi untuk dilakukan, bukannya identitas untuk diklaim. Ketika anak-anak melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang mereka lakukan alih-alih sebagai siapa diri mereka, mereka akan lebih mungkin menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang berbeda. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ketika anak kelas dua dan tiga belajar ‘doing science’ alih-alih ‘being a scientist’, mereka lebih tertarik mengejar karier dalam bidang sains. 

The Learning Game juga membahas pentingnya mengembangkan keterampilan good thinking, yang dapat dilakukan dengan menggunakan tiga thinking tool yang berbeda: thinking hat, thinking in bets, dan elastic thinking. Yang pertama dirumuskan oleh psikolog Edward de Bono dalam bukunya Teach Your Child How to Think, di mana dia membagikan bagaimana orang tua dapat melatih anak-anaknya untuk menggunakan kombinasi enam thinking hat yang berbeda, yang masing-masing mewakili perspektif yang berbeda.

White hat kita kenakan ketika kita fokus pada fakta-fakta objektif, red hat ketika kita memproses suatu situasi dengan memperhatikan spektrum emosi yang kita alami, black hat ketika kita mengaktifkan proses berpikir kritis, yellow hat ketika kita dipenuhi harapan yang didukung dengan alasan-alasan logis, green hat ketika kita berpikir kreatif dan menghasilkan gagasan-gagasan baru, serta blue hat ketika kita mengamati keseluruhan proses berpikir dari perspektif yang lebih tinggi — kita waspada pada asumsi-asumsi yang kita gunakan, waspada pada thinking hat mana yang sedang kita aktifkan. Pemikir yang baik mengenakan seluruh thinking hat. Ini penting dipelajari anak-anak karena dapat melebarkan persepsi dengan menggunakan keterampilan mental yang beragam, untuk semakin mendekat pada kebijaksanaan. 

Thinking tool kedua, yaitu thinking in bets, berasal dari pemikiran Annie Duke. Bahasan ini menekankan pada pentingnya memfasilitasi anak-anak untuk belajar menguasai proses pembuatan keputusan yang baik. Empat pelajaran yang harus dipelajari untuk itu adalah: mendukung mereka untuk berpikir dalam probabilitas dengan menggunakan persentase dalam mengukur kemungkinan terjadinya sesuatu, membantu mereka untuk menjaga pikiran tetap terbuka, memberikan kesempatan pada mereka untuk bekerja bersama dalam kelompok-kelompok sehingga dapat menyadari kesalahan satu sama lain, serta membantu mereka untuk meng-update keyakinan mereka dengan melihat setiap keputusan sebagai sesuatu untuk diuji.

Soal menilai baik-buruknya suatu keputusan ini, menurut Annie Duke, bahkan orang dewasa pun mengalami masalah dalam melakukannya. Kita cenderung mudah terjebak dalam fenomena bernama resulting, di mana sebagian besar orang menilai kualitas suatu keputusan dari hasilnya. Penilaian ini tidak ‘adil’ karena ada keberuntungan yang memainkan peran besar dalam hasil suatu keputusan. Ketika hendak menilai kualitas keputusan, seharusnya kita berfokus hanya pada faktor-faktor yang dapat kita kendalikan dalam proses pembuatannya. 

Elastic thinking sebagai thinking tool ketiga yang dibahas dalam The Learning Game merupakan konsep yang disampaikan Leonard Mlodinow, seorang ahli Fisika sekaligus rekan kerja Richard Feynman. Mlodinow membedakan tiga jenis proses berpikir, yakni automatic thinking di mana proses berpikir merupakan respons refleksif terhadap situasi, analytical thinking di mana proses berpikir dilakukan tahap demi tahap secara runtut dan berhati-hati, dan elastic thinking di mana proses berpikir yang terjadi merupakan koneksi spontan yang kreatif.

Elastic thinking sangat penting untuk memecahkan masalah yang belum pernah dihadapi manusia sebelumnya, sehingga sangat penting dimiliki di dunia modern di mana perubahan terjadi dengan sangat cepat. Oleh karena itu diperlukan pergeseran pendekatan pendidikan. Anak-anak perlu banyak kesempatan untuk mengembangkan keterampilan elastic thinking. Caranya adalah dengan melakukan kebalikan dari yang dilakukan sekolah-sekolah tradisional, yaitu mengizinkan anak-anak untuk mengikuti intuisi alami mereka alih-alih mengikuti instruksi dari orang-orang dewasa, memiliki kesempatan yang luas untuk asyik dalam unstructure play (lagi-lagi!), dan mengejar proyek-proyek dan eksperimen mereka sendiri sehingga mereka memiliki ruang untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas. 

Dalam The Learning Game, Ms. Fab menyimpulkan hasil dari pengamatannya sepanjang menjadi guru bahwa proses yang berlangsung di sekolah (game of school) bukanlah game of learning, sehingga tidak relevan untuk dijadikan bekal mengarungi game of life. Rasa ingin tahu dan haus akan ilmu yang tertanam secara alami pada anak-anak sangat berpeluang untuk luntur ketika aktivitas belajar menjadi sebuah keharusan. Anak-anak tidak punya pilihan atas apa yang mereka pelajari pada waktu tertentu, pada kecepatan berapa mereka mempelajari suatu materi, serta bagaimana materi-materi itu dipresentasikan. Sekolah menjadi antitesis dari ruang di mana anak-anak dapat mengalami tiga sumber motivasi manusia menurut teori self-determination: autonomy, competency, dan relatedness. 

Tapi tenang, membaca buku ini bukan berarti terus-terusan diusik oleh kecemasan tentang dunia pendidikan yang dimulai dari sebuah pergeseran besar pada sekitar 200 tahun lalu di kawasan Jerman bernama Prussia. Kekalahan besar dari pasukan Napoleon mendorong pemerintah Prussia untuk mengambil alih kerja pendidikan dari yang sebelumnya merupakan ranah orang tua, tutor privat, dan gereja. Model pendidikan yang mereka ciptakan — dengan gedung-gedung khusus sebagai sekolah, guru-guru yang tersertifikasi, kurikulum yang terstandardisasi, tahun ajaran yang baku, dan tuntutan kehadiran wajib — terbukti berhasil mencetak angkatan bersenjata terkuat di dunia. Model pendidikan ini mendorong tingkat literasi meningkat dengan pesat. Tapi jangan lupa, ada harga yang harus dibayar, yaitu pendidikan menjadi alat indoktrinasi. 

Di dalam The Learning Game bisa kita jumpai banyak konsep usang untuk dilepaskan karena tidak lagi relevan dengan dunia saat ini, juga banyak trik untuk coba diterapkan dalam menemani anak-anak bertumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat, sesuai dengan pada spektrum mana kita memilih berperan dalam pendidikan anak. Selalu ada yang dapat dilakukan, baik pada anak-anak yang berangkat ke sekolah formal maupun yang tidak. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *