Selama lebih dari satu setengah tahun tinggal di Merauke, salah satu tempat yang cukup sering kami kunjungi adalah Taman Nasional Wasur.

Ada Musim yang Bekerja
Ketika pertama kali kami mengunjungi Taman Nasional Wasur pada awal Desember 2023, kondisi tanahnya sangat kering dan keras; tampak retakan di beberapa area. Rerumputan berwarna cokelat kekuningan. Panas matahari memancar tanpa ampun, tanpa penghalang, membuat kami masuk angin hingga dua minggu setelahnya.
Tapi, ketika kami kembali mengunjunginya pada bulan April sampai Mei, area yang sama menjelma telaga — tergenang air sehingga kami tak bisa masuk lebih dalam. Ikan-ikan kecil muncul entah dari mana. Rumput dan ilalang juga jadi jauh lebih hijau, dan hutan terasa jauh lebih rapat dibanding sebelumnya.
Lalu pada bulan Juni, genangan masih ada tapi berkurang kedalamannya. Warna hijau masih ada tapi mulai bercampur sedikit cokelat.
Siklus tahunan yang menghasilkan perubahan lanskap secara drastis ini ternyata justru mendukung bertahan dan bertumbuhnya Wasur sebagai satu kesatuan ekosistem.
Periode kering pada musim kemarau ternyata bukan sebuah pengurang untuk kekayaan yang disediakan periode basah pada musim penghujan. Keberadaan keduanya melahirkan kekayaan habitat yang mampu menampung seluruh makhluk hidup di dalamnya, menyediakan ruang singgah ideal bagi burung-burung migran, serta melatih satwa dan tetumbuhan untuk mengembangkan kemampuan yang adaptif terhadap perubahan.
Siklus ini juga mendukung mekanisme alami pengendalian populasi hama dan tanaman yang terlalu mendominasi. Dengan kata lain, keduanya menciptakan keseimbangan.
Seperti hidup, yang mengalir dalam musim-musim yang silih berganti. Setiap musim menawarkan keberlimpahan dalam rupa yang tak sama, meminta bentuk kerja yang berbeda untuk menyiasatinya, tapi mensyaratkan satu hal yang sama: kelapangan menerima adanya pergantian musim.
Kesadaran Transpersonal
Suku Marind — masyarakat adat yang mendiami bagian besar distrik-distrik di Kabupaten Merauke — memiliki kesadaran dalam kosmos mereka tentang adanya supernatural being yang dinamakan Dema. Dema adalah leluhur orang Marind yang selalu menyertai kehidupan mereka. Sosok ini kemudian diwujudkan dalam totem-totem yang khas bagi tiap marga. Ada yang totemnya wallaby, buaya, matahari, dan lainnya.
Tapi tampaknya kesadaran transpersonal ini bukan khas milik orang Marind saja, melainkan kesadaran kolektif yang juga bisa ditemukan pada suku-suku lain di seluruh belahan dunia. Kesadaran primordial ini diam-diam juga masih ada pada orang-orang modern, hanya saja kita makin kekurangan perbendaharaan kata untuk menamainya.
Kita saling terhubung — dalam cara-cara yang tidak sepenuhnya kita pahammi, tentu saja — dengan alam dan seluruh penghuninya (di mana kita adalah anak bungsu kemarin sore), dengan masa lampau dan masa yang belum ada, juga dengan entitas-entitas yang tak kasat mata.
Penghormatan kepada alam adalah penghormatan kepada leluhur, dan demikian juga adalah bentuk penghormatan kepada diri kita sendiri.
Bekal Mencari
Selain rusa, kasuari di dalam kandang, burung-burung, semut rangrang berperut hijau, dan ikan-ikan kecil di musim basah, rasa-rasanya tak ada lagi binatang yang kami temui di Wasur.
Padahal berdasar data, ada keanekaragaman hayati yang sangat kaya di sana. Ada ratusan spesies burung serta puluhan spesies mamalia, reptil, ikan, serangga, juga beberapa spesies amfibi.
Kemudian saya tersadar telah melakukan dua kesalahan fatal dalam harapan saya berjumpa banyak satwa di sana.
Pertama, mencari di waktu yang salah.
Sebagian besar satwa Wasur bersifat nokturnal, sehingga mengharapkan perjumpaan pada siang bolong pastinya tanda-tanda orang keblinger.
Kedua, mencari di tempat yang salah.
Kami tidak punya sumber daya (akses, waktu, ketahanan fisik, dan nyali hehe) yang cukup untuk menjelajahi seluruh wilayah Wasur, padahal ada sabana dan rawa teramat luas jauh di dalamnya. Beberapa hali ke sana, kami hanya menjangkau Wasur dalam radius yang sangat kecil.
Tampaknya, mencari memang mesti berbekal pengetahuan tentang yang dicari. Beruntunglah kita hidup pada periode sesudah yang kita cari-cari menceritakan Diri-Nya dalam bahasa yang kita pahami.

Leave a Reply