Saya tidak punya banyak kenangan tentang kehidupan belajar di sekolah. Dari yang sedikit itu, ada satu yang saya nggak lupa-lupa.
Jam pelajaran IPA di kelas tiga SD. Guru kelas menuliskan ciri-ciri makhluk hidup di papan tulis dan meminta kami menyalinnya di buku catatan. Bernapas, bergerak, makan, tumbuh dan berkembang, berkembang biak, serta peka terhadap rangsang. Maka alien tidak mungkin ada, kata Bu Guru, sebab tak ada oksigen di luar angkasa.
Saya mencoba bertanya, bukankah daftar ciri-ciri makhluk hidup bisa begitu justru karena kita belum pernah bertemu dan mengamati alien? Saya tidak mendapat jawaban untuk ini, karena yang dilakukannya hanyalah mengulang pernyataannya tadi.
Saya iya-iya saja, tapi diam-diam berharap bahwa pernyataan Bu Guru bisa terbukti salah suatu hari nanti. Saya ingin berkata bahwa ketidaktahuan kita bukanlah batas untuk realitas yang sebenar-benarnya, tapi saya urung melakukannya.
Belakangan, ketika obyek antarbintang 3I/ATLAS terdeteksi memasuki sistem tata surya kita pada tanggal 1 Juli 2025, kenangan ini menyeruak ke permukaan. Tidak banyak pemberitaan tentang obyek ini dari NASA maupun ESA, kecuali bahwa 3I/ATLAS adalah komet alami.
Kemudian saya bertemu dengan tulisan-tulisan Avi Loeb di Medium tentang 3I/ATLAS yang banyak mengandung anomali dan punya kemungkinan merupakan teknologi alien. Tulisannya ada banyak sekali — kebanyakan esai, dan Avi Loeb juga membagikan unggahan preprint-nya di arXiv. Tidak hanya menyajikan data-data terbaru tentang 3I/ATLAS, tulisan-tulisan Professor Avi Loeb ini juga seperti bensin yang disiramkan ke bara keingintahuan masa kanak-kanak saya.
3I/ATLAS dan Anomali-Anomalinya
Obyek antarbintang 3I/ATLAS diberi nama demikian karena dia merupakan obyek antarbintang (Interstellar) ketiga yang terkonfirmasi masuk ke dalam tata surya kita, dan pertama kali dideteksi oleh salah satu teleskop pada sistem Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) yang berlokasi di Observatorium El Sauce, Chile. Dua obyek antarbintang yang mendahuluinya diberi nama 1I/‘Oumuamua dan 2I/Borisov.
Dari ketiganya, 1I/‘Oumuamua dan 3I/ATLAS menunjukkan anomali, kontras terhadap 2I/Borisov yang konsisten menunjukkan aktivitas komet alami. ‘Oumuamua punya bentuk yang aneh, entah sangat memanjang atau sangat pipih seperti pancake — bentuk yang belum pernah terlihat pada asteroid atau komet. ‘Oumuamua juga menunjukkan percepatan non-gravitasi, tidak memiliki ekor, dan memiliki daya pantul (reflektivitas/albedo) yang tinggi. Cara datangnya pun sangat aneh. Sebelum masuk ke tata surya dan ditarik oleh gravitasi Matahari, ‘Oumuamua berada dalam kondisi yang sangat diam relatif terhadap rata-rata pergerakan bintang-bintang di galaksi kita, seperti sedang parkir.
Avi Loeb kemudian mengajukan hipotesis bahwa ‘Oumuamua mungkin merupakan layar cahaya (light sail) buatan, atau puing-puing dari teknologi ekstraterestrial yang sudah tidak berfungsi. Sementara itu, komunitas sains tampaknya bersepakat menolaknya, dan lebih memilih menjelaskan keanehan-keanehan itu dengan memasukkan ‘Oumuamua dalam kategori baru bernama ‘dark comet’, atau benda langit yang memiliki es dan mengeluarkan gas sehingga punya pola pergerakan yang serupa dengan komet tetapi tidak melepaskan debu yang cukup untuk memantulkan cahaya sehingga ekornya tidak tampak.
Berbeda dengan ‘Oumuamua yang baru terdeteksi dalam perjalanannya meninggalkan tata surya, 3I/ATLAS terdeteksi lebih awal. Hingga hari ini, sudah ada 18 anomali yang ditunjukkan oleh 3I/ATLAS menurut Avi Loeb.
Lintasan 3I/ATLAS terlalu selaras dengan bidang orbit planet-planet di sekeliling Matahari, sesuatu yang nyaris mustahil bagi batuan angkasa alami. Sekitar 0,2% probabilitasnya. Dia juga datang di waktu yang terlalu tepat, seolah-olah dijadwalkan dengan hati-hati, sedemikian rupa sehingga ia tersembunyi dari pandangan Bumi ketika mencapai titik terdekat dengan Matahari, sekaligus memungkinkannya melakukan manuver tepat di garis batas gravitasi Jupiter — sebuah titik ideal jika memang dia punya agenda melepas satelit pengintai. Di titik itu, efisiensi bahan bakarnya paling tinggi.
Dibandingkan dengan ‘Oumuamua dan Borisov, 3I/ATLAS punya massa yang jauh lebih besar tetapi justru bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Mungkin ini sebuah tanda bahwa ia menargetkan bagian dalam tata surya, bukan sekadar melayang-layang melewatinya.
Perilakunya juga menunjukkan anomali demi anomali dari komet antarbintang alami. Alih-alih menyemburkan gas secara acak, 3I/ATLAS memancarkan jet partikel yang sangat lurus dan terfokus ke arah Matahari, seolah sedang membuat perisai untuk melawan angin surya. Pemrosesan citra Hubble pada Januari 2026 bahkan mengungkap adanya tiga mini-jet yang tersusun secara simetris, masing-masing membentuk sudut 120 derajat satu sama lain. Selain itu, 3I/ATLAS juga memiliki kemampuan isolasi termal yang tidak wajar, di mana sisi gelapnya tetap dingin sempurna meskipun sisi lainnya terpapar panas ekstrem.
Anomali juga terjadi pada komposisi bahan-bahan penyusunnya yang lebih menyerupai produk industri daripada batuan kosmik. Awan gasnya didominasi nikel dengan rasio yang mirip logam buatan. Partikel debunya juga memiliki karakteristik fisik yang membingungkan — cukup besar untuk menahan angin surya, tapi memiliki massa yang terlalu ringan daripada yang seharusnya, seperti material buatan yang sangat tipis tapi sangat kuat.
3I/ATLAS juga kebetulan datang dari arah datangnya sinyal radio misterius “Wow Signal” yang terdeteksi pada tanggal 15 Agustus 1977 oleh teleskop radio Big Ear di Ohio State University. Jika dihitung-hitung, tiga hari sebelumnya 3I/ATLAS sedang berada pada jarak 600 AU (600 kali jarak Bumi dan Matahari), sekitar tiga hari perjalanan cahaya, dalam koordinat langit yang sangat berdekatan dengan sumber sinyal tersebut.
Atas hipotesis-hipotesisnya ini, terkait ‘Oumuamua, 3I/ATLAS, maupun UAP (Unidentified Anomalous Phenomena — sebuah istilah baru untuk menggantikan dan memperluas cakupan UFO dan Unidentified Aerial Phenomena yang terlalu sempit), Avi Loeb mendapat perlawanan keras dari ilmuwan-ilmuwan lain. Mereka menganggap Loeb telah melakukan lompatan kesimpulan yang terlampau sembrono. Hanya karena suatu obyek menunjukkan inkonsistensi dengan ciri obyek alami yang serupa dengannya, bukan berarti obyek itu merupakan artefak teknologi alien.
Hipotesis Loeb dinilai mengkhianati metode ilmiah dengan berangkat dari obsesinya pada alien alih-alih dari data yang ada. Loeb sudah punya kesimpulan sejak semula dan bekerja terbalik untuk sampai pada kesimpulan itu. Omong kosong, delusional, cari sensasi, menghina kerja ilmuwan lain, penipu, termakan teori konspirasi, berspekulasi tanpa dasar, bahkan tidak punya integritas data dan bahkan integritas moral.
Loeb sendiri tampaknya menikmati serangan-serangan dari komunitas sains yang menuduhnya secara keras, memposisikan dirinya sebagai Galileo Galilei modern. Ia sering mengatakan rekan-rekannya dalam komunitas sains sebagai medioker, membosankan, takut salah, malas, dan cemburu.
Di dunia astrofisika teoretis modern, posisi Avi Loeb memang sangat solid sehingga tampaknya kontroversi yang terjadi tentangnya tidak merobohkannya. Sebelum hipotesis soal alien, Loeb sudah membangun reputasi akademik yang masif dan dihormati dan punya kredensial institusional kelas berat.
Loeb bukan orang gila yang berteriak-teriak di pinggir jalan. Dia adalah raksasa dalam astrofisika teoretis: mantan Ketua Departemen Astronomi Harvard selama hampir satu dekade, direktur institut bergengsi, dan ketua komite penasihat Breakthrough Starshot bersama Stephen Hawking. Kredensialnya mentereng, yang justru membuat ‘pembangkangan’-nya terhadap konsensus ilmiah terasa semakin berbahaya dan meresahkan bagi rekan-rekannya.
Proyek terbarunya, The Galileo Project, yang merupakan tindak lanjut dari hipotesisnya, menjadi proyek penelitian ilmiah pertama di lingkungan akademis yang secara sistematis mencari bukti artefak teknologi ekstraterestrial menggunakan instrumen-instrumen canggih.
Berbeda dengan SETI Institute yang mencari tanda-tanda kehidupan di luar Bumi dengan menambang sinyal elektromagnetik, Loeb mencari artefak. Menurutnya, peradaban alien sangat mungkin jauh lebih tua daripada peradaban manusia, dan mungkin sudah berakhir jutaan tahun yang lalu. Manusia meluncurkan wahana-wahana antariksa, maka mungkin hal yang sama juga dilakukan oleh alien.
Batas Realitas
Sebagai orang awam, saya pernah berkeyakinan bahwa alien hampir pasti ada (kalau yang ini tentu tanpa dasar haha!). Sebab jika tidak, bukankah alam semesta sebesar ini sia-sia? Rasa-rasanya drama penciptaan akan jauh lebih seru ketika kita bukan satu-satunya pusat di dalam cerita itu.
Tapi tunggu, bukankah otak manusia terbangun untuk menangkap pola, untuk menciptakan koherensi, untuk mengisi ruang-ruang ketidaktahuan dengan apapun yang terasa lebih nyaman?
Kemudian saya mencoba membayangkan skenario lain. Jika alien ternyata memang tidak ada dan kita benar-benar melayang sendirian di jagat yang mengerikan luasnya, gimana? Bersandar pada keyakinan bahwa sosok Tuhan pasti ada — dengan segala Kehendak-Nya yang tidak harus masuk akal di akal manusia dengan segala batas-batasnya, tentu ada alasan untuk ini. Yang pasti bukan kesia-siaan. Mungkin bahan ajar untuk mengenal skala — baik ruang maupun waktu, sebagai pendorong untuk menumbuhkan diri (baik ekspansi pengetahuan maupun eksplorasi ke dalam) atau entah sebagai apa yang tak pernah terpikirkan.
Saya pikir ini adalah skeptisisme sehat.
Tapi ternyata tidak lengkap. Melihat Avi Loeb, saya menyaksikan bagaimana mengejar kebenaran obyektif itu menyajikan seluruh kemungkinan di meja, mengejar bukti seluas-luasnya, dan — anehnya — berani mengambil sikap sesuai derajat kemungkinan kebenaran yang kita peroleh dan menerima seluruh risikonya, termasuk risiko terbukti salah. Menjadi ‘berat sebelah’ tidak selalu buruk, sebab itu sangat mempengaruhi apa, di mana, bagaimana, dan sekeras apa kita mencari data.
Melihat keberanian Loeb, saya jadi teringat kembali pada diri saya yang kelas tiga SD itu. Mungkin, batas realitas bukanlah ketidaktahuan kita, melainkan ketakutan kita untuk terlihat bodoh ketika bertanya, “Bagaimana jika?”.
